Minggu, 22 Agustus 2010

SIKAP CERDAS SAHABAT


Suatu ketika Rasulallah SAW. Menginspeksi para sahabat yang berada dalam satuan perang siap tempur,tujuan adalah Nabi Muhammad SAW.ingin meminta maaf kepada para sehabatnya apabila dalam memimpin di medang laga khususnya telah melakukan kesalahan.Inilah salah satu sikap Rasulallah SAW.terhadap para sehabatnya, yaitu tidak menunda-nunda kebaikan walaupun itu dilakukan terhadap orang yang menjadi bawahannya.
“ Apakah ada diantara kalian yang pernah aku sakiti tetapi aku tidak menyadarinya” demikian ucap Beliau di tengah kerumunan sehabatnya. Sudah pasti tidak ada satupun sehabat yang menjawab, karena mereka tahu dan sadar benar bahwa mereka tidak pernah disakiti oleh Rasulallah SAW baik secara sadar ataupun tidak, kalaupun ada itu bukan dianggap suatu kesalahan. “ Tidak Ya Rasulallah,” demikian jawaban itu terlontar secara serempak dari para sehabat.
Tetapi setelah itu terdengar dari tengah gemuruh suara sehabat tadi dengan ucapan  “ Ada Ya Rasulallah SAW, aku pernah kau sakiti, ketika engkau sedang merapikan pasukan berkuda dengan menggunakan pecut, lalu pecut itu mengenai diriku, tetapi mungkin kau tidak menyadari “ demikian ucap sehabat di tengah keheningan suasana. Rasul berkata” sekarang apa yang kau kehendaki dari diriku “ Beliau menjawabnya. Kata sehabat “ Aku akan membalas sesuai dengan kesalahan yang engkau perbuat terhadap diriku.” Mendengar jawaban yang lantang dan cukup berani itu para sehabat terasa terusik bahkan marah, terutama Umar ibnu khatab yang terkenal agak temperemental, berani dan tegas, apalagi menyangkut diri Rasulallah SAW. Kata beliau wahai umar biarkan dia membalas saya dengan  cara memecut diriku sebagai mana kesalahan yang aku lakukan menurut persinya.Disini terlihat sekali sikap kepemimpinan Beliau yang kesatria sebagai seorang panglima terhadap prajuritnya, tanpa mengklarifikasi tuduhan tersebut, namun langsung diterima sebagai kesalahan dirinya. “ Coba maju kedepan dan sekarang pakailah pecut ini untuk memecut tubuhku sebagai balasan dan tebusan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu “ demikian ujar beliau. Bagaimana reaksi sehabat tersebut, dia tidak langsung memecut Rasulallah SAW. Tetapi barujar lagi “ Ketika aku terpecut aku dalam keadaan tidak memakai baju sehingga terasa sekali dan membekas di badanku, oleh karena agar adail dan seimbang balasan itu maka bukalah bajumu sebelum aku memecutmu “ mendengar jawab ini para  sehabat semakin geram melihat tingkah sehabat itu karena dianggap sudah melampawi batas dan bertindak tidak sopan terhadap diri Nabi yang mulia, namun Beliau mencegah aksi sehabat lainnya. “ Baiklah sekarang Aku buka bajuku dan cambuklah “ apa yang dilakukan sehabat itu, diluar dugaan bukannya memecut Rasulallah SAW. Tetapi dia memeluk dengan erat tubuh Rasulallah SAW. Yang mulia dan menciuminya sehungga tubuhnya dengan tubuh Nabi bersatu. Lalu Rasulallah SAW. Berkata “ Kenapa engkau tidak memecutku malah memeluk dan menciumi tubuhku “ sehabat berkata bahwa tubuh seorang umatmu yang pernah menyentuh tubuhmu tidak akan tersentuh oleh api neraka, oleh karena aku berpikir dengan cara seperti inilah aku dapat memelukmu dengan erat dengan rasa cinta dan haru karena aku bahagia telah memelukmu. Rasulallah SAW. Membiarkan karena sebahat itu benar. Para sehabat yang lain terdiam dan terpesona dengan sikap sehabat yang cerdas itu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar