Minggu, 10 Oktober 2010

MENGENAL METHODE TARGHIB DAN TARHIB


ABSTRAK
Keberhasilan seorang Pendidik di kelas dalam menyampaikan materi dikelas dan dapat diresrpon dengan baik oleh peserta didik, bukan saja kebutuhan kompetensi guru dalam menguasai materi pembelajaran, tetapi ada unsur lain yang juga cukup menentukan berhasil tidaknya proses pembelajaran di klas yaitu methode.
Seorang guru harus pandai dan piawai dalam menggunakan metode di hadapan muridnya.Satu diantaranya adalah methode Tarhib dan Targhib. Kedua metode ini sangat membantu guru dan siswa saling berinterkasi dalam  menuju keberhasilan. Dalam metode ini guru bisa memberikan harapan yang menyenangkan  bahkan hadiah kepada siswa yang berhasil dan memenuhi persyaratan kognitif tanpa merusak tujuan pembelajaran dan tidak menyinggung siswa yang gagal karena dilakukan dengan cara yang demokratis ( Targhib ). Sementara anak didik yang gagal kerena melanggar aturan pembelajarandan tidak memenuhi persyaratan kognitif  dapat ancaman bahkan dihukum ( Tarhib )
Metode ini dalam pendidikan Islam sudah begitu dikenal, tetapi sayang beberapa dekade  belakngan ini kurang populer lagi kerena banyak pendidik islam sendiri lebih menyukai konsep barat yang cenderung mengenyampingkan aspek apektif  yang dapat menghilangkan ke fitrian tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membentuk manusia bukan saja pandai keintelektualannya, tetapi juga aspek spritualnya perlu di bangun secara serempak.
Disamping itu methode ini bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist yang sudah pasti kebenarannya karena  sesuai dengan pertumbuhan manusia baik dari aspek rohani atau jasmani. Hemat Penulis sudah mendesak waktunya kita kembali kepada ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan terutama dalam dunia pendidikan agar terbentuknya manusia yang komplit ilmunya dan baik ahlaqnya.    
  1. PENDAHULUAN


Seperti diketahui dalam menjalani kehidupannya manusia sebagai subyek telah ditetapkan oleh Allah SWT. mengelola bumi beserta isinya. Untuk memenuhi  misi tersebut  manusia tidak mungkin  tanpa ilmu pengetahuan. Proses belajar sesuatu yang harus dijalankan, baik melalui orang terdekat (non-formal) atau lewat lembaga resmi secara berjenjang (formal) Dalam proses belajar itulah kemudian tercipta perubahan moral yang bersipat lebih baik.Ciri perubahan yang mendasar antara lain terjadinya perkembangan  interanal diri manusia baik pada peningkatan intelektual (science) atau spritual (iman tan taqwa).
Dalam kehidupan moderen seperti sekarang ini, produk pendidikan sering kali diukur dari perubahan kemajuan material dalam bentuk meningkatnya pemuasan kebutuhan manusia (jasmani), padahal kebutuhan manusia tidak sekedar pemenuhan material, jika itu saja yang menjadi tujuan dan ukuran dapat  menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam sebut saja, kehidupan rohaninya. Alhasil , produk pendidikan tidak menginginkan kemudian Cuma menghasilakn manusia yang cerdas dan trampil untuk melakukan pekerjaan, tetapi tidak peduli terhadap lingkungan sekitar baik hubungan antar manusia , terutama yang berhubungan dengan kewajiban beribadah sebagai seorang muslim. Ilmu pengetahuan dan kepandaiannya  dikembangkan menjadi instrumen kekuasaan untuk memperdayai orang lain, dan memperoleh kekayaan dari jalur yang menrugikan orang lain. Tentu saja hal ini tidak kita inginkan apalagi terjadi dalam lingkungan pendidikan islam.
Ketidakberhasilan tertanamnya nilai-nilai rohaniah terhadap peserta didik dewasa ini, menurut  Qomari Anwar sangat terkait dengan dua faktor penting , di samping tentu saja banyak faktor-faktor lain . Kedua faktor tersebut adalah  mentalitas pendidik dan metode pendidikan [1] terkait dengan hal terakhir yang disebutkan, menurut al- Nahlawi , dalam al Qur’an dan as-Sunnah sebenarnya terdapat berbagai metode pendidikan yang bisa menyentuh perasaan dan membangkitkan semangat keagamaan. satu diantara metode –metode tersebut adalah metode targhib dan tarhib.

  1. Pengertian Tarhib dan Targhib

Secara etimologis, kata targhib diambil dari kata kerja  raghaba  yang berarti menyenangi, menyukai dan mencintai. Kemudian kata itu diubah menjadi menjadi kata benda targhib yang mengandung makna Suatu harapan utuk memperoleh kesenangan, kecintaan, kebahagiaan.
Semua itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang dapat merangsang seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya. Secara psikologis, cara itu akan menimbulkan daya tarik yang kuat untuk menggapainya.
Sementara itu istilah  tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti menakut- nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang  berarti ancaman hukuman[2].
Dari asal kata tersebut, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan yang membuat senang terhadap suatu yang maslahat, terhadap kenikmatan atau kesenangan akhirat yang baik dan pasti, serta suka kepada kebersihan dari segala kotoran, yang kemudian dilanjutkan  dengan melakukan amal soleh dan kebajikan dan menghindari diri dari kenikmatan  selintas, temporer yang bermuatan negative atau perbuatan buruk. Sementara tarhib ialah suatu ancaman atau siksaan sebagai akibat dari megerjakan hal yang negative yang mendatangkan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah SWT. Atau lengah dalam mejalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT[3].

  1. Posisi  Targhib dan Tarhib
  1. Targhib
Penghargaan atau hadiah dalam pendidikananak akan memberikan motivasi untuk terus meningkatkan atau paling tidak memperahankan prestsi yang  telah dicapainya, di lain pihalk temannya yang melihat akan ikut termotifasi untuk memperoleh yang sama.Sedangkan sangsi atau hukuman sangat berperan penting dalam pendidikan anak sebab pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk anak kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati[4].
Secara psikiologis dalam diri manusia ada potensi kecendrungan berbuat kebaikan dan keburukan (al fujur wa taqwa). Oleh karena itu pendidikan Islam berupaya mengembangkan manusia dalam berbagai  cara guna melakukan kebaikan dengan berbekal keimanan. Namun sebaliknya pendidikan Islam berupaya semaksimal mungkin menjauhkan manusia dari perbuatan buruk  dengan berbagai aspeknya. Jadi tabiat ini perpaduan antara kebaikan dan keburukan , sehingga tabiat baik harus dikembangkan dengan cara memberikan imbalan, penguatan dan dorongan. Sementara tabiat buruk  perlu dicegah dan dibatasi ruang geraknya.
Seorang anak yang pandai dan selalu menunjukkan hasil pekerjaan yang baik tidak perlu selalu mendapatkan hadiah (reward) sebab dikhawatirkan hal itu bias berubah menjadi upah dan itu sudah tidak mendidik lagi. Di sinilah dituntut kebijaksanaan seorang guru sehingga pemberian hadiah ini sesuai dengan tujuannya yaitu memberikan motivasi . Dalam hal tertentu, bisa jadi yang mendapatkan hadiah  itu adalah seluruh siswa, bukan hanya yang berprestasi saja[5].
Mengingat itu , Ngalim Purwanto membagi  jenis ganjaran seperti sebagai berikut adalah:
1.         Guru mengangguk-angguk  tanda senang dan membenarkan sesuatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.
2.         Guru memberi kata-kata yang mengembirakan ( pujian )
3.         Dengan memberikan pekerjaan yang lain, misalnya engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar karena soal sebelumnya bisa kau selesaikan dengan sangat baik
4.         Ganjaran yang ditujukan kepada seluruh siswa, misalnya dengan mengajak bertepuk tangan untuk seluruh siswa atas peningkatan prestasi rata-rata kelas tersebut
5.         Ganjaran berbentuk ganda, misalnya pensil, buku tulis, coklat dll.Tapi dalam hali ini guru harus sangat berhati-hati dan bijaksana sebab dengan benda-benda tersebut hadiah bisa berubah menjadi upah[6].

  1. Tarhib
Hukuman (Punishment) dalam pendidikan mempunyai porsi penting, pendidikan yang terlalu bebas dan ringan  akan membentuk anak didik yang tidak disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Namun begitu sangsi yang baik adalah tidak serta merta dilakukan, apalagi ada rasa dendam. Sangsi dapat dilakukan dengan bertahap, misalnya dimualai dengan teguran, kemudian diasingkan dan seterusnya dengan catatan tidak menyakiti dan tetap bersipat  mendidik.
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu membagi hukuman menjadi dua yakni ;
1.         Hukuman yang dilarang, seperti memukul wajah, kekeraan yang berlebihan, perkataan buruk, memkl ketika marah, menendang dengan kaki dan sangat marah.
2.         Hukuman yang mendidik dan bermenpaat, seperti memberikan nasihat dan pengarahan, mengerutkan muka, membentak, menghentikan kenakalannya, menyindir, mendiamkan, teguran,duduk dengan menempelkan lutut keperut, hukuman dari ayah, menggantungkan tongkat, dan pukulan ringan[7].

Terkadang memang menunda hukuman akan lebih besar dampaknya dari pada menghukum yang dilakukan secara spontanitas .Penundaan akan membuat seorang  akan berbuat yang sama atau mengulangi kesalahan lain  lantaran belum adanya hukuman  yang dirasakan akibat kesalahan yang pernah dibuatnya. Sebaiknya tindakan ini jangan dilakukan terus menerus. Bila kita telah berusaha semaksimal mungkin  dalam mendidik dengan cara lain ternyata belum juga menurut, maka alternatif terakhir adalah hukman fisik (pukulan ) tetapi masih tetap pada tujuan semula yakni bertujuan mendidik.
Abdullah Nasih Ulwan menyebutkan persyaratan memberikan hukuman pukulan antara lain :
1.         Pendidik tidak terburu-buru
2.         Pendidik tidak memukul ketika dalam keadaan sangat marah
3.         Menghindari anggota badanyang peka seperti kepala,muka,dada dan perut.
4.         Tidak terlalu keras dan menyakti
5.         Tidak memukul anak sebelum ia berusia 10 tahun
6.         Jika kesalah anak adalah untuk petama kalinya, hendaknya diberi kesempatan untk bertobat, minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu
7.         Pendidik menggunakan tangannya sendiri
8.         Jika anak sudah menginjak usia dewasa dan dengan 10 kali pukulan tidak juga jera maka boleh ia menambah dan mengulanginya sehingga anak menjadi lebih baik[8].

Namun begitu, diperbolehkannya menghukum bukan berarti pendidik dapat melakukan hukuman sekehendak hatinya, terlebih pada hukuman fisik,ada anggota bagian badan tertentu yang perlu dihindari . Jadi Cuma bagian anggota tertentu saja yang dapat dilakukan ketika melakukan hukuman fisik, misalnya pada bagian muka atau mata yang berakibat cacat anak sehingga menjadi minder.Jangan pula memukul kepala, karena berbahaya untuk perkembagan otak dan syaraf yang berakibat pada gangguan kejiawaan dan mental.Oleh karena itu apabila hukuman terpaksa akan dilakukan maka pendidik hendaknya memilih hukuman yang palinmg ringan akibatnya. Jika hukuman badan yang dijatuhkan maka pendidik memilih anggota badan lain yang lebih aman dan kebal terhadap pukulan seperti pantat dan kaki.
Dalam bukunya Armai Arief mengomentari tentang pemberian hukuman ada lima hal yang harus diperhatilan oleh si pendidik antara lain :
1.        Tetap dalam jalinan cinta, kasih dan saying
2.        Didasarkan  kepada  alasan keharusan
3.        Menimbulkan kesan di hati anak
4.        Menimbulkan keinsyafan dan penyesalan kepada anak didik
5.        Diikuti dengan pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan[9].

D.      Keutamaan Targhib dan Tarhib

Targhib dan Tarhib dalam khasanah pendidikan Islam , menurut Al Nahlawi seorang tokoh pendidikan Islam dalam komentarnya menyatakan bahwa berbeda dari metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan barat. Perbedaan yang palimg mendasar adalah targhib dan tarhib berdasarkan ajaran Allah SWT. yang sudah pasti kebenarannya, sedangkan ganjaran dan hukuman berdasarkan pertimbangan duniawi yang terkadang tidak lepas dari ambisi pribadi[10].
Targhib dan tarhib dalam pendidikan islam sangat urgen diberlakukan  ada beberapa alasan diantaranya adalah: 
1.    Bersifat transenden yang mampu mempengaruhi peserta didik secara fitri. Semua ayat yang mengandung targhib dan tarhib ini mempunyai isyarat kepada keimanan kepada Allah SWT. dan hari akhir
2.    Disertai dengan gambaran yang indah tentang kenikmatan  surga atau dahsyatnya neraka
3.    Menggugah serta mendidik perasaan Rabbaniyyah, seperti khauf, khusu,raja’ dan perasaan cinta kepada Allah SWT.
4.    Kesimbangan antara kesan dan perasaan berharap akan ampunan dan rahmat Allah[11].

Dapat di mengerti bahwa  metode targhib dan tarhib tersebut  pada dasarnya berusaha membangkitkan kesadaran akan keterkaian dan hubungan diri manusia dengan Allah SWT. Dengan demikian metode ini sangat cocok untuk dikembangkan  untuk membentuk anak didik yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam diantaranya membentuk kepribadian yang utuh lahir dan bathin.

   E . Tinjauan Al Qur’an dan Hadist

Seperti kita pahami bersama bahwa penggunaan metode dalam pendidikan Islam disesuaikan dengan tingkat kecerdasan, kultur, kepekaan dan pembawaan anak.Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat.Ada yang hanya jera apabila dengan pandangan cemberut dan marah, tetapi ada juga yang tidak mempan dengan cara-cara tersebut, sehingga mereka harus merasakan hukuman terlebih dahulu[12].
Jadi baik hukuman atau rangsangan kepada anak didik harusdilakukan dengan sangat hati- hati dan penuh kecermatan dari seorang pendidik. Hal ini dilandasi oleh betapa Islam begitu santun dalam mendidik umatnya baik yang terdapat dalam yang kita temui dalam Al Qur’an atau Hadist .diantaranya
1.             Bentuk Targhib (Rangsangan)
a.              Kepada mereka yang yang selalu berbuat kebajikan terutama yang menafkahkan/sodaqoh hartanya

االذين ينفقون في السراء والضراء والكظمين الغيظ والعا فينن عن النا س والله يحب المحسنين


Artinya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik dalam waktu luang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahny dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-oang yang berbuat kebaikan

b.             Dijanjikan  kepada mereka yang bertaqwa dengan balasan tidak terduga

وومن يتق الله يجعل له مخرجا

Artinya : Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah , niscaya akan menjadikan baginya jalan keluar
ويرزقه من حيث لايحتسب

Dan akan member rezki dari arah yang tidak disangka-sangka

ومن يتق الله فهو حسبه
Dan barang siapa yang bertawaqal  kepada Allah , niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya ….
  
2.             Bentuk Targhib (Ancaman)
a.              Mereka yang tidak disukai Allah dalam hidupnya

يا ايها الذين آمنوا لاتحرموا طيبت ما احل الله لكم ولاتعتدوا ان االله لايحب المعتدين  


Artinya :  Hai orang-orang ang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah  kamu malampawi batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang melampaui batas

b.             Mendapat hukuman langsung

والسا رق والسا ر قة فا قطعوا ايد يهما جزاء بما كسبا نكلا من الله والله عزيز حكيم                       

Artinya : Laki-laki dan perempuan yang melakukan pencurian ,potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.


Contoh Hadist Nabi tentang Targhib dan Tarhib

Banyak sekali kita jumpai dari hadist Rasulallah SAW. Yang menggambarkan tentang nasihat tentang mendidik anak yang penuh dengan kasih saying bahkan terhadap para sehabat beliau yang sudah dewasa atau tua renta, dengan menghindari hukuman kecuali dengan terpaksa yang sebelumnya didahului dengan peringatan. Diantaranya adalah:


عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قا ل رفع القلم على ثلاثة عن النا ءىم حتى يستيقظ وعن الضبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يعقل   


Artinya : Dari Ali ra  wa kw dari Nabi Muhammad SAW beliua bersabda  Pena diangkat atas tiga golongan dari orang yang sedang tidur hingga dia bangun, dari anak kecil hingga dia dewasa, dan dari orang gila hingga dia waras (berakal) [13]

عن عمر بن شعيب عن ابيه عن جده قا ل رسول ا لله عليه وسلم مروا اولادكم با اللصلا ة وهم ابنا ء سبع سنين واضربواهم عليها وهم ابنا ء عشر سنين وفرقوا بينهم فى المضا جع                ه      
Artinya : Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dan dia berkata Rasulallah SAW bersabda Perintahkanlah  anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika berusia tujuh tahun , dan pukulah mereka jika tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan pada usia tersebut juga pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-perempuan).[14]
Hujatul Islam al Ghazali berujar hendaknmya para guru member nasihat kepada siswanya denmgan kelembuan. Guru dituntut berperan sebagai orang tua yang dapat merasakan apa yang dirasakan anak didiknya,jika anak memperlihatkan suatu kemajuan, seyogyanya guru memuji hasil usaha muridnya, berterima kasih kepadanya dan mendukungnya terutama di depan teman-temannya [15].
Seorang guru hendaknya menjadi sehabat dan teman dalam proses pembelajaran di kelas, dengan sikap ramah, membantu, penuh senyum dan tidak mudah marah apalagi menghukum. Apabila anak didiknya mengerjakan hal yang tidak baik, hendaknya jangan di publikasikan dengan teman lainnya.jika anak mengulangi kesalahan  yang sama tegurlah dengan cara yang baik dan tidak menyinggung perasaan murid, apalagi mengungkit- ungkit keturnan dan keluarga.Walaupun demikian bukanlah berarti tidak ada hukuman yang diberlakuakn di klas terhadap anak didik yang melanggar aturan dan norma pendidikan. Sebab jika tidak sekolah secara keseluruhan tidak mempunyai wibawa di masyarakat  dan dianggap sekolah yang tidak memahami karakter pendidikan.

Keberhasilan seorang pendidik di klas  bukanlah ditentukan dominan oleh seberapa jauh kemampuan kompetensinya saja, tetapi juga kepiawayan guru dalam tampil di muka peserta didik, dalam hal ini adalah metode yang dipergunakan ketika berhadapan dengan peserta didik sangatlah menentukan berhasil tidaknya seorang guru menyampaikan materi pelajaran dan muridnya merasa senang. Sebab ada juga guru yang berhasil mengajar di kelas tetapi tidak kesan yang memungkinkan para peserta didik merasa senang dan kerasasan menerima pelajarannya.

Perlu diingat bagi para guru bahwa ketika anak murid sudah simpati terhadap gurunya karna mengerti tentang mereka, sebenarnya ini sudah menjadi modal besar. Dari sinilah perhatian dan keseriusan murid dalam mencerna dan memperhatikan materi yang di sampaikan guru akan berhasil, karena tidak ada keterpaksaaan, yang timbul adalah kesadaran belajar sebagai seorang murid. Terkadang guru kurang menyadari bahwa kemalasan dan ketidak seriusan atau kenakalan murid dalam belajar dituduhkan sepenuhnya kepada mereka, padahal belum tentu itu disebabkan oleh tingkah laku murid yang tidak patuh dengan aturan sekolahatau tugasnya sebagai murid. Jadi sikap pendidik seperti tersebut diperlukan otokoreksi jujur yang permanen, artinya mereka harus menyadari bahwa kegagalan selama ini disebabkan oleh sikap dan prilakunya yang sudah menyimpang dari kode etik seorang pendidik. Dengan kata lain mereka harus belejar banyak tentang Pedagogik dan psikologi mengajar,seperti suasana belajar harus diciptakan se kondusif mungkin baik dalam hal ruangan atau kenyamanan yang dimulai dari pendidik sendiri. Coba kita lihat literatur Islam yang menunjukkan betapa sikap guru sangat sentral dalam berhasil tidaknya dalam menyampaikan ilmu,  terutama yang bersumber dari contoh Rasulallah SAW. dalam menyampaikan ilmu di hadapan para sehabatnya
     Suasana keilmuan dalam majlis Nabi Muhammad SAW.adalah suasana “ tulus ikhlas” dengan tujuan agar mendapatkan pelajaran dengan mudah, tanpa ada penghalang yang menjadi rintangan atau hal lain yang akan mengganggu kosentrasi. Bahkan Beliau sangat ingin agar majlis ta’limnya tidak bubar hanya karena bau udara yang kurang sedap. Dalam pertemuan mingguan yang diadakan setiap jum’at, selalu didahului dengan mandi wajib, dan Nabi menyuruh orang yang baru memakan bawang( putih atau merah ) agar duduk meyendiri agak jauh dari majlis sampai baunya hilang[16]
Gambaran suasana ta’lim Beliau sangatlah meneyentuh, terutama yang menyangkut peserta didik. Beliau tidak menghukum peserta didiknya dengan cara yang dapat mematahkan semangat belajar murid, hal ini dapat dilihat dari cara beliau memberikan hukuman ( targhib ) sangatlah mendidik dan tidak menyakiti, dengan cara duduk agak menjauh dari yang lain tetapi tetap diperkenankan mengikuti pelajaran, kecuali rasa baunya sudah hilang boleh duduk bersama. Sikap bijaksana dan tidak arogan sangatlah dibutuhkan oleh seorang pendidik, sekalipun celah itu ada dan memungkinkan, hendaknya diambil dan dijatuhkan dengan cara yang tidak meyakitkan peserta didik agar mereka tidak merasa dikucilkan dan dirampas haknya sesama murid. Keterangan Nabi Muhammad SAW.tentang dirinya dalam hadits-haditsnya memberikan gambaran pribadinya sebagai pribadi seorang guru dalam gambaran yang agung. Beliaulah yang telah mengajarkan ilmu dari Sang Pencipta dengan baik, menyampaikan risalahnya kepada segenap manusia dan sangat berambisi terhadap mereka, mampu menyesuiakan dengan berbagai tabiat mereka ,sangat ramah dan lemah lembut dalam pengajarannya dengan menempuh cara yang sesuai dengan setiap muridnya. Semua itu dalam rangkaian suasana keilmuan yang mulia[17]
Banyak hadist yang membahas adab, wejangan dan nasihat-nasihat yang dapat membentuk manusia menjadi mulia, seperti berkata benar, melaksanakan amanat, menepati janji, menjaga pandangan, memaafkan kesalahan, toleransi dan lain-lain adab kejiwaan dan kemasyarakatan. Banyak aspek pembelajaran yang harus diperhatikan oleh para pendidik dalam melaksanakan tugasnya di muka kelas yang berkaitan bukan saja dengan murid sebagai orang pertama yang dihadapi, tetapi lingkungan rohani harus benar-benar melekat pada diri seorang guru yaitu sifat mulia atau adab  yang disebutkan
diatas. Sebab apa yang diucapkan dan dilakukan guru mejadi contoh dan langsung di tiru oleh para siswa. Oleh karena itu rasa simpati perlu dibangun di dalam kelas bukan dengan sikap otoriter dan menang sendiri guru, namun di bangun melalui rasa simpati dan kasih sayang antara peserta didik dengan pendidik melalui methode yang sarat dengan nilai-nilai keislaman yang bersipat universal.
Para pakar ilmu jiwa pendidikan telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menentukan sosok-sosok pendidik sejati dan jangkauan pengaruhnya dalam diri peserta didik. Di antara tabiat mansia tidak mau menyempurnakan proses belajar yang mereka tempuh kecuali dari pendidik yang mereka cintai, mereka ketahui kemampuanya, mereka rasakan adanya setruman-setruman jiwa secara langsung, roman muka yang selalu ceria dan perhatian yang penuh. Sebagaimana mereka mengetahui bahwasannya seorang pendidik sejati harus mengusai materi yang akan disajikan kepada peserta didik dengan sempurna. Sipat jujur, amanah, kesungguhan dalam memberikan nasihat harus melekat pula dalam diri seorang pendidik.
Belajar adalah bagian kegiatan, sehingga mengajar merupakan spesipikasi positif oleh para pendidik ketika hal itu diperlukan, atau dengan kata lain, setiap pendidik seharusnya  dan sudah spantasnya berbuat yang dapat menimbulkan motivasi dan gairah belajar siswa.Disamping tentu saja tidak meninggalkan tujuan instruksional khusus atau umum dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan dan kesuksesan  Apabila tujuannya sudah jelas maka yang diperlukan kemudian adalah sugesti dan motivasi guna memperkuat hadap ( tujuan ) yang masih lemah. Jadi seorang pendidik tidak baik membiarkan muridnya tertinggal dengan temannya tanpa mencari tahu penyebabnya, jika diperluka harus ada perhatian khusus agar terpacu semangatnya dalam mengejar ketertinggalan dalam materi belajar, sebab pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan tidak berbeda jauh tinggal bagaimana kita mengemas dan membangun talenta tsb.    

  1. Sifat- sifat Materi Pelajaran Yang
    Disampaikan Nabi Muhammad SAW.

      Seperti Penulis katakan diatas pada awal tulisan ini bahwa Islam merupakan agama yang sudah mengatur berbagai macam kehidupan pemeluknya termasuk soal pendidikan.
Mereka yang mendalami dua pedoman hidup muslim yakni Al Qur’an dan Al Hadist akan mengetahui secera benar bagaiman Rasulallah SAW. menyampaikan materi da’wah atau pelajaran yang diajarkan dalam madrasah Beliau, diantaranya adalah :

1.        Bukan Rekayasa Manusia
     
    Materi tersebut bukan merupakan rekayasa manusia yang terlahir dari kecerdasan individu atau hati yang lembut, pengalaman yang luas dan sebagainya, akan tetapi ia bersumber dari risalah yang dipilih oleh para Nabi yang melahirkan kemulyaan bagi mereka. Rasulallah SAW. tidak berucap sesuatu kalimat kecuali wahyu yang diterimanya. Sebagaimana penjelesan dalam Al Qur’an

ووما ينطق عن الهوئ ان هو الا وحي يوحئ

    Dan tiadalah yang diucapkannya itu ( Al Qur,an ) menurut kemauan hawa nafsunya, melainkan ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.

Dengan demikian Nabi SAW. tidak pernah dipengaruhi oleh orang atau faktor-faktor kejiwaan  lain yang mengintervensinya sehingga bisa berubah tujuan.Oleh karena itu beliau tidak mungkin mengadakan perubahan dalam meyampaiakan risalahnya atau hukum yang telah ditetapkan Allah SWT.

 Itulah perbedaan antara ilmu yang berdasarkan wahyu dengan ilmu manusia, seperti demikianlah perbedaan para Nabi dengan para pemimpin lainnya yang kita jumpai di masyarakat. Misi dan perjuangan mereka berdasarkan ketetapan dan kehendak yang mengutusnya. Perbedaan prinsip mereka adalah bukan saja kebenaran yang hakiki, namun juga sebagai obat penenang yang membimbing masyarakat dan membina jiwa-jiwa yang sadar, bahkan mereka yang tidak sadar dan jauh dari kebenaran menjadi manusia yang insyaf meniti jalan yang lurus. Merekalah yang selalu memperhatikan lingkungan, masyarakat, situasi, dan kondisi, memproritaskan kemaslahatan dan keselamatan, mereka tundukkan berbagai keadaan dan menguasai berbagai sudut kehidupan.[18]

Dapatlah lebih dipahami bahwa turunnya syariat adalah untuk membawa manusia pada kehidupan yang baik dengan segala aspeknya, sayang memang manusia dengan berbagai macam dalih yang bersumber dari hawa nafsunya lari dan enggan menghampiri permata yang sudah berada dihadapannya. Mereka sering kali membalik kebatilan menjadi teman, sementara yang hak menjadi lawan. Penomena ini semakin jelas bahkan seakan kontras ketika seorang muslim tidak mendapatkan didikan agama sedini mungkin, kalau mereka memperolehnya tidak melalui penyampaian yang sesuai dengan tuntunan Rasul SAW; akhirnya mereka terbentuk tidak maksimal. Dengan kata lain pemahaman keagamaan mereka tidak matang dan terkesan rapuh. Dalam kondisi seperti ini seorang muslim sangat mudah dipengaruhi  oleh unsur atau paham lain yang dapat melunturkan bahkan menghilangkan kebenaran yang sudah melekat dalam dirinya. Atau paling tidak mereka mempunyai rasa panatisme yang tipis dalam agama, maka boleh jadi mereka mudah melakukan sesuatu yang sebenarnya salah dalam Islam, tetapi dikerjakan karena kurangnya pemahaman yang maksimal dalam memahami ajaran yang bersumber dari wahyu yang telah di sampaiakan oleh para Rasul. Agama adalah satu-satunya cara atau sarana untuk memenuhi semua kebutuhan dan dambaan manusia, tak sesuatu pun  yang dapat menggantikan posisinya. Sejak beberapa waktu yang baru lalu, sebagian orang percaya bahwa dengan kemajuan dan modernisasi yang dicapai oleh manusia, kebutuhan akan agama segera hilang karena ilmu pengetahuan akan dapat memenuhi semua kebutuhan dan dambaan manusia. Namun, kini setelah kemajuan besar dicapai oleh ilmu pengetahuan, manusia tetap merasakan  adanya kebuthan mendesak akan agama berkenaan dengan kebahagiaan individu maupun masyarakat[19] . Islam memang menghargai keberadaan akal, oleh karena melalui akal mereka mampu membuat peradaban yang menghantarkan manusia pada puncak kepuasan, tetapi mereka sadar bahwa semua itu akan berakhir dan tidak abadi, akan sirna ditelan masa. Maka kehadiran agamalah yang mampu menjawab kebutuhan manusia tanpa batas. 

2.      Mudah dan toleran
              Ilmu rabbani ini sangat realistis, bisa diterapkan bagi individu maupun masyarakat, agar setiap individu mencapai derajat kesempurnaan sehingga terciptalah masyarakat yang mampu merealisasikan makna kemaslahatan yang di kehendaki Allah. Maka sifat dan tabiat ilmu ini selalu sesuai dengan fitrah mansia[20]

Ajaran yang tertera dalam Islam baik yang di dapat dalam Al Qur’an atau Al Hadist sangat sesuai dengan fitrah manusia, artinya hukum larangan dan perintah entah yang menyangkut aspek ibadah atau muamalah tidak ada yang bertentangan dengan jiwa dan karakter manusia sebagai penggunanya, sehingga tidak bisa diterima dengan rasio yang sehat jika ada seorang muslim yang merasa berat menjalankan syariat tersebut, mengapa demikian, karena memang sudah di kondisikan dan di buat sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri.



Bukti kemudahan ilmu ini, dapat dilihat bahwa Al Qur’an telah diturunkan selama dua puluh tiga tahun ,banyak para sehabat yang menghapal dan Rasul dapat mengamalkan secara sempurna bersama umatnya, memecahkan berbagai macam kesulitan dan  persoalan hidup yang sebelum datangnya Islam mereka hidup tanpa aturan dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Semua itu dibicarakan oleh nash-nash, terbukti oleh peristiwa-peristiwa dan terukir dalam lembaran sejarah syariat dan prilaku Rasul SAW.

وقرأنا فرقنه لتقرأه على النا س على مكث ونزلنه تنزيل

Artinya  Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

Begitulah cara Rasul menyampikan ilmu dan pengamalan agama di tengah masyarakatnya yang heterogen, baik ilmu pengetahuan atau status sosialnya. Dengan begitu mereka dapat menerima ajaran islam tanpa beban, bahkan terkesan menyenangkan.Coba kita lihat pelaksaan sholat jama’ah Rasul SAW melaksnakan dan  memerintahkan kepada para sehabatnya untuk meringankan shalatnya, sebab para makmum itu ada yang lmah dan banyak keperluan.

Semua kemudahan, tahapan-tahapan dan pertimbangan adanya maslahat, hikmah dan toleransi tersebut adalah dalam rangka pengajaran dan pendidikan dalam masalah juziyyah, sedangkan dalam masalah-masalah aqidah dan dasar-dasar agama, kewajiban-kewajiban, nash-nash dan apa-apa yang membedakan antara keimanan dan kekufuran dan tauhid dengan kemusyrikan yang merupakan syiar-syiar Islam dan aturan-aturan Allah SWT, telah ditegaskan oleh para Nabi dengan suatu ketegasan yang keras melebihi kerasnya besi dan telah mereka tancapkan keharusannya dengan kuat melebihi kokohnya gunung-gunung    [21] 

3.      Terang dan Jelas

              Tidak ada sesuatu yang samar atau tidak jelas, atau bahkan meragukan dalam ilmu yang bersumberkan dari ajaran agama yang bersumber dari Zat yang maha benar,maha berilmu dan disampaikan oleh para Rasul yang mempunyai sipat kejujuran prima, amanah yang sempurna, tabligh nan penuh kasih sayang serta patonah yang bijaksana, ada kecerdasan dan keparipurnaan ilmu pengetahuan.

Pendapat Al Ghazali tentang keistimewaan Al Qur’an dan perbedaannya dengan perkataan-perkataan lainnya. Dalil-dalil Al Qur’an adalah laksana makanan yang bermanpaat bagi setiap manusia, sedangkan ucapan-ucapan lainnya hanyalah sebagai obat yang terkadang bisa menyembuhkan beberapa orang saja, namun kebanyakan manusia dicelakakannya. Dalil-dalil Al Qur,an adalah laksana air yang dimanpaatkan oleh semua orang, bayi, anak-anak dan orang kuat, sedangkan ucapan-ucapan lainnya hanyalah makanan yang terkadang bermanpaat bagi orang-orang kuat namun membahayakan yang lainnya.[22] 

Bila kita membaca sejarah masuk atau tertariknya orang terhadap Al Qur’an bukan saja kehalusan dan kesempurnaan ayat dan kandungannya, tetapi yang lebih mendasar adalah apa yang disampaikan melalui ayat-ayat sangat menyentuh kalbu dan jiwa seseorang. Coba lihat Umar ibn Khotob sebelum masuk islam seorang yang kasar prilakunya, keras hati dan temperamental, bahkan acap kali berbuat melampaui batas. Tetapi setelah mendengar ayat-ayat Al Qur’an yang di dengarnya langsung, serta merta tertarik dan merubah sikap hidupnya secara total, bersih hati dan akidahnya sebening embun pagi. 

4.      Teori dan Praktek
    
              Ilmu adalah seperti yang kita ketahui bisa mengandung arti rangkaian teori, dimana dapat membawa manpaat  dan menghasilakan keberuntungan bagi manusia ketika mereka mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan. Banyak kita jumpai dalam kitab Al Qur’an kata Amanu selalu dirangkaikan dengan Amilu, jadi tidak cukup percaya,tetapi harus ada realisasinya berupa amal atau karya. Rasul menjadi mulia dan disegani para sehabat, karena Beliau selalu menjadi orang pertama yang mengamalkan suatu hukum atau didikan. Begitulah sosok guru atau profesi lain yang banyak mempengaruhi orang lain, harus menjadi contoh dan teladan dengan cara lebih awal berbuat dibanding dengan orang lain.Secara psikis tentunya bisa jadi orang lebih yakin dengan apa yang kita sampaikan, karena pancaran ilmunya dapat menggugah orang lain. Tentunya dari Al Qur’an dan Al Hadits dapat kita ketahui betapa teori dan praktek ilmu agama itu saling melengkapi, tidak dapat dipisahkan. Al Qur’an memberikan aturan hukum ( teori ), pelaksanaannya (praktek ) melalui diri Rasul. Jika tidak, apalah jadinya jika melakukan sesuatu perbuatan tanpa adanya tuntunan atau teori, atau sebaliknya tiori saja, tetapi tidak ada realisasinya juga tidak mendatangkan manpaat.

5.      Menjelma dalam sosok manusia

              Ilmu tidak sekedar lembaran yang tertlulis dalam buku atau kitab yang berjumlah ribuan jilid, namun harus juga tertaman dalam sanu bari manusia dengan pembuktian dalam perbutan melalai para ulama atau pendidik. Oleh karena itu ilmu akan hilang berbarengan atau seiring dengan meninggalnya para ulama.

اان الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من النا س ولكن يقبض العلم بقبض العلما ء حتى اذا لم يبق عالما اتخذ النا س روسا جها لا فسءلوا فا فتوا بغير علم فضلوا واضلوا

    Artinya Sesungguhnya Allah SWT tidak mengambil ilmu dengan jalan mencabut yang Ia mencabutnya dari manusia, akan tetapi Ia mencabut ilmu itu dengan mencabut Ulama, sehingga apabila Ia tidak memasihkan seorang alimpun maka manusia menjadikan orang-orang yang bodoh pemuka-pemuka( pemimpin), maka apabila pemuka-pemuka itu ditanya (urusan agama) mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka itu sesat lagi menyesatkan[23]      

Abdullah bin Mas’ud berkata kepada para sehabat-sehabatnya “ Tahukah kalian, bagaimanakah berkurangnya ajaran Islam ?” mereka menjawab “ laksana lunturnya warna pakaian, seperti menyusutnya lemak binatang dan seperti berkurangnya nilai dirham yang lama terpendam “ Ibnu Mas’ud berkata “ Itu masih kecil dibanding dengan hilangnya atau wafatnya para ulama” [24] 

6.      Lengkap, tidak perlu penyempurnaan

             Karena meteri tersebut diturunkan dari Allah SWT. Sebagai Pencipta Syariat dan diturunkannya untuk kemaslahatan manusia, maka sudah jelas bahwa ajarannya lengkap, sehingga tidak perlu adanya penambahan atau penguragan atau koreksi di dalamnya dari manusia atau lainnya, sebab semua materi yang terdapat didalamnya sudah sempurna dan pasti serta mutlak kebenarannya.
Lain halnya dengan konsep atau materi yang dibuat oleh manusia kebenarannya tidak sempurna dan bisa berubah-ubah. Satu masa bisa jadi benar karna situasinya mendukung, tetapi pada masa berikutnya sudah usang dan ditinggalkan oleh manusia itu sendiri. Maka terjadilah penambahan atau pengurangan agar selalu upto date dengan zamannya.
Seorang sehabat dan sekaligus ilmuan islam Abdullah ibn Abbas berkata “ Kebenaran itu bersumber dari kitabullah dan sunnah RasulNya, maka barang siapa yang mengatakan sesuatu berdasarkan pemikirannya ( pendapat ) sendiri, aku tidak tahu, kebaikan atau kejelekan yang akan diperolehnya[25]   

Penulis memang tidak memuat semua tentang bagaimana Baginda Rasul menyampaikan materi pelajaran dan da’wahnya ditengah masyarakat.Namun yang paling pokok diingat adalah betapa beliau sangat bijaksana, kasih sayang, toleransi yang tinggi, komonikatif, menghargai orang lain, murah senyum, tidak pemarah dan selalu membimbing, mendatangkan rasa simpati dan sipat-sipat terpuji lainnya.Jadi komonikasi atar murid dengan guru sangat terlihat, proses belajar-mengajar berlangsung sepanjang pembelajaran, tidak terputus sehingga selalu berhasil dalam menyampaikan materi.

  1. PENUTUP
    Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan Allah SWT melalui para Rasulnya  sudah pasti memberikan yang terbaik kepada mahluknya dalam menata kehidupan dunia yang serba singkat ini, baik dunia terlebih akhirat yang merupakan akhir dari perjalanan manusia.
Kesuksesan yang diperoleh di dua tempat tersebut sangat dipengaruhi oleh kwalitas keilmuan yang dimiliki manusia. Sementara kwalitas ilmu itu sangat didasari oleh bagaimana cara ilmu itu di dapat, salah satunya methode.
Methode Tarhib dan Targhib yang telah di uraikan diatas ternyata sangat berpengaruh atau berdampak positif terhadap perkembangan dan kwalitas proses belajar yang dilakukan seorang pendidik. Seorang siswa bukan saja matang dalam kwalitas keilmuan yang diperoleh, tetapi mentalnya  terus ditempa sehingga terbentuk ahlak yang baik sebagai seorang ilmuan dimasa mendatang. Oleh karena itu methode Tarhib dan Targhib yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadis telah lama diimplementasikan Rasulallah SAW  yang di teruskan oleh para Sehabat sampai sekarang oleh para tokoh pendidikan Islam sangat perlu sekali dipertahankan dan dijadikan salah acuan pokok dalam metode peroses belajar.
Sudah saatnya para pendidik Muslim lebih memperdalami methode Tarhib dan Targhib, jangan terlalu tertarik dengan metode barat yang lebih mengutamakan keberhasilan aspek kognitif atau kepandaian saja. Kita memerlukan generasi yang kuat keintelektualannya dan kokoh pula Iman atau rohaninya.    

DAFTAR  PUSTAKA


 Al Qur’an dan terjemahannya
Arief, Armai, Pengantara ilmu dan metodologi Pendidikan Islam , Jakarta, Ciputat  
            Press, 2000
Al Nahlawi, Abd. Rahman, Usul Al- Tarbiyah Al –Islamiyah wa Asalibuhu fil al                    
            Bayt wa Al- Madrasah wa Al- Mujtama, Beirut, Daar Al Fikri,(terjemahan)
Ali Badawi, Ahmad, Imbalan dan Hukuman, Pengaruhnya bagi Pendidikan Anak,
            Jakarta, Geman Insani, 2000
Anwar, Qomari, Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa, Jakarta, Uhamka
            Press, 2003
Amir, Ja’far, Dua Ratus Hadist Pilihan, Semarang, Toha Putra, 1975
Al-Qozwaini, Al Hafiz Abu Abdullah Muhammad ibn Yazid, Sunan Ibnu Majah
             Tahqiq Muhammad Fuad Abd. Baqi, Beirut, Daar Ulum – Al- Turast Al-
 Arabi, 1975
Al- Kandahlwi, Muhammad Ibn Yusuf, Hayatush As-Syahabah, Daran Nasir,
             Mesir, dan Naskah-naskah lainnya dari Al Ustaz  Abu Hasan Ali Hasani
           An Nadawi, Dar Al-Qolam, Beirut, Tashih Asy-Syaikh Nayif ibn Abbas dan
Muhammad Ali Daulah, 1969
Al- Bajuri, Muhammad Nasyiruddin, Sohih Jami’ Shogier, Beirut, Al Maktab
              Al- Islami
Muthahhari, Murthada, Membumikan Kitab Suci, manusia dan Agama, Jakarta,
              Mizan, 2007
Nasih Ulwan, Abdullah, Pendidikan Anak Dalam Islam, Jakarta, Pustaka Amini,
              Jamaluddin M ( terjemahan) 1994
Noer Ali, Herry, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos, 1999
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Prioritas dan Praktis, Bandung, 1994
Ra’fat Said, Muhammad, Ar-Rasul Al- Muallim wa Manhajul Fit Ta’lim, Jakarta
                Cv Firdaus, Amir Hamzah, Zainal Arief Fachruddin ( terjemahan)
Syaihk Muhammad ibn Jamil Zainu, Seruan Kepada Pendidik dan orang tua,
            Salam, Abu Hanan dan Ummu Dzakiyah ( terjemahan ) 2005




[1] Qomari anwar, Pendidikan sebagai karakter budaya bangsa, jakarta, uhamka press, 2003, cet. ke I hal.42
[2] Syahidin, Metode Pendidikan Qur’ani Teori dan Aflikasi, Jakarta, Misaka galiza, 1999 hal. 121
[3] Ibid, hal 121, lihat juga Abd al Rahman al  Nahlawi , ushul al Tarbiyah al Islamiyyah ……
[4] Ahmad Ali Badawi, Imbalan dan hukuman: Pengaruhnya bagi pendidikan Anak,  Jakarta, ,Gema Insani Pres 2000, hal. 4
[5] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis , Bandung, 1994, hal. 170
[6] Ibid, hal. 171
[7] Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Seruan Kepada Pendidik dan Orang tua, Abu Hanan dan Ummu Dzakiyyah (terjemah ) Solom, 2005, hal. 167
[8] Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, Jamaludin Miri, Jakarta,Pustaka Amani,1994 hal.325 ( terjemahan)
[9] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, jakarta,2000, hal. 133
[10] Abd.al Rahman al Nahlawi. Usul al Tarbiyah al Islamiyah wa Asalibuha fi al bayt wa al madrasah wa al mujtama , Beirut, Daar al Fikri 2001 , hal 287
[11] Ibid, hal. 287

[12] Abdullah Nasih Ulwan, op cit hal 333
[13] Muhammad Nasiruddin Al-Bayani, Shohih Jami’ Shoghir, Beirut, Al Maktab Al Islami, hal.569
[14]  Muhammad Nasiruddin Al Bayani, of cit, 1022
[15] Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, logos, 1999 hal. 84
[16] Dr. Muhammad Ra’fat Said, Ar-Rasul Al-Mu’allim wa Manhajuhu Fit Ta’lim Firdaus, jakarta, Cv Firdaus ,hal 30 ,th.1993 ( terjemahan- Amir Hamzah Fachrudin , Zainal Arif Fachrudin RM )
[17] Dr.Muhammad Ra’fat Said, of cit, hal. 31
[18] Dr.Muhammad Ra’fat Said, of cit. Hal. 86
[19]  Murtadha Muthahhari, Membumikan kitab suci, Manusia dan Agama, Jakarta, Mizan, hal.60
[20] Ibid, hal. 86
[21] Dr.Muhammad Ra’fat Saif, of cit, hal.88
[22]  Of cit, hal 88
[23] Ja’far Amir, Dua ratus hadist pilihan, Semarang, Toha Putra, hal. 14,
[24]  Al Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al Qazwaini,Sunan Ibnu Majah, Tahqiq Muhammmad Fuad Abdul Baqi.Beirut, Daar Ihyam At- Turats Al- Arabi, 1975/1395
[25]  Muhammad ibn Yusuf Al- Kandahluwi, Hayatu Ash-Shahabah, Daran Nashir, Mesir, Dan naska-naskah lainnya dari Al-Ust.Abu Hasan Ali Al Hasani An-Nadawi, Dar Al-Qolam, Beirut, Tashih Asy-Syaikh Nayif ibn Al-Abbas dan Muhammad Ali Daulah, cet I 1969/1389

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar