Rabu, 27 Oktober 2010

KARAKTERISTIK SUFISME PERKOTAAN


Jika diperhatikan ada beberpa yang menjadi ciri khas sufi perkotaan, artinya mereka tampil berbeda dengan para sufi konvensional yang berangkat dari pesantren, majlis ta’lim atau aliran/tarekat tertentu. Diantaranya adalah;
-          Peserta
-          Materi Kajian
-          Pakaian
-          Tempat

  1. Pola peserta sufi perkotaan tidak sama seperti lazimnya pengajian tasawwuf di pesantren atau majelis ta’lim pada umumnya datang dari masyarakat yang sifatnya heterogen bukan dari kalangan tertentu. tetapi sufisme perkotaan mempunyai jamaah yang datang dari kalangan tertentu. Mereka datang dari berbagai daerah di Jabodetabek, dengan mengendarai kendaraan sendiri. Penampilan mereka begitu rapi dan trendy lengkap dengan gaya kehidupan perkotaan. Karena memang mereka kelompok orang yang berpunya (the Have). Bisa jadi akomodasi yang digunakan dengan fasilitas hotel atau gedung pertemuan berkelas. Walaupun demikian banyak mereka yang sudah terbiasa hidup dengan model sufi banyak seperti zikir, salat malam, puasa sunnah, membantu sarana pendidikan Islam, bahkan tidak sedikit yang mempunyai anak asuh. Yaitu membiayai anak yatim-piatu/fakir miksin sampai selesai pendidikan formalnya. Secara lahiriah bisa jadi penampilan mereka mewah tetapi akhlak dan perhatiannya terhadap agama begitu besar.bahkan bisa mengalahkan mereka yang secara formal mempunyai kemampuan keagamaan yang baik..
  2. Dalam Materi Kajian, kitab yang mereka gunakan kebanyakan kitab yang mengajarkan serta membangun rasa spiritual yang tinggi, gemar ibadah, banyak zikir dan membaca sejarah rasul dan sahabat. Diantaranya adalah Minhajul Abidin, Hazinul Asrar, Ihya Ulumuddin atau Kitab Kifayatul Atqiya, kajian Shahih Bukhari. Mereka bukan saja mempelajari tetapi juga mengkaji secara mendalam agar dampak positif paham dan nilai tasawwuf pada zaman modern seperti ini dapat menjawab semua persoalan yang terjadi pada banyak sektor, terutama yang menyangkut karir mereka yang dominan memperebutkan dan memburu sesuatu yang sersifat materialistis saja. Karena segala persoalan rutin mereka yang terkadang begitu mencari penyelesainnya tidak bisa ditemui jawaban dan penyelesaiannya kecuali melalui kajian sperti ini. Tidak jarang mereka melakukan qiyamul lail secara berjamaah dilanjutkan dengan zikir tertentu dengan jumlah yang ditentukan pula. Dengan demikian pertahanan spiritual mereka semkain mengakar sehingga pola dan penampilan mereka bisa menjadi manusia yang mampu mangaplikasikan doa bahagia hidup dunia dan akhirat.
  3. Pakaian adalah salah satu identitas sufi perkotaan. Cara berpakaian seringkali yang serba putih lengkap dengan simbol guna mengetahui dari kelompok mana mereka berasal bahkan dilengkapi bendera. Ternyata pakaian ini sangat membantu keberadaan mereka seperti menambah popularitas rasa kebersamaan dan persatuan yang pada akhirnya akan bertambah jamaahnya. Ada satu hal yang menarik dari pakaian yaitu secara filosofis warna putih di samping memang sunnah Rasul. Tetapi mengajak mereka untuk lebih banyak mengingta mati, bahkan kematian tidak mengenal waktu, tepmat dan usia. Kematian sangat misterius. Di sinilah betapa besar pengaruh warna puthi terhadap eksistensi mereka dalam melakuka kegiatan.
  4. Salah satu mereka tampil beda dari keoompok kajian tasawwuf lain adalah tempat mereka lebih representatif. jauh dari keramaian, banyak di perumahan pribadi atau terkadang di hotel berbintang. Sekali-kali mengambil tempat di masjid bahkan di lapangan terbuka. Tetapi tetap saja mereka membaur dengan komnutas lain. Perbedaan yang ada pada mereka tidak mendatangkan kecurigaan, atau ada rasa sentimen klelompok. Mereka saling menjaga nama baik. Mereka tidak ingin berpindah, para guru, kyai, mursyid tetap membimbing jamaaahnya dengan rasa istiqamah yang merupakan bagian yang terpenting. Baik dalam mengamalkan dan menjalankan kajian tasawwuf, atau pada menjaga rasa memiliki jamaahnya. Jika akan diadakah acara memperingati kelahiran tokoh (haul) atau hari-hari besar Islam, semakin ramai jamaah yang datang. Bukan saja yang berada di wilayah sekitar Ibu Kota melainkan juga dari luar kota. Lokasi dihias seindah mungkin, penuh dengan atribut, bendera, umbul-umbul, spandunk. Pengelolaan tempat memang tertata seallu rapi, baik pada pengajian biasa teristimewa pada acara khusus. Ternyata tempat mereka juga sering dikunjungi oleh pejabat, politisi, sipil atau militer. Tempat yang istimewa merupakan kelebihan mereka. Bahkan menjadi karakteristik tersendiri yang bila dibandingkan dengan kajian sufi pada umumnya masa lalu khususnya yang berangkat dari pesantren yang lebih berkesan apa adanya.

Jadi Munculnya fenomena sufi perkotaan mempunyai dampak positif dan kesan tersendiri bagi masyarakat Jakarta sebagai ibukota negara. Diantaranya adalah mengurangi kesan negatif walaupun tidak secara menyeluruh. Jakarta sebagai ibukota yang berpenduduk individualistis, hedonis, materialistis, huru-hara kurang memperhatikan hidup bernuansa agamis. Betapa tidak, dengan banyak munculnya berbagai pengajian (majelis ta’lim) yang menghantarkan para jamaahnya kepada hidup yang berpolakan sufisme, sangat membantu pemerintah khususnya Pemda DKI Jakartamenjadi kota yang sejuk dan bernuansa santri. Terutama pada malam hari, hingar-bingar kota dapat terminimalisasi, paling tidak ada fenomena lain yang bersifat religi. banyak kalngan muda dari anak sekolah, mahasiswa, pengusaha, entertainer, politikus, budayawan, yangmengaktifkan diri dalam meningkatkan kehidupan rohani mereka. Semula mereka merasa gersang menghadapi hidup ini, karena jiwa mereka kering dengan wawasan agama. Setelah tidak terlalu lama, perubahan religiusnya berbeda jauh. Inilah yang membuat para pencari ketenangan jiwa memburu dan aktif mengikuti pengajian yang menghantarkan mereka menjadi manusia paripurna dalam pengertian kebutuhan jasmani yang seimbang dengan kebutuhan rohani. Dan itulah tujuan hidup seorang muslim. Tidak bisa ada perbedaan yang fantastis walaupun begitu memasuki hari tua intensitas kehidupan ukhrawi harus jauh lebih banyak prestasinya. Inilah yang dapat Penulis cermati, bahwa kalangan tua lebih menaruh perhatian khusus pada hal-hal yang bersifat ukhrawi karena memang sudah waktunya.
            Jika diperhatikan mereka yang sudah terikat jauh dengan kehidupan sufi, waktu yang ada mereka tidak ada yang terbuang secara percuma. Di rumah, di tempat usaha atau kerja, di jalan, sendiri atau keadaan ramai tidak menghilangkan rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Banyak sikapnya yang ditunjukkan mempunyai nilai ibadah. Seperti berdzikir, membaca al-Quran, salawat dan istighfar walaupun secara fisik tidak terlihat secara jelas. tetapi hati dan mulut mereka keuar kalimat-kalimat thayyibah, yang pada akhirnya akan membentuk manusia optimis dan cerdik karena segala apa yang diperbuat akan membawa hasil baik di dinuia maupun akhirat. karena kehidupan tasawwuf bukan mengajak manusia untuk menjauhi dunia apalagi bermalas-malasan yang waktunya habis dengan obat terlarang, minuman keras dan dugem dengan lainnya hilang, mereka menyibukkan diri dengan aktivitas ibadah. Tetapi sebaliknya, dunia dijadikan alat untuk memperolehhidup seoptimal mungkin. Sebaiknya kita benar-benar di Indonesia mampu membuka diri kotanya dipenuhi oleh para pelaku hidup sufi. Sebab ini mrupakans alah satu upaya peningkatan sumber daya manusia yang komplit. Pola hidup konsumtif, sela jabatan, korupsi, tidak disiplin dapat dikikis secara lambat laun yang pada akhirnya menghasilkan manusia yang berakhlakul karimah.

DAFTAR PUSTAKA

§  Abdul Khaliq DR, Abdurrahman Ctc, Pemikiran Sufisme di bawah Bayang-bayang Fatamorgana, Jakarta, Amzah, 1998
§  Prof. DR. Hamka, Tasawwuf Modern, Jakarta, Panji Mas, 1987
§  Prof. DR. Hamka, Tasawwuf dan Sufi, Jakarta, Panji Mas, 1983
§  Ary Ginanjar, ESQ, Arga, 2003
§  Mahjuddin, Kuliah Akhlaq Tasawwuf, Jakarta, Ilmu Kalam, 1991
§  Atjeh, Aboebakar, Pengantar Sejarah Sufi dan tasauf, Solo, 1989
§  Mahmud, Abd Halim, Hal Ihwal Tasawwuf, Jakarta, terjemahan
§  Ghamini at-Tafzani, Abu al-Wafa, Filsafat dan Mistisisme dalam islam, Jakarta, 1992
§  Qadir Djaelani, Abdul, Kereksi Terhadap Ajaran tasawwuf, Jakarta, Gema Insani Press, 1996
§  Nata, Abudin, Akhlak Tasawwuf, Jakarta, PT. Grafindo Persada, 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar