Rabu, 27 Oktober 2010

MENGENAL AJARAN SUFI


Para pakar tasawwuf banyak berbeda pendapat dalam memberikan definisi sufi. karena memang aspek, pandangan serta tinjauannya yang berbeda. namun sebagai perbandingan, ada beberapa definisi yang dapat Penulis temukan.
Kata shufi atau shufiyah, diartikan diartikan sebagai orang yang selalu mengamalkan ajaran tasawwuf dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya rumusan definisinya telah dikemukakakn oleh para ulama tasawwuf, antar lain:
  1. Asy-Syeikh Muhamamd Amin al-Kurdy
Sufi adalah orang yang hatinya jernih dari kehidupan yang buruk dan terisi pengajaran (dari Tuhan) serta kemurnian bagaikan emas dan tanah liat[1].
  1. al-Qusyairi
Sufi adalah orang yang tidak pernah merasakan letih (bila) mencari (keridhaan Allah), dan tidak pernah susah (bila) ditimpa suatu sebab (cobaan)[2]
  1. Imam al-Ghazaly
Sufiyah adalah ahli ibadah yang telah melakukan suluk dengan nur (petunjuk) ihsan (perbuatan mulia)[3].
Setalah Nabi resmi mdiangkat menjadi Rasul, ia mulai melaksanakan tugasnya, dan menanamkan keimanan dan akhlak mulia kepada masyarakat Quraisy.
Meskipun Nabi sebagai kepala pemerintahan, ia masih tetap memilih kehidupan yang sederhana, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para sahabatnya, bahwa di rumah beliau hanya terdapat selembar tikar dan makanan yang sederhana. Dna kadang-kadang juga Nabi dan keluarganya berpuasa karena tidak ada makanan di rumahnya.
Selanjutnya dituturkan dalam riwayat Imam Bukhary, bahwa pada suatu hari Aisyah mengeluh kepada keponakannya yang bernama Urwah dengan mengatakan: ”Lihatlah hai urwah, kadang-kadang dapurku setiap hari tidak pernah berfungsi (tidak pernah masak), sehingga aku sering bingung. Maka Urwah belaik bertanya; ’Apakah ayng engkau makan setiap hari ?’ jawab Aisyah, paling untung kalau kami mandapatkan beberapa buah kurma dan air biasa; kecuali bila ada tetangga yang mengantarkans esuatu kepada Rasulullah, baru kami bisa merasakan makanan atau minuman susu segar”[4].
Apabila Rasulullah SAW mendapatkan rezeki, ia malah cepat-cepat membagikannya kepada fakir-miskin. Dan pada suatu ketika, beliau hendak menunaikan salat di masjid, tiba-tiba teringat bahwa masih ada pundi-pundi emas dan perak yang tersimpan di rumahnya. maka beliau mempercepat salatnya, lalu pulang ke rumahnya dan mengambil benda tersebut, kemudian dibagikan kepada fakir-miskin yang bermukim di sekitar rumahnya.
Ketika beliau sakit keras, beliau memerintahkan kepada keluarganya agar uang yang senilai tujuh dirham yang masih tersimpan padanya, segera dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya. Sehinga diriwayatkan bahwa ketika Nabi wafat, ia tidak mewariskan harta benda kepada keluarganya. hal in menggambarkan bahwa pertumbuhan tasawwuf berasal dari sikap dan amalan rasulullah SAW yang dituntun oleh wahyu Ilahi[5].
Demikian juga para sahabat, terutama para khulafaturrasyidin, mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, bahkan mereka menjadi guru bagi pendatang dari luar kota Madinah yang tertarik pada kehidupan sufi.
Islam telah mencapai tujuannya yang sebenar-benarnya dalam masa yang gilang-gemilang itu. Kaum muslimin telah berjaya oleh kejayaan dalam segala bidang, bidang agama, siasat perang, politik dan pemerintahan, sosial dan budi pekerti, dan dalam bidang ilmu pengetahuan sebagai hasil dari ajaran Islam yang murni itu.
Kesejahteraan dan keamanan masyarakat Islam pada abad pertama hijriah ini berakhir dengan pembunuhan Usman ibn Affan. Usman termasuk sahabat Nabi dan pejuang yang pertama, seorang yang sudah dijelaskan di masa hidupnya sebagai ahli surga, seorang yang berjasa dalam mengumpulkan wahyu-wahyu Tuhan serupakan sebuah kitab suci bagi ummat Islam, orang yang sudah mengorbankan seluruh kekayaannya untuk Islam, membiayai seluruh peperangan.
Terutama dalam abad kedua hijriah bagian pertama, timbul pulalah ajaran-ajaran baru yang penuh dengan hikmah. Katanya orang tidak puas lagi dengan hukum fiqh yang kering. Orang lalu memakai istilah-istilah yang pelik mengenai kebersihan jiwa. thaharatunnafsi, kemurnian hati, naqaul qalbi, hidup ikhlas, menolah pemberian orang, bekerja mencari makan dengan tangan sendiri, berdiam diri, seperti yang dianjurnkan oleh Ali Syaqiq al-Balkhi, Ma’ruf al-Karakhi, menyedikitkan makan, memerangi hawa nafsu dengan khalwat, malakukan perjalanan dan safar, puasa, mengurangi tidur atau sahar, serta memperbanyak zikir dan riadhah seperti yang dianjurkan oleh Ibrahim ibn Adham[6].

Kita ketahui bahwa agama Islam masuk ke Indonesia tidak langsung dari tanah Arab tetapi melalui negeri Persia dan India, dibawa oleh para pedagang atau orang-orang yang memang datang khusus untuk menyebarkan Islam. Sekitar abad keempat atau kelima hijriah. Pada masa itu paham sufi dan tasawwuf sedang tersiar luas dan mendapat perhatian umum dari negara-negara Islam, termasuk pula Indonesia. Dalam sejarah Wali Songo kita dapati Syeikh Sitti Jenar yang mempertahankan pendirian fana dan kesatuan antara Khalik dengan makhluk, yang dinamakan ittihad, di samping Sunan Kali Jaga yang mempertahankan Ahli Sunnah bersama dengan para wali yang lain, lalu mengambil tindakan terhadapa Syeikh Sitti Jenar itu. Di Aceh Hamzah Fansuri menyiarkan paham bersatu dengan Tuhan itu, di samping Abdur Rauf Singkil yang menyiarkan paham Islam yang sebenarnya untuk memberantas paham ittihad dalam ketuhanann itu, yang dianggapnya sesat dan menyesatkan.
Oleh karena itu di Indoensia pun sejak ketika itu sebenarnya sudah terdapat pertentangan paham gerakan ilmu lahir dan ilmu batin, golongan yang dinamakan syariat dan golongan yang dinamakan hakikat.
Keberadaan para tokoh sufi memang mempunyai latar belakang yang berbeda. Di antara mereka mempunyai status sosial yang berbeda-beda. Taraf hidup keberagamaan. keilmuan, keturunan yang lebih istimewa, tidak semua dari mereka berangkat dari orang-orang yang menekuni agama secara baik. Dengan kata lain tingkat ibadahnya belum mencerminkan sebagai pengamal tasawwuf.
Ada di antara mereka menjadi atau berkelakuan sufi disebabkan karena peristiwa atau musibah berat khususnya penyakit, tetapi mereka bisa terhindar dan lolos ayng secara logika kecil kemungkinannya untuk selamat. Sebagai contoh, Ust. Arifin Ilham, seorang tokoh kegiatan Dzikir (sudah dibahas) pernha mengalami peristiwa hebat yang membuatnya mati suri. Peristiwa tersebut membawa perubaha besar pada dirinya, di antaranya sebagaia rasa syukur atas pertolongan Allah SWT. Sering melakukan dzikir dan ibadah sunnah lainnya. Terus memperdalam agama, b ukan saja untuk dirinya tetapi mengajak orang lain dengan membuat Jama’ah  Dzikir. Dalam waktu yang tidak lama, jama’ahnya bertambah banyak dan berkembang sampai sekarang. Contoh lainnya, seperti Alm. Gito Rolies yang akhir hidupnya diisi dengan da’wah islamiyah dan gaya hidupnya yang berubah total menjadi seorang muslim yang kuat dengan menjalani hiudp sufi, baik perbuatan atau ucapannya serta cara berpakaiannya.
Sebagai perbandingan bila kita melihat dan memperlajari kehidupan para sahabat Nabi, atau dari kelompok tabi’in, mereka diawali oleh kehidupan yang jauh dari nilai-nilai agama, atau bahkan menentangnya. Tetapi karena ada pengalaman atau peristiwa yang menimpanya, akhirnya mereka sadar dan berbalik menjadi manusia pilihan dan banyak yang meneladani mereka, baik kata atau perbuatan. Pola hidup mereka bergitu teratur, sesuai dengan ajaran agama, perhatian hidupnya benar-benar dicurahkan untuk kepentingan agama. Sikap kedermawanannya yang hebat, ibadah merke seakan tidak mengenal lelah, jujur, amanah dan mempunyai akhlakul karimah dalam bermasyarakat.
Terutama di Jawa, paham-paham ilmu batin, pikiran-pikiran sufi yang disiarkan oleh Wali Songo itu sangat mempengaruhi kehidupan Islam di Jawa, dan sampai sekarang masih kelihatan gemanya dalam gerakan-gerakan batin yang banyak muncul.


[1] Kuliah Akhlaq Tasawwuf, drs. Mahjuddin, Jakarta, Kalam Mulia, 1991, hal. 49
[2] Drs. Mahjuddin, Op. Cit, hal. 50
[3] Drs. Mahjuddin, Op. Cit, hal. 50
[4] Mahjuddin, Op. Cit, hal. 60
[5] Mahjuddin, Op, Cit, hal. 61
[6] Prof. DR. Hamka, Op. Cit, hal. 57

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar