Senin, 11 Oktober 2010

MEMBENTUK ULUL ALBAB

Dalam bahasa agama intelektual islam merupakan bagian dari profil sebutan seorang Ulul Albab . Dalam Al-Quran ulul albab disebut enam belas kali. Menurut Al-Quran ulul albab adalah sekelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Diantara keistimewaanya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksanaan, dan pengetahuan, disamping pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan dan sipatnya empiris. Dalam Al-Quran dikatakan
ي يؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد اوتئ خيرا كثيرا وما يذكر الا اولوا الالبب (البقرة )

Artinya : Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya, dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebijakan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab ( QS.2: 269 )

Dalam terjemahan departemen Agama hikmah diterangkan adalah mereka yang diberi kependaian untuk memahami Al-Quran dan Hadis secara baik. Jadi ada kelebihan tersendiri bagi ulul albab dalam memahami persoalan. Karena memang diberikan daya cerna berpikir yang lebih tajam yang kebanyakan orang biasa tidak mampu membaca dan menginterpretasikannya. Seorang ulul albab dari sisi keilmuan bisa jadi mungkin tidak jauh dari pengertian intelektual muslim, tetapi ada pendektatan spritual yang lebih. Disamping ilmuan juga seorang ahli ibadah. Inilah yang menyebabkan hikmah diberikan kepadanya. Ketika mengaplikasikan pemikirannya tidaklah bertolak dari teori saja yang bersifat baku, tetapi unsur wahyu menjadi acuan utamanya.

Sebelum itu kita mengenal ulul albab, ada hal yang penting bagaimana tinjauan bahasa Indonesianya yaitu sarjana, ilmuan, intelektual. Sarjana yaitu mereka yang memperoleh gelar sarjana setelah selasai belajar di Universitas. Sementara ilmuan adalah seorang yang mendalami ilmunya kemudian mengembangkan ilmunya, baik dengan pengematan maupun dengan analisanya. Kemudian intelektual bukan sekedar seorang yang sudah melewati masa pendidikan pada pendidikan tinggi, tetapi juga berpikir, terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Seorang yang terlibat .secara kritis dengan nilai, tujuan, dan cita-cita yang mengatasi kebutuhan praktis . Intelektual disebut juga kaum terpelajar, atau biasa disamakan dengan kelompok terpelajar .

Di dalam masyarakat islam, seorang yang disebut intelektual bukan saja memahami serah bangsanya, dan sanggup melahirkan gagasan-gagasan analitis normatif yang cemerlang, melainkan juga mengusai sejarah islam seorang Islomologis. Untuk penegrtian ini, Al-Quran mempunyai istilah khusus: Ulul Albab. Bagaiman tanda-tanda ulul albab, selain beberapa keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT. kepada mereka. Ada tanda lain yang perlu diperhatikan pertama bersungguh-sungguh mencari ilmu, seperti disebutkan dalam Al-Quran:
والرسحون فئ العلم يقولون أ ما ن به كل من عند ربنا وما يذكر إلا اولواالا لبب (ال عمران )

Artinya : Dan orang-orang yang mendalami ilmunya berkata kami beriman kepada ayat-ayat yang mutsyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami dan tidak dapat mengambil pelajaran(dari padanya) melainkan para ulul albab. (QS. 3:7)


Ketika mereka memperoleh ilmu pengetahuan tidaklah digunakan cuma untuk keperluan pribadi, atau golongan, tetapi ilmu yang dimiliki untuk kepentingan masyarakat luas. Sebab disadari bahwa ilmu merupakan amanah yang harus disampaikan kepeda yang memerlukannya. Perlu dikembangkan tentunya sesuai dan memperhatikan perkembangan ilmu itu sendiri. Seperti kemajuan teknologi dengan segala aspeknya. Mereka merenungi kejadian sekitar, sebab phenomena alam merupkan kekayaan dan merupakan sumber kehidupan yang besar dari Allah SWT. untuk keperluan manusia. Tanda lain ulul albab seperti sebagai berikut:
إن فئ خلق السموات والارض واختلف اليل والنهار لأ يت لأ ولئ الالبب (ال عمران )
Artinya : Sesungguhnya, dalam proses penciptaan langit dan bumi, dalam pergiliran siang dan malam, adalah tanda-tanda bagi ulul albab ( QS. 3 : 190 )

Abdus Salam, Seorang muslim pemenang nobel, melalui teori unifikasi gaya yang disusunnya, berkata Al-Quran mengajarkan kepada kita dua hal yaitu tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan ciptaan Allah SWT. di langit dan di bumi, kemudian menangkap hukum-hukum yang terdapat di alam semesta. Tafakur inilah yang disebut sebagai science. Tasyakur adalah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah Swt. dengan menggunakan akal pikiran, sehingga kenikmatan itu makin bertambah, dalam istilah modern tasyakur disebut teknologi. Ulul albab merenungkan ciptaan Allah SWT. di langit dan di bumi, dan berusaha mengembangkan ilmunya sedemikian rupa, sehigga karunia Allah Swt. dilipatgandakan nikmatnya.

Tanda kedua mampu memisahkan yang jelek dari yang baik, kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. Allah SWT. berfirman:
قل لايستوئ الخبيث والطيب ولوأعجبك كثرة الخبيث فا تقوا الله يا ولئ الالبب لعلكم تفلحون (الما ئد ة ) ( الما ئد ة )

Artinya : Katakanlah, tidak sama kejelekan dan kebaikan, walaupun banyaknya kejelekan itu mencengangkan engkau. Maka takutlah kepada Allah, hai Ulul Albab agar kamu mendapat keberuntungan (QS. 5:100 ) .

Tanda ketiga kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan , teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan orang lain:
الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه اولئك الذين هد نهم الله واولئك هم اولوا الالبب (الزمر )

Artinya : Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya., mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mmereka itulah orang-orang yang berakal – ulul albab (QS. 39:18) .

Tanda keempat bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya, bersedia memberikan peringatan kepada masyarakat; diancamnya masyarakat, diperingatkannya mereka kalau terjadi ketimpangan, dan di protesnya kalau tidak terdapat ketidakadilan. Dia tidak duduk berpangku tangan di laboratorium, dia tidak senang hanya terbenam dalam buku-buku di perpustakaan, dia tampil di hadapan masyarakat, terpanggil hatinya untuk memperbaiki ketidakberesan di tengah- tengah masyarakat.
هذا بلغ للنا س ولينذروا به وليعلموا أ نما هو إله واحد وليذكر أولوالا لبب ( ابراهيم )

Artinya : Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia , dan suapaya mereka mengetahui bahwasannya Dia adalah Tuhan Yang maha esa dan agar ulul albab mengambil pelajaran (QS. 14:52)

Dalam ayat lain dikatakan bahwa:

أفمن يعلم انما انزل إليك من ربك الحق كمن هو اعمى انما يتذكر أولواالالبب ( الرعد )

Artinya : Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta, Hanyalah orang-orang yang berakal saja(ulul albab ) yang dapat mengambil pelajaran (QS. 13:19) .

Tanda kelima Tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah Swt.Berkali- kali Al-Quran menyebutkan bahwa ulul albab hanya takut kepada Allah SWT. sebagaimana firmannya:
وتزودوا فاءن خير الزاد التقوى واتقون يا ولئ الالبب ( البقرة )

Artinya : Berbekalah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada Allah hai ulul albab (QS. 2:197)

فا فا تقوا الله يا ولي الالبب لعلكم تفلحون ( الما ئد ة )
………. Maka bertaqwalah kepada Allah Swt. hai ulul albab, agar kamu mendapat keberuntungan ( QS. 5 : 100 ).

Dalam ayat lain dikatakan:

أ عد الله لهم عذابا شديد ا فا تقوا الله يا ولئ الالبب ( الطلا ق )

Allah SWT. menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertaqawalah kepada Allah SWT. hai ulul albab (QS. 65:10).

Dengan banyak dalil yang bersumberkan dari Al-Quran bahwa seorang ulul albab merupakan sosok manusia yang hidupnya untuk kepentingan perbaikan masyarakat, membangun kebaikan, menyebarkan ilmu pengetahuan, memperbaiki kondisi hukum agar berjalan dengan adil, dan mecegah kemungkaran yang dapat menjauhkan manusia dari tujuan sebenarnya.

Tampaknya seorang ulul albab walau masih berbeda dengan intelektual ada kesamaan seperti jika dilihat dari beberapa tanda ulul albab yang telah disebtukan seperti bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, mau mempertahankan keyakinannya, dan merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Namun dalam ayat lain, Allah dengan jelas membedakan seorang ulul albab dengan intelektual seperti firman Allah SWT. dalam ayat lain:
أ من هو قنيت أناء اليل ساجدا وقاءما يحذر الاخرة ويرجوا رحمة ربه قل هل يستوئ الذين يعلمون والذين لا يعلمون إ نما يتذكر أولوا ألالبب ( الزمر )

Artinya : Apakah orang yang bangun di tengah malam, lalu bersujud dan berdiri karena takut menghadapi hari kiamat, dan mengharapkan rahmat TuhanNya samakah orang yang berilmu seperti itu dengan orang orang yang tidak berilmu dan tidak memperoleh peringatan seperti itu kecuali ulul albab (QS. 39:9)

Dengan merujuk kepada firman Allah Swt. tersebut jelas sekali ciri atau tanda khas seorang ulul albab. Sehingga ada perbedaan jelas antara ulul albab, ilmuan, dan intelektual lainnya. Ulul albab seorang yang selalu membangun hubungan dengan Allah Swt. dengan banyak ibadah, terutama memperbanyak bangun malam, bersujud dimana sebagian besar manusia tidur nyenyak. Disini mereka mengadukan segala hal persoalan hidup terutama yang menyangkut kepentingan umat, mmengharapkan pertolongan Allah Swt. mengharapkan ampunan dan ridhoNya. Mereka selalu ingat baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, sendiri, atau dalam beramai-ramai. Sehingga jika boleh disimpulkan ulul albab sosok muslim yang sempurna. Intelektual yang taqwa, soleh, ahli dzikir. Pemikir plus ketaqwaan,Intelektual plus kesalehan.

Inilah yang diharapkan oleh umat bahwa Pendidikan Tinggi Islam mampu menghasilkan,memproduk atau menerbitkan lulusan yang bersosok ulul albab. Bukan sekedar menjadi sarjana yang cuma mampu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat rutinitas, baku dan membosankan. Jika sekedar itu yang dituju, nampaknya tidak perlu kita bersusah-susah memeras otak dan dana yang besar, sebab itu bisa ditempuh dengan pendidikan ketrampilan. Lulusan yang dibutuhkan umat Islam adalah mereka yang mampu membangun masyarakatnya menjadi manusia yang cakap kehidupan beragamanya, dan canggih teknologinya. Dengan kata lain Islam mengharapkan dari jenjang pendidikan tinggi melahirkan ilmuan yang intelektual, berahlakul karimah, soleh, taqwa meskipun seperti apa yang dicapai pada peringkat ulul albab.

Kehidupan terpelajar atau dunia intelekual (kampus) pernah terjadi pergeseran nilai pada abad pertengahan dimana kaum terpelejar mencemoohkan tokoh dan kehidupan beragama. Sains menjadi idolanya, karena dianggap cuma berurusan dengan hal-hal yang empiris, mereka mengabaikan tuntunan dan ajaran agama. Tetapi dikala kelompok terpelajar mengidolkan sains, banyak juga yang mengkritisi sains dan mengajak orang kepada kepekaan agamawi. Banyak tokoh mulai berbicara tentang perasaan keagamaan, dan beberapa ahli fisika dengan yakin mengatakan: Kita sedang berjalan menghampiri ambang agama. Perasaan keagamaan mereka berbeda dengan perasaan keagamaan massa; perasaan keagamaan yang berada di atas sains- keyakinan keagamaan yang suprasains. Menurut Ali Syariati, masa depan dunia akan diwarnai oleh kelompok ini. Ia berkata, mazhab pemikiran masa depan berbeda dengan mazhab kaum terpelajar kini- adalah mazhab pemikiran yang agamawi- suatu keyakinan keagamaan yang tidak lebih tinggi dari pada sains .

Kita tidak bisa menjawab dan membuktikan pemikiran ke depan Ali Syariati dengan tepat, sejarahlah yang akan membuktikannya. Belakangan ini banyak kita temuai terutama di kampus-kampus marak sekali dengan kehidupan dan kegiatan yang bernuansa keagamaan. Bukan saja dalam bentuk serimonial seperti peringatan hari-hari besar islam. Tetapi kajian keagamaan seperti diskusi, kuliah umum, lokakarya atau latihan kepemimpinan nuansa agamanya begitu kental. Belum cara berpakaian, terutama dari kaum wanitanya begitu islami. Fenomena ini terjadi juga justru diluar kampus Universitas Islam, kampus umum. Gerakan-gerakan islam umumnya dipimpin oleh kaum intelektual. Masjid hampir menggeser kampus sebagai markas pusat pemikiran dan pengembangan Islam. Ilmuan yang pernah belajar di barat dan mengelukan teknolgi, sains dan kemajuan budayanya, kini kembali dengan kecintaan kepada Islam. Para mahasiswanya lebih dalam penghayatannya kepada Islam ketimbnag pendahulunya. Dengan mengambil gaya bahasa Ali Syariati, kehidupan keislaman mereka berbeda dengan orang kebanyakan. Islam mereka adalah suprasains, sebuah potret pengamalan agama yang didasari oleh ilmu pengetahuan dan kesadaran yang tinggi. Apa yang mereka temui dalam dunia sains ternyata bersumber dari ajaran Islam. Inilah yang tambah kuat keyakinan, keimanan dan kebenaran Islam di mata mereka. Bila masa lalu banyak orang mencemooh Islam sebagai lambang keterbelakangan, dan merasa bangga meniru barat, kini muncul kaum intelektual yang fasih berbicara masalah Islam dan mengkritik barat. Mahasiswa sudah gencar membicarakan Al-Ghazali, Al-Madudi, Sayid Kutub, Mutahhari, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan pemikir-pemikir Islam lainnya. Jadi zaman baru Islam sudah mulai menyingsing. Akan lahir masyarakat yang memiliki keyakinan keagamaan yang suprasains.

Kelompok ini memang belum banyak dan meninggi atau mewarnai kehidupan Islam. Belum berada di atas atau di bawah kerucut, tetapi embriyo ini sudah jelas menghasilkan, tinggal bagaiman kita memupuk dan memeliharanya. Sebab kelompok ini didominasi kelompok muda yang membutuhkan semangat dari kaum seniornya. Karena yang tidak senang juga cukup banyak jumlahnya, atau paling tidak semangat keislamannya masih mengambang. Pada dinamika interaksi ini, dimanakah letak posisi kaum intelektual Islam, sebagai manusia yang dikaruniai dengan kelebihan ilmu. Maka apakah tanggungjawab mereka untuk membentuk masyarakat kampus yang tegak diatas nilai-nilai Islam. Penulis ingin menyampaikan dalam tulisan ini adalah membuktikan bahwa intlektual muslim, adalah manusia yang terikat dengan kewajiban menerapkan nilai-nilai Islam. Berikutnya adalah menjelaskan dengan merujuk kepada Al-Quran, kewajiban moralitas dan metode kaum intelektual muslim, dalam memikul tanggungjawab menjalankan syari’ah islam dan sekaligus memperjuangkannya.

Dalam masyarakat berbahasa Inggris, orang akan tercengang mendengar sebutan intelektual ditujukan kepada orang yang sama sekali tidak menaruh perhatian perkembangan budaya bangsanya, demikian tulis sastrawan Subagio Sastrowardoyo . Bila kita mengambil pengertian intelektual seperti dalam bahasa Inggris, maka seorang ilmuan muslim yang tidak menaruh perhatian kepada perkembangan umat islam, tidaklah layak disebut sebagai intelektual muslim, mereka hanya sibuk mengajar di kampus, peneliti atau sebagai petugas administratif. Mereka tidak tertarik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan kampus, tidak peka terhadap gairah masyarakat kampus menyerap nilai-nilai kampus. Serta sikap lainnya yang tidak mendatangkan kemajuan islam secara keseluruhan, tidaklah bisa disebut sebagai intelektual muslim . Jadi seorang intelektual mereka yang peka dan sensitive terhadap perubahan yang terjadi masyarakatnya. Dalam dirinya ada semangat mengeritik, mencari jalan keluar, memberikan pedoman, memperjuangkan nilai-nilai yang berorientasi kedepan. Al-Gazali sebagai sufi pernah berkirim surat sebagai suatu protes kepada penguasa di negrinya, Ibnu Taimiyah bukan semata-mata ahli fiqih ketika ia memimpin perlawanan tentara mongol. Kyai Sentot, Kyai Maja, Imam Bonjol, Kyai Giri Kedaton, dan lainnya, menjadi intelektual ketika mereka mengubah umat yang pasif, meniupkan ruh jihad, dan menanamkan kepercayaan diri disamping mengerjakan syari’at Islam.

Tidaklah adanya jaminan mereka yang masuk kelompok kaum terpelajar menjadi intektual, atau seorang ilmuan muslim menjadi intelektual, susah memang kita memastikannya. Namun jika akan dibagi pembagian tugas bisa saja sebagian pengembang ilmu pengetahuan, dan yang lainnya terikat dengan perjuangan Islam. Yang pokok adalah bagaimana kita memaksimalkan kemampuan dan posisi kita untuk membela dan memperjuangkan islam. Bukankah yang menjadi ukuran adalah amal seseorang, bukan jabatan atau status sosialnya.

Apabila ada seorang intelektual muslim tidak mengamalkan atau tidak bekerja membangun masyarakat, kuranglah terpuji, sebab mereka memperoleh ilmu menggunakan sumber daya masyarakat muslim, atau pemerintah, atau dari keluarga muslim. Perkembangan ilmu bukan saja dibiayai swasta atau perseorangan, tetapi juga oleh pemerintah yang memperoleh dari masyarakat. Sekian juta uang rakyat dipakai untuk membiyai seorang sarjana setiap tahun. Milyaran rupiah uang rakyat digunakan untuk membiayai universitas, lembaga-lembaga pendidkan, atau lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Sains bukan lagi urusan perorangan, tetapi juga urusan sosial. Karena itu, hanya ilmuan robot yang hati nuraninya tidak terusik untuk membaktikan ilmunya bagi peningkatan kualitas hidup masyarakatnya. Hanya ilmuan menara gading yang terbenam di laboratorium, dan melepaskan masyarakat di sekitar nya. Lebih-lebih ilmuwan Frankenstein yang memanfaatkan sumbangan masyarakat buat mengembangkan ilmu yang menindas masyarakat .

Dengan begitu nampaknya kita mempunyai alasan yang sama bahwa tidaklah disebut sebagai ilmuan muslim bila tidak menghidupkan dan mempejuangkan Nilai-nilai keislaman dalam lingkungan masyarakatnya, padahal mereka dibesarkan dan mendapat pendidikan oleh masyarakat. Pada masa lalu ketika mereka belajar masyarakat mempunyai tanggungjawab, sekarang waktunya menunjukkan tanggungjawab kepada masyarakat.

Bila kita membicarakan tanggung jawab, kita harus merujuk kerangka etis tertentu, tentu saja harus mengacu dari sumber-sumber nilai Islam. Bagaimana ahlaknya dalam melaksanakan kewajiban di masyarakat serta metodenya yang sesuai dengan kedudukannya sebagai intelektual muslim.

Dr. Muhammad Mahmud Hijazi menyebutkan delapan sifat ulul albab. Menurut saya, dua sipat pertama menunjukkan kewajiban, tiga sifat berikutnya menunjukkan ahklaq, dan sifat-sifat terakhir merinci metode ulul albab dalam melaksanakan kewajibannya. Butir-butir ini juga saya anggap mendasari pembicaraan tentang tanggungjawab intelektual muslim dalam menerapkan nilai-nilai Islam .

Al-Quran menyebutkan dua kewajiban intelektual muslim: memenuhi janji Allah SWT. Dan menyambungkan apa yang Allah SWT. perintahkan untuk menyambungkannya. Perjanjian Allah ini disebut Mistaq. Dr. Muhammad Mahmud Hijazi mendefinisikannya sebagai apa yang mengikat dari mereka dalam hubungan antara mereka dengan Tuhan mereka, antara mereka dengan mereka, dan antara mereka dengan manusia . Seorang intelektual muslim harus menjaga komitmen nya dengan menjalankan dan membela nilai-nilai islam, karena keberadaan mereka di masyarakat sebagai konsultan problematika yang menyangkut banyak aspek kehidupan. Termasuk menghubungkan iman dan amal cinta kepada Allah dengan cinta kepada manusia. Menghubungkan dengan kelompok-kelompok islam yang bertentangan, sehingga tumbuh ukhuwah islamiyah, menghubungkan umat dengan imam mereka, menghubungkan ulama diniah dengan ulama ukhrawiyah, menghubungkan ilmu dengan agama, menghubungkan ibadah dengan muamalah. Sehingga kedudukan intelektual islam mempunyai tugas mempersatukan umat apabila terjadi perbedaan baik yang disebabkan masalah fiqih, atau muamalah atau perbedaan mazhab. Disamping itu juga mempersatukan aliran pemikiran yang terjadi pada tingkat antar intelektual, terutama di Pendidikan Tingginya, agar antara ilmu dan akal, sains dan syari’ah, atau ibadah dengan muamalah selalu kesemua itu terkondisikan dengan baik.

Segala apa yang menjadi daerah operasionalnya diatas hanya didasari oleh satu sikap yaitu cuma takut kepada Allah SWT. Sikap ini menunjukkan disamping tanggungjawabnya sebagai intelektual muslim, apa yang dilakukan jangan sampai keluar dari ketentuan Allah SWT; jika itu yang terjadi. Maka bukan saja di dunia kerugian itu ditemui tetapi diakhirat tanggaungjawab itu lebih besar resikonya.

Untuk mencapai semua tujuan yang menjadi tanggungjawabnya seorang intelektual muslim yang pertama diperhatikan adalah salat. Karena dari sinilah akan terlihat apakah ia seorang muslim yang taat atau tidak. Sebab banyak mengaku sebagai intelektual muslim namun cuma fasih berbicara diatas mimbar atau forum diskusi saja, jarang ke masjid atau musholla. Sementara itu kita tahu masjid sebagai sentral dan sumber kegiatan umat islam yang utama. Coba perhatikan ketika Rasul hijrah dari Mekkah ke Madinah yang paling pertama beliau bangun adalah masjid bersama para sehabat.Dari sinilah berangkat nilai-nilai keislaman dan konsep perjuangan umat islam dibicarakan dan dijadikannya sebagai jantung pusat islamisasi kampus. Masjid kampus juga bisa dijadikan sebagai gerakan mobilisasi dan menggalakan infaq. Sikap ini harus terlihat sehingga sehingga gerakan keislaman tidak lagi mengandalkan keuangan dari anggaran lembaga kampus yang minim dan jauh dari kebutuhan. Cara Islam mengumpulkan dana dari umatnya banyak sekali ragamnya, tinggal bagaimana membangun kesadaran umatnya sendiri. Dalam Al-Quran banyak ditemuai ayat yang memerintahkan kita mencari dana atau menggalakan infaq dan sudah tersedia konsep itu, bahkan boleh dan bisa dilakukan secara tersembunyi (antar perorangan) atau bisa juga dilakukan dengan cara terbuka (semacam fund raising campaign). Banyak kegiatan dan program umat islam tersendat karena masalah biaya (financial). Sikap lain yang harus ditunjukkan sebagai intelektual muslim adalah berani berkata dan beriskap baik dalam hal yang baik dan buruk. Dengan kata lain berani menolak yang jelek dengan yang baik. Tentu saja bisa dijabarkan secara lebih jauh lagi. Sekian method tersebut haruslah menjadi acuan bagi inteklektual muslim baik di kampus, atau di tempat lain, terlebih di masyarakat yang persoalannya jauh lebih kompleks dibandingkan persoalan yang timbul di kampus.

Pendidkan Integratif khususnya yang berada pada Pendidikan Tinggi Islam, haruslah mampu memproduksi dan mengkader Intelektual Muslim secara sistematis berdasarkan kerangka akademis dan nilai-nilai keilmiyahan kampus yang ada disetiap pendidikan tinggi islam. Sikap seperti ini mestinya mengkristal pada setiap pribadi muslim terpelajar. Sebab pertanggungjawaban intelektual muslim sangat berat, apalagi dimasa mendatang, dimana persaingan global tidak bisa dihindari. Mana mungkin kita mampu bersaing dengan orang lain (non muslim) jika tidak didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mampu berkompetitif. Jangan sampai masyarakat islam mempunyai sikap apatis, skeptis, pasif, dan netral terhadap perkembangan dan permasalahan yang dihadapi oleh dunia islam secara mikro, atau dunia kampus secara makro.

Keberhasilan umat islam dan mengusai peradaban dunia di masa lampau, karena para intelekualnya mampu menunjukkan tanggungjawabnya terhadap agama dengan cara melakukan banyak penelitian dan kejian keilmuan serta praktek-praktek ilmiyah lainnya. Disamping ketekunan mereka mengkaji sains, namun tidak mengurangi ketekunan mereka dalam mengkaji ilmu syari’ah, bahkan mereka menjadi pemikir yang cukup sufistis, baik dalam konsep pendidikannya atau dalam aplikasi kehidupannya di masyarakat. Janganlah kita menolak perubahan selagi perubahan itu mendatangkan nilai-nilai kehidupan yang lebih baik. Menimbulkan dampak yang positif, tidak sebaliknya memunculkan dampak negatif. Apabila kemajuan teknologi yang berangkat dari ilmu pengetahuan umum dihadapi dengan perpaduan kekuatan ilmu agama dan umum (Syari’ah-Sains) semakin terbuka umat islam mengusai peradaban dunia kembali. Karena kehidupan dan cara mereka membangun umat dengan cara yang sudah benar yaitu melalui pendekatan yang berngkat dari Al-Quran dan Al-Hadis, di mana keduanya merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim dan Rasulullah SAW. menjamin umatnya tidak akan tersesat jalan hidupnya selama berpegang teguh pada kedua ajaran pokok islam tersebut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar