Jumat, 28 Oktober 2016

pendidikan vokasi



ABSTRAK
Lebih dari sebuah agama, Islam telah lama dikenal sebagai prinsip hidup yang universal. Banyak ajaran-ajaran dalam Islam, terutama tentang interaksi sosial antar masyarakat yang sangat kompatibel dengan kehidupan manusia. Sistem perekonomian misalnya,  Islam sejak berabad-abad lalu mengenalkan kita kajian tentang ekonomi Islam dalam prinsip muamalah. Hal ini juga secara empiris dapat diketahui melalui cerita-cerita sirah Nabawiyah yang terjaga sampai sekarang. Salah satu yang menarik dari ajaran Islam tentang mumalah adalah semangat kewirausahaan. Nabi Muhammad SAW merupakan contoh terbaik untuk referensi prinsip wirausaha. Jika dikaitkan dengan perkembangan perekonomian saat ini, khususnya di Indonesia,kita tengah mempersiapkan diri menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean. Sebauh kesepakatan untuk menajdian kawasan Asean lebih kuat dan besar  melalui integarsi perekenomian antar-negara. Penelitian ini bermaksud menjembatani kebutuhan sumber daya manusia untuk menghadapi MEA. Dengan menyatukan prinsip ekonomi islam melalui sekolah-sekolah kejuruan untuk menciptakan tren wirausaha yang lebih mapan dan sesuai ajaran agama.

VOCATIONAL EDUCATION AND ENTREPRENEURSHIP : THE STUDY OF ISLAM IN THE ERA OF ECONOMIC  DEVELOPMENT IN MEA
More than a religion, Islam has been known as a universal  life guidance. Plenty of Islamic thoughts and wisdom, mainly about how people interact each other, are very compatible with today’s life. For example, the economic islamic principles, for centuries Islam brought us so many perfect literatures about Muamalah. This fact is also supported by the flawless history of The Prophet Muhammad SAW. One of the most attractive thoughts about Muamalah is the spirit of enterprenuership in Islam. The Prophet has been the best role model for becoming a successful enterpreneur. This point of view would fit when it is mirrored to today economical world, mainly in Indonesia, while we all preapering ourselves to face Asean Econimic Community (AEC). A very challenging economical dealings amongst Asean countries by integrating its economic activities. This research is aimed to bridge those two things, the spirit of Islamic enterprenuership and the preparation towards AEC.By compiling the islamic principle through vocational schools, to create a better and religious enterpreneur.
Kata Kunci : Pendidikan Vokasi,Wirausaha, Ekonomi Islam, Mea  





PENDIDIKAN VOKASI DAN WIRAUSAHA: KAJIAN ISLAM DALAM MEMBANGUN EKONOMI MENGHADAPI ERA MEA
ABD.BASIT
A.Latar Belakang
Salah satu fungsi  pendidikan bagi manusia yang  penting dan strategis adalah mendorong terjadinya perubuhan hidup manusia berupa kesejahteraan lahir.  Sebagai khalifah manusia dituntut mampu merubah dan manpaatkan potensi alam yang kaya ini untuk kepentingan dan kebahagian umat mansuai walau pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individu, pendidikan mampu mengembangkan potensi diri menjadi manusia yang berakhlaq mulia, berwatak, cerdas dan kreatif. Disamping itu pendidikan juga dapat  mengembangkan potensi atau bakat (talenta) yang mereka miliki. Degan demikian semakin banyak orang yang terdidik maka semakin maju dan beragam ketrampilan yang terjadi .
Sistem Pendidikan Nasional Indonesia bertujuan membangun kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsayang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa,bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berahlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri, dan demokratis serta bertanggungjawab (Undang-undang Pendidikan Nasional No20 Th.2003 Bab II pasal 3) .Dengan kata lain iklim dan suasana kegiatan pendidikan di republik ini harus mampu menghantarkan anak didik (lulusan)  bukan saja menjadi manusia yang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan ilmu dengan menumbuhkan pemikiran yang visioner namun tetap dilandasi dan  didukung oleh nilai kerohanian yang tinggi.
Islam agama yang sempurna bukan saja mengatur  hubungan antara Manusia dengan Allah SWT (ibadah) tetapi juga mengatur hubungan antar manusia (muamalah) salah satunya melakukan interaksi sosial dalam bentuk membangun hajat hidup manusia diantaranya memproduksi barang dan jasa.  , bahkan Islam memerintahkan kepada manusia untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik dengan cara mendidik karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda. Artinya Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menggali potensi diri secara maksimal melalui pendidikan sesuai dengan bakat (talenta) yang dimiliki termasuk membuka seluas-luasnyanya pendidikan kejuruan dan vokasi.Islam mendorong umatnya untuk mencari dunia sebanyak mungkin bahkan ketika berusaha harus termotivasi seperti kita akan hidup selamanya.Tentu saja hal ini mengajarkan kepada umat untuk menciptakan lapangan pekerjaan dengan berwirausaha sesuai dengan bakat dan kemampuan,sehingga terjadi interaksi kegiatan jual-beli (pasar) yang saling menguntungkan karena terjadinya transaksi.
Ketika Rasulallah SAW memerintahkan umatnya untuk datang ke Cina mencari ilmu, tentu saja yang dimaksud bukan ilmu agama (dien) karena pada waktu itu islam belum menjadi pilihan hidup dalam beragama, tetapi lebih pada penggalian ilmu keduniaan atau ketrampilan dan kejuruan yang berimbas pada terjadinya pertumbuhan ekonomi di kalangan umat islam, karena pada saat itu Cina sudah sangat maju peradabannya dengan memiliki sumber daya manusia trampil khususnya dalam mengelola potensi alam dengan berbagai macam bentuk industri kerajinannya sebagai embrio pengembangan ekonomi, bahkan sampai sekarang Cina menjadi negara yang paling kuat ekonominya.
اطلب العلم ولو  باالصين
Artinya : Tuntutlah ilmu walau sampai ke negri Cina (HR Ibnu Abdul Barr)
Dalam hal ini umat islam Indonesia seharusnya lebih maju dibandingakan umat lain terutama dalam mengelola perekonomian, karena mempunyai potensi danmodal besar yang bernilai ekonomi seperti jumlah penganutnya yang mayoritas tentu membutuhkan pelayanan kebutuhan ekonomi yang besar juga. Disamping itu bumi ini diwariskan untuk orang-orang soleh, bukan sebaliknya.Namun demikian kita harus mengakui bahwa sampai saat ini perekonomian baik pada tingkat regional, nasional bahkan internasional masih dikuasai oleh non muslim. Inilah problem umat islam yang hingga kini belum teratasi.Tantangan kita kedepan untuk bersaing dalam bidang ekonomi semakin besar dan sulit karena sudah terjadinya persaingan global bidang ekonomi setelah berlakunya pasar bebas antara Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).Pasar bebas ini bisa menjadi petaka jika kita tidak mampu bersaing dengan negara lain, baik pada hasil industri, jasa, pendidikan , kesehatan, sosial, ketrampilan dan home industri  mereka lebih maju. Masalah ini jelas memerlukan penanganan yang baik dan serius dari pemerintah baik dalam bentuk kebijakan maupun peningkatkan pembangunan ekonomi.




  1. Pendidikan Vokasi
Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI) sebuah negara besar dikawasan asia bahkan tingkat dunia merupakan negara kaya karena jumlah penduduknya yang besar, lautan dan daratan dengan hasil laut dan barang tanbangnya semua itu menyimpan kekayaan dahsyat. Aset inu jika dikelola dengan baik akan menghantarkan negara ini menjadi negara makmur kerena mempunyai  peranan penting dalam percaturan ekononomi dunia.Namun semua itu sukar untuk direalisasikan jika tidak didukung oleh sumber daya manusia (human resources) yang baik seperti dengan menggalakan pendidikan kejuruan pada tingkat menengah atau pendidikan vokasi pada tingkat pendidikan tinggi dan menggalakkan industri lokal dan rumahan (home industri)
Badan Perencaaan Pembangunan Nasional (Bappenas 2016), menyebutkan kebutuhan akan tenaga terampil dan kompeten guna menggarap sektor unggulan pembangunan amat mendadak.Bappenas juga menyarankan agar perguruan Tinggi (PTN-PTS)  lebih adaptif dengan kebutuhan pembangunan,diantaranya dengan memaksimalkan jurusan/program studi yang relavan dengan sektor unggulan pembangunan.Peranan ini juga harus  lebih mengaktfikan dan mengoftimalisasikan pada pendidikan level menengah seperti sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai menunjukkan visi dan misi sekaligus road map  yang bersangkutan bagi pendidikan bangsa ke depan.( Media Indonesia, 13 juni 2016)     
   Pendidikan terbagi dalam tiga kelompok besar yakni pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan peserta didik melanjutkan pendidikan ke Universitas,  karena kajian ilmunya menekankan pada kajian teoritis. Sementara itu pendidikan kejuruan dan vokasi selain mendalami aspek teoritisnya juga menggalakan practikalnya sebagai ajang latihan menuju dunia industri dan usaha .Disamping itu juga ada pendidikan profesi yang dilakukan oleh para sarjana untuk mengambil dan mendalami ilmu tertentu seperti pengacara,dokter specialis, akuntan, ahli keuangan, bahkan menjadi seorang pendidik.Dalam UUD 45 sebagai dasar hidup benegara mengatur potensi alam pada pada BAB XIV pasal 33 ayat 2 dan 3 
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran .Sebab itu harus dikuasai oleh negara   dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara (UUD 45 Bab XIV Pasal 33 )  
 Kekayaan alam bagi bangsa besar ini semuanya  untuk kemakmuran rakyatnya. Perundangan  tersebut diatas baru sebatas teori dan rujukan hukum, belum menyentuh aspek ke langlah kongkrit berupa penyediaan tenaga terampil yang terdidik dari sekolah kejuruan, vokasi atau pendidikan poli teknik sebagai tenaga kerja dengan keahlian terapan tertentu sehingga kekayaan itu seakan tidak berdampak langsung pada bangsa ini karena kita masih dikuasai oleh tenaga asing yang bekerja sebagai tenaga ahli mengola potensi alam indonesia. Mereka bukan saja memobilisir tenaga kerja dengan gaji yang sangat timpang dan tidak berimbang dengan tenaga kerja pribumi. Mereka juga dengan leluasa mengangkutnya kenegara mereka guna dioleh sehingga menjadi bahan komoditi tingkat dunia seperti emas yang terjadi di freeport, gas di daerah aceh dan banyak kilang minyak di kalimantan dan cepu terekploitasi dengan bebas oleh bangsa asing dengan dalih kerjasama padahal mereka menguras kekayaan kita dengan dalih azas saling menguntungkan bersama, padahal jika disadari  ekonomi kita terjajah     
Bangsa Indonesia masuk daftar penduduk terbesar dan terpadat di dunia bahkan menempati rangking empat dunia .Potensi ini tentu saja merupakan modal besar bagi bangsa kita. Karena disamping besarnya jumlah penduduk sebagai usia produktif, kita juga negara terkaya dengan sumber alamnya, namun sayang masih sedikit tenaga ahli (expert)   sehingga banyak kegiatan produksi besar di sektor riel dikuasai  orang asing.  Akibatnya kekayaan tersebut lebih banyak ninikmati oleh tenaga asing dibandingkan oleh bangsa kita. Jawaban kongkrit untuk mengatasi kegersangan tenaga terampil cuma bisa teratasi melalui pendidikan,khususnya pendidikan kejuruan dan vokasi bagi generasi muda. Pendidikan ini dipandang sebagai unsur pokok dalam pembangunan.
Seperti Penulis katakan diatas bahwa tujuan pendidikkan kita mengamanahkan tersedianya tenaga-tenaga terampil dengan skill tinggi dan siap pakai baik melaui sekolah kejuruan (SMK) pada tingkat sekolah menengah atau vokasi (Universitas). Para lulusannya  diharapkan mampu memasuki dunia kerja. Jadi ada misi yang diemban sekolah kejuruan  dan pendidikan Poli Teknik untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang profesional.  
Pendidikan memberikan sumbangan dalam menciptakan kader-kader yang terpelajar dan khusus dalam pembangunan sumber-suber material.Selanjutnya patut juga kita pandang pendidikan itu sebagai investasi yang produktif dan memperlakukannya atas dasar itu. Ini barmakna bahwa pendidikan itu adalah industri produksi yang menjalankan norma-norma produktifitas industri (Hasan Langgulung,2001: 5)

Jika kita mengamati perkembangan tenaga kerja kita yang bekerja, baik  bekerja di dalam atau diluar negri, mereka kalah bersaing dengan negara asean lainnya.Seperti sering kali mengalami masalah karena perbuatan kriminal atau dalam bidang ketrampilan, bahkan pada mental bekerja. Masalah ini menunjukkan bahwa pendidikan kejuruan atau vokasi kita masih memerlukan perbaikan yang serius, baik secara kurikulum (konsep) atau tenaga pendidik (instruktur)
Usaha ini memang belum maksimal bila kita bandingkan dengan negara jepang, korea selatan,Taiwan, Australia bahkan termasuk jerman, minat masuk Pendidikan Tinggi hanya sekitar 10 % hingga 15 % , sisanya memilih pendidikan vokasional.
Di Australia pendidikan vokasi merupakan pendidikan yang diutamakan dengan tingkatan (level) beragam yaitu dengan memberikan pengetahuan kepada siswanya yang berhubungan dengan profesi sehingga siswa terus menekuni pembelajaran secara runut ( Peter Fieger, 2015)  mereka bisa eksis pada jalur vokasi karena didukung oleh kurikulum yang konsisten.
Alangkah baiknya jika pemerintah juga memplopori dan peduli dengan perkembangan pendidikan tinggi poli teknik atau program vokasi di Unversitas Swasta dengan cara meningkatkan kwalitas pendidikannya, mulai dari merekrut dosen, kurikulum yang terintegrasi sesuai dengan kebutuhan pasar, serta memperkuat kerjasama dengan perusahaan atau industri untuk program magang sesuai dengan keahlian vokasi yang didalaminya
.Pendidikan vokasi pada tingkat lanjut (Politeknik-Vokasi) memiliki tujuan utama termasuk menyediakan para siswa dengan kemampuan profesional atau kepegawaian dan menyiapkan mereka untuk masuk pada pekerjaanyang spesipik (Micheal Knoll)
Penyelenggaraan pendidikan memang perlu direformasi sehingga mewujudkan pendidikan terpadu yang mencakup jalur, sistim, tujuan, kurikulum, proses pembelajaran, lokasi termasuk menajmen pendidikannya.Diharapkan keterpaduan ini bisa menghasikan sumber daya manusia (SDM) unggul pada bidang dan keahlian yang kuat dalam keimanan,moral, kebangsaan,mengusai ilmu dan teknologi sehingga mampu menjawab persoalan dan perkembangan zaman yang sangat cepat bergerak. Sebenarnya manusia ideal seperti ini bisa dipersiapkan jika saja arah pendidikan terutama pada jalur kejuruan dan vokasi benar-benar terkonsep baik oleh para pertinggi negara khususnya yang membidani pendidikan.
Dinegara  german dan australia mereka mempunyai lembaga kejuruan yang terorganisasi yang menawarkan kursus-kursus yang berkesinambungan secara langsung berhubungan dengan pesiapan individu baik yang dibayar atau tidak ( Perkins Act, 1990 )

  1. Pandangan Islam
Dalam sejarah tercatat bahwa Rasulallah SAW termasuk orang yang pandai berdagang dan pekerja keras yang memiliki rasa tanggungjawab besar terhadap majikannya bahkan hal ini Beliau lakukan hampir menyamai masa perjuangan beliau menyampaikan agama Islam di tengah bangsa arab yaitu 23 th. Beliau pengusaha sukses. Dalam menjalankan perniagaan tersebut  sangat menjunjungtinggi nilai-nilai kejujuran dan keterbukaan dalam bertransaksi seperti tidak menawarkan harga diluar pasaran, kwalitas barang terjaga,melayani pembeli dengan ramah termasuk menjaga nama baik majikan yang memberikan kepercayaan menjualkan barangnya (produsen) Sikap ini mendatangkan simpati bukan saja dari orang yang mempunyai barang dagangan tetapi juga datang dari para pembeli. Salah satunya mengundang simpati Siti Khadijah sebagai majikannya yang kemudian menjadi istri Rasulallah SAW.dimana  mas kawin yang beliau berikan sebanyak 20 ekor unta klas super yang bila dikonversikan milyaran rupiah suatu jumlah yang sangat pantastis ( Abu Faris, 1997)
Profesionalisme Rasulallah SAW dalam berusaha diikuti oleh para sehabat terutama  khulafaurrasyidien.Mereka mempunyai nilai harta ratusan milyard samapi trilyunan rupiah. Abu Bakar As Sidik ketika memerdekakan Bilal bin Rabah menggelontorkan uang sebanyak 141 juta rupiah, suatu jumlah yang menghebohkan.Demikan pula  umar dan usman.  Para sehabat lainnya diantara yang terkenal adalah Abdulrahman bin Aup seorang konglomerat yang sangat ulung dalam berdagang (berusaha) terutama pada properti dan produk yang mendapat pasaran bagus  sebagai contoh ketika Rasul bersama sehabatnya hijrah ke Madinah waktu itu orang non muslim menguasai perdagangan dan berperan dalam menentukan mekanisme pasar. Dengan kelihaian beliau beserta dukungan dari kaum ansor lainnya lambat laun orang islam mengusai pasar di kota madinah bahkan mampu menggeser orang pribumi. Contoh ini menggambarkan bahwa dalam Islam berusaha apapun bentuknya selama tidak melanggar hukum (muamalah) mendapat posisi terhormat. Lebih lanjut jika kita membaca para pejuang dan para mujahid tidak sedikit mereka melakoni dawah sambil berdagang, termasuk para Rasul lainnya, mereka senang berusaha. Dalam Islam untuk memenuhi konsumsi jasmani adalah harus hasil usaha sendiri. Karena wirausaha adalah membutuhkan ketrampilan, waktu dan kondisi yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Rasul pernah berkata “Anda lebih tahu tentang urusan dunia anda” artinya kita harus bekerja dan berusaha dengan inovasi dan kebutuhan Pasar bukan mengaharap belas kasih dari orang lain.Rasulallah SAW juga bersabda
“Tidak ada yang lebih baik dari pada makan dari keringat hasil usahanya sendiri. Demikian Nabi Daud AS pun makan dari hasil tangannya sendiri (HR.Bukhori-Imam Djalaludin Abu Bakar As-Suyuti Abdurrahman ) dalam hadis lain dikatakan “Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah “ (HR Ibnu Umar-Sayyid Ahmad Al Hasyimi)
Begitu mulianya seorang muslim yang berusaha sehingga mereka mendapat tempat dan penghargaan yang tinggi, bahkan jika seorang bapak maninggal sedang melakukan usaha untuk keluarganya maka digolongkan sebagai mati syahid.Islam telah mengatur kehidupan manusia dengan tertib, terencana dengan efesiensi dan ekektifitas waktu yang baik.Firman Allah SWT dalam Al Qur’an
وجعلنا نومكم سباتا وجعلنا اليل لبا سا وجعلنا النهار معاشا
Artinya :  Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari kehidupan (QS.30.9-11)
Pada kesempatan  lain  Rasulallah Muhammad SAW bersabda
         المؤمن القوي خير واحب الى ا لله من المؤمن الضعيف وفى كل خير
Artinya : Seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Allah daripada seorang Mukmin yang lemah, tetapi keduanya ada kebaikan (HR Muslim)
  Jika bangsa kita lengah dan lalai, dapat dipastikan kita kalah bersaing dalam Era MEA. Hal ini bisa terjadi karena mereka lebih maju dunia pendidikannnya seperti Singapore, Philipina,vietnam, Malaysia, Laos,Vietnam, Brunai. Persolan ini benar-benar harus terkawal terutama dari para tokoh pendidikan islam harus berperan dan bertanggungjawab menyiapkan sumber daya manusia.Karena manusia yang dibutuhkan untuk mampu bersaing pada era MEA tersebut adalah manusia unggul secara komprehensif, technical skill, intelektual skill,comonication skill, spritual skill, emotion skill dan moral skill. Maka pendidikan islam harus memiliki keunggulan, sehingga mampu melahirkan manusia yang memiliki keunggulan secara komprehensif.Seperti meggalakkan kembali dan terus mensosialisasikan pendidikan islam Profetik ( pendidikan yang yang berbasis kepada misi kenabian ) kepada umat islam dari tingkat dasar sampai Pendidikan Tinggi aktif dengan mengerahkan masyarakat pada koridor yang sesuai dengan ajaran Islam dalam memasuki Asean Comunity.(Abuddin Nata,2, 2016)


C.Era Masayarakat Ekonomi Asia (MEA)
Dewasa ini masyarakat di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) Indonesia, Malaysia, Singapura,Brunai Darussalam, Thailand,Kamboja,Vietnam dan Laos bersepakat untuk mengubah kondisi daerah kawasan Asia Tenggara menjadi kawasan stabil,makmur dan komprehensif dalam membangun berbagai aspek kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, hukum dst.terutama pada sektor ekonomi.Dengan pertimbangan ini maka muncullah istilah yang disebut sebagai MEA(Masyarakat Ekonomi Asean) Dengan Mea inilah semua bangsa dengan rakyatnya boleh melakukan kegiatan dan diberi kebebasan tindakan ekonomi dengan memasarkan berbagai macam produknya (barang jasa), dan investasi. Oleh karna itu akan timbul pasar tunggal dan basis produksi yang meliputi kebebasan dalam menjual barang, jasa, investasi, modal dan tenaga terampil menjadi ukuran utama untuk merebut pasaran karena adanya integrasi pasar global yang tidak bisa terhindari, negara yang bagus sumber daya manusia tentu saja akan memimpin dan merebut pasaran. Jadi yang menjadi ukuran bukan lagi modal finansial, tetapi justru pada kemampuan vokasional dan kejuruan.Bangsa indonesia sebenarnya belum siap untuk besaing,karena masih minim SDM  profesional komprehensif yang memiliki daya saing.
Walau demikian, bangsa kita mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh negara anggota asean (asean comunity) lainnya diantaranya memiliki pasar yang besar sebagai akibat dari jumlah penduduknya diatas dua ratus juta, sumber daya alam yang melimpah,pertumbuhan ekonmi yang relatif stabil,pengalaman sebagai bangsa pedagang, jumlah produk lokal yang sangat variatif, jumlah lulusan Pendidikan Tinggi yang berjiwa berwiraswasta, penggunaan teknologi yang relatif tinggi ( Abuddin Nata,2016:5)
  Hal ini akan terjadi persaingan(competition) diantara mereka untuk merebut konsumen antara negara dikawasan asia tenggara.Tentunya yang akan menjadi pemenang (The Winner) adalah yang paling unggul (the best) Semua ini membuat negara dituntut untuk membangun kwalitas dan mutu dalam produk jasa, investasi dan sebagainya.(kompas,3 Desember, 2015)
Untuk menghadapi pasar bersama dengan segala konsekewensinya sudah tidak bisa lagi ditolak, karana sudah menjadi kesepakatan antar negara.Konsep yang paling jitu adalah menggalakan pendidikan kejuruan dan vokasi dengan segala bidang agar kedepan masyarakat indonesia mampu bersaing di pasaran bursa kerja baik pada tingkat produksi atau tenaga terampil seperti yang telah dimiliki oleh negara asean lainnya khususnya Singapura dan Philipina.



Kesimpulan
Pemerintah kita terus melakukan pembenahan pada pendidikan kejuruan,vokasi dan wirausaha khsusnya bagi genarasi muda agar kekosongan tenaga kerja yang dibutuhkan pemerintah kita terlebih sudah berlakunya era perdagangan bebas pada tingkat Asia Tenggara (Asean). Alasan ini sebenarnya tidak berlebihan, karena bangsa kita menyadari pada sektor ini kita tertinggal jauh terutama dengan singapura yang sudah eksis menggandalkan sektor jasa sebagai devisa negara serta upaya meningkatan kesejahteraan rakyatnya.
      Upaya ini sudah menghasilkan, hal ini terbukti dengan terpilihnya Indoensia masuk nominasi Bidang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan ( Education for Sustanainable Devlopment) yang diberikan Unesco serta dunia Internasional karena berhasil menciptakan program yang dirancang utuk menciptakan wirausahaan baru berbasis keunggulan dan daya saing lokal untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat
. Tentu saja prestasi ini,dampak kedepan sangat diharapkan pembangunan pendidikan seperti ini dan harus bermuara pada munculnya ekonomi lokal yang mencukupi, interaksi masyarakat yang kohesif dengan mempertahankan budaya lokal dan menajmin pendidikan melalui praktek nyata, dan berubahnya pola pikir dan mental, serta prilaku komponen bangsa yang didukung oleh pendidikan yang lebih komprehensif khususnya pada bidang vokasi.
 Adanya Persaingan dalam hidup ini adalah bagian dari ujian manusia dalam berkarya yang dalam bahasa Agama disebut amal, termasuk dalam mencari materi melalui wirausaha.Islam sangat memberi apresiasi kepada umatnya untuk mencari dunia ini dengan memaksimalkan potensi dan modal yang dalam pribadi. Islam memerintahkan kepada umatnya untuk mencari dunia semaksimal mungkin dan melarang umatnya yang cuma mengharapkan belas kasihan, tanpa usaha dengan bergantung nasib.Dunia yang diwarisi untuk orang soleh tidaklah gratis tanpa perjuangan, tetapi membutuhkan tangan terampil dan jiwa kewirausahaan (tijaroh) yang tinggi bagi setiap muslim.Sejarah mencatat bahwa Para Rasul  khsusnya Nabi Muhammad SAW beserta para sehabat adalah para wairausahawan sukses dalam zamanya.Hal ini juga dicontoh oleh para pemuka Islam, Mujatahid dan Ulama yang berdawah sambil menjalankan usahanya, bahkan sejarah mencatat munculnya Islam di Republik ini dilakukan oleh para pedagang muslim yang datang dari gujarat.     


     




















Daftar Pustaka
Act, Parkins, (1990 ) Question, Institut of education science
Abdurrahman,Imam Jalaluddin Abu Bakar As-Suyuti, Jami Shaghier, Kairo: Darul Arqam
Al Hasyim, Sayyid Ahmad, Muchtarul Ahadis Nabawiyah,Semarang: Usaha Kelaurga
Amir, Ja’far, (1975) Dua Ratus Hadis Pilihan, Semarang: Toha Putra
Departemen Agama RI (1993) Al Qur’an dan Terjemahan ,Jakarta: Yayasan Penterjemah Al Qur’an
Departemen Pendidikan Republik Indonesia,(2003) Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional,Jakarta: Jambatan
Fieger, Peter, (2015) Determinants of course completions in vocational education and training evidence from australia
Knoll,Michal, (2015) The project method:Its vacational education origin and international development
Langgulung,Hasan, (2002)  Peralihan Paradigma Dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta:Gaya Media Pratama
Nata, Abuddin, (2016)  Islam Profetik, Jakarta: Universitas Islam Negri
Sekretariat Negara (2003) , Kitab Undang-undang Dasar 1945
Berita Harian Kompas, (2015)  Jakarta: Gramedia Group
Berita Harian Media Indonesia (2016) Jakarta : PT Citra Media Nusa Purnama










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar