Rabu, 27 Oktober 2010

MENGENAL AJARAN SUFI


Para pakar tasawwuf banyak berbeda pendapat dalam memberikan definisi sufi. karena memang aspek, pandangan serta tinjauannya yang berbeda. namun sebagai perbandingan, ada beberapa definisi yang dapat Penulis temukan.
Kata shufi atau shufiyah, diartikan diartikan sebagai orang yang selalu mengamalkan ajaran tasawwuf dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya rumusan definisinya telah dikemukakakn oleh para ulama tasawwuf, antar lain:
  1. Asy-Syeikh Muhamamd Amin al-Kurdy
Sufi adalah orang yang hatinya jernih dari kehidupan yang buruk dan terisi pengajaran (dari Tuhan) serta kemurnian bagaikan emas dan tanah liat[1].
  1. al-Qusyairi
Sufi adalah orang yang tidak pernah merasakan letih (bila) mencari (keridhaan Allah), dan tidak pernah susah (bila) ditimpa suatu sebab (cobaan)[2]
  1. Imam al-Ghazaly
Sufiyah adalah ahli ibadah yang telah melakukan suluk dengan nur (petunjuk) ihsan (perbuatan mulia)[3].
Setalah Nabi resmi mdiangkat menjadi Rasul, ia mulai melaksanakan tugasnya, dan menanamkan keimanan dan akhlak mulia kepada masyarakat Quraisy.
Meskipun Nabi sebagai kepala pemerintahan, ia masih tetap memilih kehidupan yang sederhana, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para sahabatnya, bahwa di rumah beliau hanya terdapat selembar tikar dan makanan yang sederhana. Dna kadang-kadang juga Nabi dan keluarganya berpuasa karena tidak ada makanan di rumahnya.
Selanjutnya dituturkan dalam riwayat Imam Bukhary, bahwa pada suatu hari Aisyah mengeluh kepada keponakannya yang bernama Urwah dengan mengatakan: ”Lihatlah hai urwah, kadang-kadang dapurku setiap hari tidak pernah berfungsi (tidak pernah masak), sehingga aku sering bingung. Maka Urwah belaik bertanya; ’Apakah ayng engkau makan setiap hari ?’ jawab Aisyah, paling untung kalau kami mandapatkan beberapa buah kurma dan air biasa; kecuali bila ada tetangga yang mengantarkans esuatu kepada Rasulullah, baru kami bisa merasakan makanan atau minuman susu segar”[4].
Apabila Rasulullah SAW mendapatkan rezeki, ia malah cepat-cepat membagikannya kepada fakir-miskin. Dan pada suatu ketika, beliau hendak menunaikan salat di masjid, tiba-tiba teringat bahwa masih ada pundi-pundi emas dan perak yang tersimpan di rumahnya. maka beliau mempercepat salatnya, lalu pulang ke rumahnya dan mengambil benda tersebut, kemudian dibagikan kepada fakir-miskin yang bermukim di sekitar rumahnya.
Ketika beliau sakit keras, beliau memerintahkan kepada keluarganya agar uang yang senilai tujuh dirham yang masih tersimpan padanya, segera dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya. Sehinga diriwayatkan bahwa ketika Nabi wafat, ia tidak mewariskan harta benda kepada keluarganya. hal in menggambarkan bahwa pertumbuhan tasawwuf berasal dari sikap dan amalan rasulullah SAW yang dituntun oleh wahyu Ilahi[5].
Demikian juga para sahabat, terutama para khulafaturrasyidin, mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, bahkan mereka menjadi guru bagi pendatang dari luar kota Madinah yang tertarik pada kehidupan sufi.
Islam telah mencapai tujuannya yang sebenar-benarnya dalam masa yang gilang-gemilang itu. Kaum muslimin telah berjaya oleh kejayaan dalam segala bidang, bidang agama, siasat perang, politik dan pemerintahan, sosial dan budi pekerti, dan dalam bidang ilmu pengetahuan sebagai hasil dari ajaran Islam yang murni itu.
Kesejahteraan dan keamanan masyarakat Islam pada abad pertama hijriah ini berakhir dengan pembunuhan Usman ibn Affan. Usman termasuk sahabat Nabi dan pejuang yang pertama, seorang yang sudah dijelaskan di masa hidupnya sebagai ahli surga, seorang yang berjasa dalam mengumpulkan wahyu-wahyu Tuhan serupakan sebuah kitab suci bagi ummat Islam, orang yang sudah mengorbankan seluruh kekayaannya untuk Islam, membiayai seluruh peperangan.
Terutama dalam abad kedua hijriah bagian pertama, timbul pulalah ajaran-ajaran baru yang penuh dengan hikmah. Katanya orang tidak puas lagi dengan hukum fiqh yang kering. Orang lalu memakai istilah-istilah yang pelik mengenai kebersihan jiwa. thaharatunnafsi, kemurnian hati, naqaul qalbi, hidup ikhlas, menolah pemberian orang, bekerja mencari makan dengan tangan sendiri, berdiam diri, seperti yang dianjurnkan oleh Ali Syaqiq al-Balkhi, Ma’ruf al-Karakhi, menyedikitkan makan, memerangi hawa nafsu dengan khalwat, malakukan perjalanan dan safar, puasa, mengurangi tidur atau sahar, serta memperbanyak zikir dan riadhah seperti yang dianjurkan oleh Ibrahim ibn Adham[6].

Kita ketahui bahwa agama Islam masuk ke Indonesia tidak langsung dari tanah Arab tetapi melalui negeri Persia dan India, dibawa oleh para pedagang atau orang-orang yang memang datang khusus untuk menyebarkan Islam. Sekitar abad keempat atau kelima hijriah. Pada masa itu paham sufi dan tasawwuf sedang tersiar luas dan mendapat perhatian umum dari negara-negara Islam, termasuk pula Indonesia. Dalam sejarah Wali Songo kita dapati Syeikh Sitti Jenar yang mempertahankan pendirian fana dan kesatuan antara Khalik dengan makhluk, yang dinamakan ittihad, di samping Sunan Kali Jaga yang mempertahankan Ahli Sunnah bersama dengan para wali yang lain, lalu mengambil tindakan terhadapa Syeikh Sitti Jenar itu. Di Aceh Hamzah Fansuri menyiarkan paham bersatu dengan Tuhan itu, di samping Abdur Rauf Singkil yang menyiarkan paham Islam yang sebenarnya untuk memberantas paham ittihad dalam ketuhanann itu, yang dianggapnya sesat dan menyesatkan.
Oleh karena itu di Indoensia pun sejak ketika itu sebenarnya sudah terdapat pertentangan paham gerakan ilmu lahir dan ilmu batin, golongan yang dinamakan syariat dan golongan yang dinamakan hakikat.
Keberadaan para tokoh sufi memang mempunyai latar belakang yang berbeda. Di antara mereka mempunyai status sosial yang berbeda-beda. Taraf hidup keberagamaan. keilmuan, keturunan yang lebih istimewa, tidak semua dari mereka berangkat dari orang-orang yang menekuni agama secara baik. Dengan kata lain tingkat ibadahnya belum mencerminkan sebagai pengamal tasawwuf.
Ada di antara mereka menjadi atau berkelakuan sufi disebabkan karena peristiwa atau musibah berat khususnya penyakit, tetapi mereka bisa terhindar dan lolos ayng secara logika kecil kemungkinannya untuk selamat. Sebagai contoh, Ust. Arifin Ilham, seorang tokoh kegiatan Dzikir (sudah dibahas) pernha mengalami peristiwa hebat yang membuatnya mati suri. Peristiwa tersebut membawa perubaha besar pada dirinya, di antaranya sebagaia rasa syukur atas pertolongan Allah SWT. Sering melakukan dzikir dan ibadah sunnah lainnya. Terus memperdalam agama, b ukan saja untuk dirinya tetapi mengajak orang lain dengan membuat Jama’ah  Dzikir. Dalam waktu yang tidak lama, jama’ahnya bertambah banyak dan berkembang sampai sekarang. Contoh lainnya, seperti Alm. Gito Rolies yang akhir hidupnya diisi dengan da’wah islamiyah dan gaya hidupnya yang berubah total menjadi seorang muslim yang kuat dengan menjalani hiudp sufi, baik perbuatan atau ucapannya serta cara berpakaiannya.
Sebagai perbandingan bila kita melihat dan memperlajari kehidupan para sahabat Nabi, atau dari kelompok tabi’in, mereka diawali oleh kehidupan yang jauh dari nilai-nilai agama, atau bahkan menentangnya. Tetapi karena ada pengalaman atau peristiwa yang menimpanya, akhirnya mereka sadar dan berbalik menjadi manusia pilihan dan banyak yang meneladani mereka, baik kata atau perbuatan. Pola hidup mereka bergitu teratur, sesuai dengan ajaran agama, perhatian hidupnya benar-benar dicurahkan untuk kepentingan agama. Sikap kedermawanannya yang hebat, ibadah merke seakan tidak mengenal lelah, jujur, amanah dan mempunyai akhlakul karimah dalam bermasyarakat.
Terutama di Jawa, paham-paham ilmu batin, pikiran-pikiran sufi yang disiarkan oleh Wali Songo itu sangat mempengaruhi kehidupan Islam di Jawa, dan sampai sekarang masih kelihatan gemanya dalam gerakan-gerakan batin yang banyak muncul.


[1] Kuliah Akhlaq Tasawwuf, drs. Mahjuddin, Jakarta, Kalam Mulia, 1991, hal. 49
[2] Drs. Mahjuddin, Op. Cit, hal. 50
[3] Drs. Mahjuddin, Op. Cit, hal. 50
[4] Mahjuddin, Op. Cit, hal. 60
[5] Mahjuddin, Op, Cit, hal. 61
[6] Prof. DR. Hamka, Op. Cit, hal. 57

TASAWUF DAN KECERDASAN SPIRITUAL

            Sebagai agama yang sempurna Islam bukan saja mengatur urusan ibadah. Tetapi Islam juga mengatur bagaimana urusan dunia yang erat hubungannya dengan antar manusia berjalan dan tertata dengan baik. Setiap urusan apapun bentuk dan aspeknya, agama dapat menjawab semua itu. Oleh karena itu al-Quran dan al-Hadits merupakan jawaban yang selalu tepat pada zaman dan masa apupun.
Persoalannya adalah apa yang ada pada kedua pedoman dan sumber tersebut, mampukah kita mencerna, dan memahami dengan baik dan benar. Jika ada persoalan yang belum terjawab dan teratasi mestinya kita berintrospeksi kedalam diri kita sendiri. Bukan meninggalkan dalil naqli yang ada pada keduanya. Dengan kata lain penyelesaian kebutuhan hidup hendaknya didasari oleh ajaran Islam yang optimal. Jangan sekedar mengambil, bisa jadi salah penerapan atau bisa saja menjadi salah pemahaman sehingga hasilnya justru menambah masalah. Banyak ibadah dilakukan bukan karena merupakan kebutuhan hidup, melainkan lebih kepada pribadi yang tidak menutup kemungkinan cuma jasmani saja terpenuhi. Kemajuan teknologi, budaya, sosial ekonomi dan pendidikan menyebabkan kebutuhan manusia semakin kompleks, kebutuhan hidup baik yang menyangkut masalah pribadi ataupun kelompok tidak bisa dihindari. Akirnya manusia sebagai pelakunya dituntut untuk meladeni dan mengimbangi persaingan yang gagal. Tentu saja timbul rasa pesimis, frustasi, mungkin gelisah dan tidak mengerti kemana hidup ini akan berakhir. Sebenarnya banyak manusia merasa puas jika urusan jasmaninya terpenuhi, dianggap persoalan hidup selesai sudah. Ternyata baik yang gagal atau yang suskes mempunyai kadar yang didasarkan pola penilaian tersirat material namun lahiriah mentalnya tidak siap. Emosional rohaniah harus dihidupkan kcerdasan spiritualnya terus ditajamkan. Jadi semuanya harus berjalan seiring, tidak ada yang lebih penting, semuanya diperlukan. Tidak ada dikotomi ilmu seperti teori barat yang memisahkan spiritual, dengan dunia. Antara dzikir dan piker. Sebab jika rohani rapuh, maka sendi sosial budaya dan ekonomi menjadi rapuh. Harus ada ntegrasi secara menyeluruh dan komprehensif bagi seluruh masalah terlebih kepuasan batin. Semuanya dengan satu tujuan bagaimana rohani mereka tidak kering, selalu segar dan memiliki kemauan besar membangun kembali potensi rohani yang ada di dalam diri setiap orang. Potensi jasmani dibangun dengan cara bersifat material. Tetapi kebutuhan rohani dengan cara pendalaman, pemahaman dan sekaligus pengamalannya. Inilah yang sekarang menjamur di perkotaan yaitu kajian tasawwuf dan dzikir yang persertanya berasal dari kalangan menengah ke atas.

II. ASAL-USUL KATA TASAWWUF

Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawwuf. Dari segi linguistik (bahasa) ini segera dapat dipahami bahwa tasawwuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana.
Adapun pengertian tasawwuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantung pada sudut yang digunakannya masing-masing. Selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawwuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang harus selalu berjuang dan manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan.. Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, maka tasawwuf dapat didefinisikan sebagai upaya menyucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT[1].
Selanjutnya jika sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, tasawwuf dapat didefinisikan dengan upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT[2].
Pembahasan mengenai tasawwuf pada intinya adalah pembahasan mengenai masalah perpecahan dan perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan caraetimologis arti tasawwuf itu sendiri masih diperselisihkan oleh banyak ahli baik dari kalangan ulama sufi, salaf, ataupun ahli bahasa. Secara garis besar pendapat-pendapat tersebut dapat diterangkan sebagai berikut. Tasawwuf berasal dari kata shaff yang artinya barisan dalam salat berjamaah. Alasannya, seorang sufi mempunyai iman yang kuat, jiwa yang bersih, dan sealu memilih shaf terdepan dalam salat berjamaah[3].
Dalam buku Tasawwuf Modern Hamka menyatakan arti tasawwuf dan asal katanya yang menjadi pertikaian para ahli bahasa. Setengahnya berkata bahwa perkataan itu diambil dari perkataan shafa’ yang artinya suci dan bersih. Sebagian lagi mengatakan bearasal dari kata shaf artinya bulu binatang, sebab orang-orang yang memasuki tasawwuf itu memakai baju dari bulu binatang, karena benci mereka pada pakaian yang indah-indah, pakaian ’orang dunia’ ini. Dan kata sebagian lagi diambil dari kata shuffah, ialah segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan dirinya di suatu tempat terpencil di samping masjid Nabi. Kemudian ada juga dari perkataan shufanah, ialah sebangsa kayu yang mersik tumbuh di padang pasir tanah Arab. Tetapi setengah ahli bahasa dan riwayat, terutama di zaman yang akhir ini mengatakan bahwa perkataan shufi itu bukanlah berasal dari bahasa Arab, melainkan bahasa Yunani lama yang telah diarabkan. Asalnya theofisme, artinya Ilmu Ketuhanan, kemudian diarabkan dan diucapkan dnegan lidah orang Arab sehingga bertransformasi menjadi tasawwuf[4].
Walupun pengambilan perkataan itu tidak seragam, bahasa Arab atau Yunani, namun dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan kaum Tasawwuf, atau shufi itu ialah kumpulan yang menyisihkan diri dari orang banyak, dengan maksud membersihkanhati, memakai pakaian yang sederhana, hidup kurus kering bagaikan kayu di padang pasir, atau memperdalam penyelidikan tentang hubungan makhluk dan Khalik.
Tasawwuf adalah salah satu filsafat Islam, yang maksudnya bermula ialah hendak zuhud dari dunia yang fana. Tetapi lantaran banyaknya bercampur gaul dengan negeri bangsa lain, banyak sedikitknya masuk jugalah pengajian agama dari bangsa lain ke dalamnya. Karena tasawwuf bukanlah agama, melainkan suatu ikhtiar yang setengahnya diizinkan oleh agama dan setengahnya pula tidak sadar, telah tergelincir dari agama, atau terasa enaknya pengajaran agama lain dan terikut dengan tidak diingat.
Ibnu Khaldun berkata: ”Tasawwuf itu adalah semacam ilmu syariah yang timbul  kemudian di dalam agama, aslanya ialah bertekun beribadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah saja. Menolak hiasan-hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu mendaya orang-orang, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah[5].
Demikianlah kalua kita dengarkan kupasan Ibnu Khaldun, yang meneropong suatu perkara dari segi ilmu pengetahuan. tetapi ahli-ahli tasawwuf yang terbesar mempunyai pula kaidah tersendiri tentang arti tasawwuf itu.
Ada yang berkata: ”Tasawwuf ialah putus hubungan dengan makhluk dan kuatnya hubungan dengan Khalik”.
Al-Junaid berkata: ”Tasawwuf ialah keluar dari budi, perangai yang tercela dan masuk kepada budi, perangai yang terpuji”[6].
Jika diperhatikan dari berbagai pandangan atau definisi yang dibuat para pakar tasawwuf di atas satu dan lainnya dihubungkan, maka segera tampak bahwa tasawwuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia sehingga tecermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. dengan kata lain, tasawwuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. inilah esensi atau hakikat tasawwuf.


[1] Definisi tersebut dirangkum dari sejumlah definisi tasawwuf yang dikemukakan para ahli seperti ma’ruf al-Karkhy (w. 200 H), Abu Turab al-Nakhsaty (w. 245 H), Sahl ibn Abd Allah al-tusary (w. 283 H). Lihat Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, IAIN Sunatera Utara, Pengantas Ilmu Tasawwuf, 1981/1982, hal. 3 - 4
[2] Definisi tersebut dirangkum dari sejumlah pendapat para ahli, di antaranya al-Qusyairi, al-kanany, an-nury dan Sam nun. lih, ibid, hal. 5
[3] DR. Abdurrahman Abdul Khaliq Ctc, Pemikiran Sufisme di bawah Bayang-bayang Fatamorgana, Jakarta, Amzah, hal. 11
[4] Prof. DR. Hamka, Tasawwuf Modern, Jakarta, Panji Mas, hal. 12
[5] Prof. DR. Hamka, Op. Cit, hal. 13
[6] Prof. DR. Hamka, Op. Cit, hal. 13

Selasa, 19 Oktober 2010

FIGUR PENDIDIK

Kebehasilan atau kesuksesan seorang pendidik di hadapan para muridnya bukan disebabkan guru itu pandai dan profesional dalam menekuni profesinya sebagai pendidik, atau bisa juga karena status sosialnya seperti keturunan dari seorang kaya raya, cendikiawan, bukan itu yang menjadi ukuran, kalaupun ada itu bukan sebagai faktor penentu. Tetapi adalah sejauh mana guru dapat membangun komonikasi yang baik dengan para peserta didiknya, baik di luar atau di dalam kelas..

Untuk membangun itu diperlukan kesiapan mental yang besar terutama kesabaran dan tidak gampang marah.Jangan sekali-kali seorang guru karena statusnya merasa lebih pintar,gagah,menyepelehkan,mau menang sendiri, arogan atau sikap lain yang kurang mencerminkan seorang guru.Dengan kata lain guru harus mempunyai sikap sabar dan teladan yang tinggi dihadapan murid-muridnya. Jika ini sudah melekat pada seorang guru akan timbul rasa simpati murid, dan akan terjalin komonikasi yang sehat, yang pada akhirnya murid termotivasi untuk lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

Mari kita lihat bagaimana Rasulallah SAW. bisa menjadi guru yang sangat dicintai oleh para sehabat atau orang lain ketika menerima pelajaran. Suatu ketika Baliau sedang menyampaikan materi da'wah di masjid dengan dihadiri oleh para sehabat, tiba-tiba datang dari arah depan seorang arab badui ( pedesaan ) tidak lama kemudian si arab baduii itu buang air kecil di dalam masjid tanpa permisi lagi dan tidak merasa malu atau takut..Melihat kejadian ini para sehabat merasa jengkel dan marah kepadanya, tentu saja kemarahan ini bisa dimaklumi sebab itu artinya tidak menghormati Rasul dan masijid sebagai tempat suci. Salah seorang sehabat bangun yaitu Umar ibn Khotob yang terkenal gagah dan pemberani akan memukul badui itu karena sudah kurang ajar lagi. Melihat gelagat ini Rasul barkata " Wahai Umar, jangan kau marahi dan ganggu, biarkan dia sampai selesai membuang hajatnya. lalu ambilah air dan siramkan najis itu sehingga bersih kembali"

Kemudian, selesai itu  lalu arab badui itu berdiri dan menyatakan masuk Islam dengan mengucap dua kalimah sahadah, lalu berkata" saya akan sampaikan kepada penduduk disana atau orang kampungku bahwa aku sudah menjadi seorang muslim dan menjadi pengikut Rasulallah SAW. yang mempunyai ahlakul karimah, bersehabat, berbudi pekerti mulia, penyebar dan tidak mudah menyalahkan orang lain." 

Dari kisah ini dapat kita mengerti bahwa andai kata Rasul SAW bertindak marah dan membiarkan Umar memukulnya yang tergambar oleh badui itu adalah orang Islam pemarah dan tidak bijaksana, tetapi yang paling penting adalah da'wah Rasul SAW menjadi gagal, islam tidak tersebar..Dalam konteks pendidikan komonikasi belajar dapat berjalan dan terjalin dengan baik sekali anatar murid dengan guru, bahkan antar murid dengan murid ( para sehabat lain ) Jadi kesabaran  dan menghargai orang lain serta tidak merasa gagah, arogan dan menang sendiri khususnya di dalam kelas. Itu bukanlah karakter atau figur seorang guru yang sukses. Seorang pendidik dikatakan sukses dan berhasil menyampaikan pesan materi bila sudah mampu membangun dirinya dengan lingkungan kelas dan  menjadi figur pendidik yang dicontohkan oleh Rasulallah SAW. 

.





Minggu, 17 Oktober 2010

PENDIDIKAN KARAKTER

Saat ini muncul banyak muncul di berbagai media baik cetak atau elektronik dari para petinggi atau pejabat negara yang mengatakan sudah saatnya negara tercinta ini melakukan terobosan baru dalam dunia pendidikan yaitu dengan lebih menitik beratkan atau memperhatikan pendidikan yang seimbang, antara pembentukan inteletual dengan pembentukan spritual, dengan kata lain dunia pendidikan harus mampu membentuk lulusan yang mempunyai karakter, bahkan jika perlu porsi itu diberiwaktu khusus.       

Keprihatinan ini timbul dengan melihat gejala bahkan sudah menjadi masalah serius bangsa ini yaitu semakin merajalelanya praktek korupsi, nepotisme, tindakan amoral dan asosial, jual beli hukum dan pemutusan perkara seta perbuatan tercela lainnya yang menyebabkan kerugian negara dan indivudu. Hal ini ditimbulkan karena para pejabat auat oknum yang berada di dalamnya cuma pintar dan pandai akalnya saja. Mereka mampu membangun tatanan administrasi secara normatif dengan baik berangkat dari teori dan pengalaman yang mereka pelajari dari bangku kuliah. Namun tidak demikian ketika berhadapan dengan sesuatu yang membutukan karakter pribadi yang kuat atau jati dirinya ketika membaca sumpah jabatan. Misalnya ketika ada kesempatan melakukan kecurangan dalam menjalankan profesinya dengan mudah sumpah jabatan itu dilanggarnya, bisa memenangkan orang yang salah, atau menyalahkan orang yang benar, atau hal lain yang dilarang mengerjakannya karena merugikan.
   
Seorang pejabat atau apapun namanya terlebih sebagai muslim  mestinya tidak bisa digoyahankan oleh rayuan atau iming-iming pemberian yang melanggar amanah, jika tidak, berarti karakter pejabat tersebut rendah dan tidak bisa mengemban amanah dengan baik. Ada satu kisah ketika Khalifah ibn umar sedang melakukan kegiatan atau kunjungan di sebuah desa yang dekat pegunungan didapati seorang pekerja pengembala kambing yang sedang mengawasi kambing majikannya  yang ratusan jumlahnya. Umar berkata kepada pengembala tersebut sambil ingin tahu dan menguji kejujuran pengembala itu "bolehkah aku minta kambing ini dengan imbalan uang dari ku , atau aku membelinya, bukankah majikanmu tidak mengetahuinmya, atau bilang saja dimakan serigala " mendengar tawaran itu, si pengembala yang lugu dan sudah pasti tidak memahami apa itu pendidikan karakter menjawab " tidak bisa, sebab aku takut, benar memang majikanku tidak melihat, atau bisa saja aku berbohong, tetapi ada satu Zat yang melihat dan memperhatikan hambanya yaitu Allah SWT. yang maha tahu segalanya " Mendengar jawaban itu Umar ibn khotob terkegum dan terheran-heran dengan sikap kejujuran yang ditampilkan oleh si pengembala itu.

Jadi untuk membentuk karakter yang kuat dalam diri seseorang tidak cepat dengan begitu saja terbentuk, tetapi memerlukan waktu dan pembinaan yang yang lama bahkan yang tidak kalah pentingnya adalah faktor keteladan. Coba lihat para sehabat, mereka mempunyai kepribadian yang kuat karakter kerohaninnya seperti sikap amanah dan jujur sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh rayuan atau bujukan yang merugikan pihak lain. Kenapa itu bisa melekat dengan kuat pada pribadi mereka ? jawabnya adalah mereka mempunyai teladan yang kuat yaitu didikan dan ajaran dari Rasulallah SAW.yang selalu menanamkan ahlakul karimah pada setiap persoalan. Sebab jika seorang sudah mempunyai ahlaq yang baik, pasti sikap jujur dan amanah menyertainya. Pemerintah kita tidak bisa melukan terobosan instan dengan penggalakan pendidikan karakter melalui sekolah atau perguruan tinggi saja, itu tidak cukup, tetapi  harus dibarengi dengan contoh dari para pejabat atau mereka yang mempunyai pengambil kebijakan di negara ini. Coba lihat mengapa pengembala yang orang dusun dan jauh dari pendidikan mempunyai kerakter yang baik, sebab Umar ibn Khotob sebagai pemimpinnya  sudah memulai dan mencontohkan kepada rakyatnya. Semoga bangsa kita cepat merubah diri dengan membangun karakter bangsanya menjadi lebih mulia !!! 

  .

Senin, 11 Oktober 2010

MEMBENTUK ULUL ALBAB

Dalam bahasa agama intelektual islam merupakan bagian dari profil sebutan seorang Ulul Albab . Dalam Al-Quran ulul albab disebut enam belas kali. Menurut Al-Quran ulul albab adalah sekelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Diantara keistimewaanya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksanaan, dan pengetahuan, disamping pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan dan sipatnya empiris. Dalam Al-Quran dikatakan
ي يؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد اوتئ خيرا كثيرا وما يذكر الا اولوا الالبب (البقرة )

Artinya : Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya, dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebijakan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab ( QS.2: 269 )

Dalam terjemahan departemen Agama hikmah diterangkan adalah mereka yang diberi kependaian untuk memahami Al-Quran dan Hadis secara baik. Jadi ada kelebihan tersendiri bagi ulul albab dalam memahami persoalan. Karena memang diberikan daya cerna berpikir yang lebih tajam yang kebanyakan orang biasa tidak mampu membaca dan menginterpretasikannya. Seorang ulul albab dari sisi keilmuan bisa jadi mungkin tidak jauh dari pengertian intelektual muslim, tetapi ada pendektatan spritual yang lebih. Disamping ilmuan juga seorang ahli ibadah. Inilah yang menyebabkan hikmah diberikan kepadanya. Ketika mengaplikasikan pemikirannya tidaklah bertolak dari teori saja yang bersifat baku, tetapi unsur wahyu menjadi acuan utamanya.

Sebelum itu kita mengenal ulul albab, ada hal yang penting bagaimana tinjauan bahasa Indonesianya yaitu sarjana, ilmuan, intelektual. Sarjana yaitu mereka yang memperoleh gelar sarjana setelah selasai belajar di Universitas. Sementara ilmuan adalah seorang yang mendalami ilmunya kemudian mengembangkan ilmunya, baik dengan pengematan maupun dengan analisanya. Kemudian intelektual bukan sekedar seorang yang sudah melewati masa pendidikan pada pendidikan tinggi, tetapi juga berpikir, terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Seorang yang terlibat .secara kritis dengan nilai, tujuan, dan cita-cita yang mengatasi kebutuhan praktis . Intelektual disebut juga kaum terpelajar, atau biasa disamakan dengan kelompok terpelajar .

Di dalam masyarakat islam, seorang yang disebut intelektual bukan saja memahami serah bangsanya, dan sanggup melahirkan gagasan-gagasan analitis normatif yang cemerlang, melainkan juga mengusai sejarah islam seorang Islomologis. Untuk penegrtian ini, Al-Quran mempunyai istilah khusus: Ulul Albab. Bagaiman tanda-tanda ulul albab, selain beberapa keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT. kepada mereka. Ada tanda lain yang perlu diperhatikan pertama bersungguh-sungguh mencari ilmu, seperti disebutkan dalam Al-Quran:
والرسحون فئ العلم يقولون أ ما ن به كل من عند ربنا وما يذكر إلا اولواالا لبب (ال عمران )

Artinya : Dan orang-orang yang mendalami ilmunya berkata kami beriman kepada ayat-ayat yang mutsyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami dan tidak dapat mengambil pelajaran(dari padanya) melainkan para ulul albab. (QS. 3:7)


Ketika mereka memperoleh ilmu pengetahuan tidaklah digunakan cuma untuk keperluan pribadi, atau golongan, tetapi ilmu yang dimiliki untuk kepentingan masyarakat luas. Sebab disadari bahwa ilmu merupakan amanah yang harus disampaikan kepeda yang memerlukannya. Perlu dikembangkan tentunya sesuai dan memperhatikan perkembangan ilmu itu sendiri. Seperti kemajuan teknologi dengan segala aspeknya. Mereka merenungi kejadian sekitar, sebab phenomena alam merupkan kekayaan dan merupakan sumber kehidupan yang besar dari Allah SWT. untuk keperluan manusia. Tanda lain ulul albab seperti sebagai berikut:
إن فئ خلق السموات والارض واختلف اليل والنهار لأ يت لأ ولئ الالبب (ال عمران )
Artinya : Sesungguhnya, dalam proses penciptaan langit dan bumi, dalam pergiliran siang dan malam, adalah tanda-tanda bagi ulul albab ( QS. 3 : 190 )

Abdus Salam, Seorang muslim pemenang nobel, melalui teori unifikasi gaya yang disusunnya, berkata Al-Quran mengajarkan kepada kita dua hal yaitu tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan ciptaan Allah SWT. di langit dan di bumi, kemudian menangkap hukum-hukum yang terdapat di alam semesta. Tafakur inilah yang disebut sebagai science. Tasyakur adalah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah Swt. dengan menggunakan akal pikiran, sehingga kenikmatan itu makin bertambah, dalam istilah modern tasyakur disebut teknologi. Ulul albab merenungkan ciptaan Allah SWT. di langit dan di bumi, dan berusaha mengembangkan ilmunya sedemikian rupa, sehigga karunia Allah Swt. dilipatgandakan nikmatnya.

Tanda kedua mampu memisahkan yang jelek dari yang baik, kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. Allah SWT. berfirman:
قل لايستوئ الخبيث والطيب ولوأعجبك كثرة الخبيث فا تقوا الله يا ولئ الالبب لعلكم تفلحون (الما ئد ة ) ( الما ئد ة )

Artinya : Katakanlah, tidak sama kejelekan dan kebaikan, walaupun banyaknya kejelekan itu mencengangkan engkau. Maka takutlah kepada Allah, hai Ulul Albab agar kamu mendapat keberuntungan (QS. 5:100 ) .

Tanda ketiga kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan , teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan orang lain:
الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه اولئك الذين هد نهم الله واولئك هم اولوا الالبب (الزمر )

Artinya : Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya., mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mmereka itulah orang-orang yang berakal – ulul albab (QS. 39:18) .

Tanda keempat bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya, bersedia memberikan peringatan kepada masyarakat; diancamnya masyarakat, diperingatkannya mereka kalau terjadi ketimpangan, dan di protesnya kalau tidak terdapat ketidakadilan. Dia tidak duduk berpangku tangan di laboratorium, dia tidak senang hanya terbenam dalam buku-buku di perpustakaan, dia tampil di hadapan masyarakat, terpanggil hatinya untuk memperbaiki ketidakberesan di tengah- tengah masyarakat.
هذا بلغ للنا س ولينذروا به وليعلموا أ نما هو إله واحد وليذكر أولوالا لبب ( ابراهيم )

Artinya : Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia , dan suapaya mereka mengetahui bahwasannya Dia adalah Tuhan Yang maha esa dan agar ulul albab mengambil pelajaran (QS. 14:52)

Dalam ayat lain dikatakan bahwa:

أفمن يعلم انما انزل إليك من ربك الحق كمن هو اعمى انما يتذكر أولواالالبب ( الرعد )

Artinya : Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta, Hanyalah orang-orang yang berakal saja(ulul albab ) yang dapat mengambil pelajaran (QS. 13:19) .

Tanda kelima Tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah Swt.Berkali- kali Al-Quran menyebutkan bahwa ulul albab hanya takut kepada Allah SWT. sebagaimana firmannya:
وتزودوا فاءن خير الزاد التقوى واتقون يا ولئ الالبب ( البقرة )

Artinya : Berbekalah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada Allah hai ulul albab (QS. 2:197)

فا فا تقوا الله يا ولي الالبب لعلكم تفلحون ( الما ئد ة )
………. Maka bertaqwalah kepada Allah Swt. hai ulul albab, agar kamu mendapat keberuntungan ( QS. 5 : 100 ).

Dalam ayat lain dikatakan:

أ عد الله لهم عذابا شديد ا فا تقوا الله يا ولئ الالبب ( الطلا ق )

Allah SWT. menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertaqawalah kepada Allah SWT. hai ulul albab (QS. 65:10).

Dengan banyak dalil yang bersumberkan dari Al-Quran bahwa seorang ulul albab merupakan sosok manusia yang hidupnya untuk kepentingan perbaikan masyarakat, membangun kebaikan, menyebarkan ilmu pengetahuan, memperbaiki kondisi hukum agar berjalan dengan adil, dan mecegah kemungkaran yang dapat menjauhkan manusia dari tujuan sebenarnya.

Tampaknya seorang ulul albab walau masih berbeda dengan intelektual ada kesamaan seperti jika dilihat dari beberapa tanda ulul albab yang telah disebtukan seperti bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, mau mempertahankan keyakinannya, dan merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Namun dalam ayat lain, Allah dengan jelas membedakan seorang ulul albab dengan intelektual seperti firman Allah SWT. dalam ayat lain:
أ من هو قنيت أناء اليل ساجدا وقاءما يحذر الاخرة ويرجوا رحمة ربه قل هل يستوئ الذين يعلمون والذين لا يعلمون إ نما يتذكر أولوا ألالبب ( الزمر )

Artinya : Apakah orang yang bangun di tengah malam, lalu bersujud dan berdiri karena takut menghadapi hari kiamat, dan mengharapkan rahmat TuhanNya samakah orang yang berilmu seperti itu dengan orang orang yang tidak berilmu dan tidak memperoleh peringatan seperti itu kecuali ulul albab (QS. 39:9)

Dengan merujuk kepada firman Allah Swt. tersebut jelas sekali ciri atau tanda khas seorang ulul albab. Sehingga ada perbedaan jelas antara ulul albab, ilmuan, dan intelektual lainnya. Ulul albab seorang yang selalu membangun hubungan dengan Allah Swt. dengan banyak ibadah, terutama memperbanyak bangun malam, bersujud dimana sebagian besar manusia tidur nyenyak. Disini mereka mengadukan segala hal persoalan hidup terutama yang menyangkut kepentingan umat, mmengharapkan pertolongan Allah Swt. mengharapkan ampunan dan ridhoNya. Mereka selalu ingat baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, sendiri, atau dalam beramai-ramai. Sehingga jika boleh disimpulkan ulul albab sosok muslim yang sempurna. Intelektual yang taqwa, soleh, ahli dzikir. Pemikir plus ketaqwaan,Intelektual plus kesalehan.

Inilah yang diharapkan oleh umat bahwa Pendidikan Tinggi Islam mampu menghasilkan,memproduk atau menerbitkan lulusan yang bersosok ulul albab. Bukan sekedar menjadi sarjana yang cuma mampu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat rutinitas, baku dan membosankan. Jika sekedar itu yang dituju, nampaknya tidak perlu kita bersusah-susah memeras otak dan dana yang besar, sebab itu bisa ditempuh dengan pendidikan ketrampilan. Lulusan yang dibutuhkan umat Islam adalah mereka yang mampu membangun masyarakatnya menjadi manusia yang cakap kehidupan beragamanya, dan canggih teknologinya. Dengan kata lain Islam mengharapkan dari jenjang pendidikan tinggi melahirkan ilmuan yang intelektual, berahlakul karimah, soleh, taqwa meskipun seperti apa yang dicapai pada peringkat ulul albab.

Kehidupan terpelajar atau dunia intelekual (kampus) pernah terjadi pergeseran nilai pada abad pertengahan dimana kaum terpelejar mencemoohkan tokoh dan kehidupan beragama. Sains menjadi idolanya, karena dianggap cuma berurusan dengan hal-hal yang empiris, mereka mengabaikan tuntunan dan ajaran agama. Tetapi dikala kelompok terpelajar mengidolkan sains, banyak juga yang mengkritisi sains dan mengajak orang kepada kepekaan agamawi. Banyak tokoh mulai berbicara tentang perasaan keagamaan, dan beberapa ahli fisika dengan yakin mengatakan: Kita sedang berjalan menghampiri ambang agama. Perasaan keagamaan mereka berbeda dengan perasaan keagamaan massa; perasaan keagamaan yang berada di atas sains- keyakinan keagamaan yang suprasains. Menurut Ali Syariati, masa depan dunia akan diwarnai oleh kelompok ini. Ia berkata, mazhab pemikiran masa depan berbeda dengan mazhab kaum terpelajar kini- adalah mazhab pemikiran yang agamawi- suatu keyakinan keagamaan yang tidak lebih tinggi dari pada sains .

Kita tidak bisa menjawab dan membuktikan pemikiran ke depan Ali Syariati dengan tepat, sejarahlah yang akan membuktikannya. Belakangan ini banyak kita temuai terutama di kampus-kampus marak sekali dengan kehidupan dan kegiatan yang bernuansa keagamaan. Bukan saja dalam bentuk serimonial seperti peringatan hari-hari besar islam. Tetapi kajian keagamaan seperti diskusi, kuliah umum, lokakarya atau latihan kepemimpinan nuansa agamanya begitu kental. Belum cara berpakaian, terutama dari kaum wanitanya begitu islami. Fenomena ini terjadi juga justru diluar kampus Universitas Islam, kampus umum. Gerakan-gerakan islam umumnya dipimpin oleh kaum intelektual. Masjid hampir menggeser kampus sebagai markas pusat pemikiran dan pengembangan Islam. Ilmuan yang pernah belajar di barat dan mengelukan teknolgi, sains dan kemajuan budayanya, kini kembali dengan kecintaan kepada Islam. Para mahasiswanya lebih dalam penghayatannya kepada Islam ketimbnag pendahulunya. Dengan mengambil gaya bahasa Ali Syariati, kehidupan keislaman mereka berbeda dengan orang kebanyakan. Islam mereka adalah suprasains, sebuah potret pengamalan agama yang didasari oleh ilmu pengetahuan dan kesadaran yang tinggi. Apa yang mereka temui dalam dunia sains ternyata bersumber dari ajaran Islam. Inilah yang tambah kuat keyakinan, keimanan dan kebenaran Islam di mata mereka. Bila masa lalu banyak orang mencemooh Islam sebagai lambang keterbelakangan, dan merasa bangga meniru barat, kini muncul kaum intelektual yang fasih berbicara masalah Islam dan mengkritik barat. Mahasiswa sudah gencar membicarakan Al-Ghazali, Al-Madudi, Sayid Kutub, Mutahhari, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan pemikir-pemikir Islam lainnya. Jadi zaman baru Islam sudah mulai menyingsing. Akan lahir masyarakat yang memiliki keyakinan keagamaan yang suprasains.

Kelompok ini memang belum banyak dan meninggi atau mewarnai kehidupan Islam. Belum berada di atas atau di bawah kerucut, tetapi embriyo ini sudah jelas menghasilkan, tinggal bagaiman kita memupuk dan memeliharanya. Sebab kelompok ini didominasi kelompok muda yang membutuhkan semangat dari kaum seniornya. Karena yang tidak senang juga cukup banyak jumlahnya, atau paling tidak semangat keislamannya masih mengambang. Pada dinamika interaksi ini, dimanakah letak posisi kaum intelektual Islam, sebagai manusia yang dikaruniai dengan kelebihan ilmu. Maka apakah tanggungjawab mereka untuk membentuk masyarakat kampus yang tegak diatas nilai-nilai Islam. Penulis ingin menyampaikan dalam tulisan ini adalah membuktikan bahwa intlektual muslim, adalah manusia yang terikat dengan kewajiban menerapkan nilai-nilai Islam. Berikutnya adalah menjelaskan dengan merujuk kepada Al-Quran, kewajiban moralitas dan metode kaum intelektual muslim, dalam memikul tanggungjawab menjalankan syari’ah islam dan sekaligus memperjuangkannya.

Dalam masyarakat berbahasa Inggris, orang akan tercengang mendengar sebutan intelektual ditujukan kepada orang yang sama sekali tidak menaruh perhatian perkembangan budaya bangsanya, demikian tulis sastrawan Subagio Sastrowardoyo . Bila kita mengambil pengertian intelektual seperti dalam bahasa Inggris, maka seorang ilmuan muslim yang tidak menaruh perhatian kepada perkembangan umat islam, tidaklah layak disebut sebagai intelektual muslim, mereka hanya sibuk mengajar di kampus, peneliti atau sebagai petugas administratif. Mereka tidak tertarik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan kampus, tidak peka terhadap gairah masyarakat kampus menyerap nilai-nilai kampus. Serta sikap lainnya yang tidak mendatangkan kemajuan islam secara keseluruhan, tidaklah bisa disebut sebagai intelektual muslim . Jadi seorang intelektual mereka yang peka dan sensitive terhadap perubahan yang terjadi masyarakatnya. Dalam dirinya ada semangat mengeritik, mencari jalan keluar, memberikan pedoman, memperjuangkan nilai-nilai yang berorientasi kedepan. Al-Gazali sebagai sufi pernah berkirim surat sebagai suatu protes kepada penguasa di negrinya, Ibnu Taimiyah bukan semata-mata ahli fiqih ketika ia memimpin perlawanan tentara mongol. Kyai Sentot, Kyai Maja, Imam Bonjol, Kyai Giri Kedaton, dan lainnya, menjadi intelektual ketika mereka mengubah umat yang pasif, meniupkan ruh jihad, dan menanamkan kepercayaan diri disamping mengerjakan syari’at Islam.

Tidaklah adanya jaminan mereka yang masuk kelompok kaum terpelajar menjadi intektual, atau seorang ilmuan muslim menjadi intelektual, susah memang kita memastikannya. Namun jika akan dibagi pembagian tugas bisa saja sebagian pengembang ilmu pengetahuan, dan yang lainnya terikat dengan perjuangan Islam. Yang pokok adalah bagaimana kita memaksimalkan kemampuan dan posisi kita untuk membela dan memperjuangkan islam. Bukankah yang menjadi ukuran adalah amal seseorang, bukan jabatan atau status sosialnya.

Apabila ada seorang intelektual muslim tidak mengamalkan atau tidak bekerja membangun masyarakat, kuranglah terpuji, sebab mereka memperoleh ilmu menggunakan sumber daya masyarakat muslim, atau pemerintah, atau dari keluarga muslim. Perkembangan ilmu bukan saja dibiayai swasta atau perseorangan, tetapi juga oleh pemerintah yang memperoleh dari masyarakat. Sekian juta uang rakyat dipakai untuk membiyai seorang sarjana setiap tahun. Milyaran rupiah uang rakyat digunakan untuk membiayai universitas, lembaga-lembaga pendidkan, atau lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Sains bukan lagi urusan perorangan, tetapi juga urusan sosial. Karena itu, hanya ilmuan robot yang hati nuraninya tidak terusik untuk membaktikan ilmunya bagi peningkatan kualitas hidup masyarakatnya. Hanya ilmuan menara gading yang terbenam di laboratorium, dan melepaskan masyarakat di sekitar nya. Lebih-lebih ilmuwan Frankenstein yang memanfaatkan sumbangan masyarakat buat mengembangkan ilmu yang menindas masyarakat .

Dengan begitu nampaknya kita mempunyai alasan yang sama bahwa tidaklah disebut sebagai ilmuan muslim bila tidak menghidupkan dan mempejuangkan Nilai-nilai keislaman dalam lingkungan masyarakatnya, padahal mereka dibesarkan dan mendapat pendidikan oleh masyarakat. Pada masa lalu ketika mereka belajar masyarakat mempunyai tanggungjawab, sekarang waktunya menunjukkan tanggungjawab kepada masyarakat.

Bila kita membicarakan tanggung jawab, kita harus merujuk kerangka etis tertentu, tentu saja harus mengacu dari sumber-sumber nilai Islam. Bagaimana ahlaknya dalam melaksanakan kewajiban di masyarakat serta metodenya yang sesuai dengan kedudukannya sebagai intelektual muslim.

Dr. Muhammad Mahmud Hijazi menyebutkan delapan sifat ulul albab. Menurut saya, dua sipat pertama menunjukkan kewajiban, tiga sifat berikutnya menunjukkan ahklaq, dan sifat-sifat terakhir merinci metode ulul albab dalam melaksanakan kewajibannya. Butir-butir ini juga saya anggap mendasari pembicaraan tentang tanggungjawab intelektual muslim dalam menerapkan nilai-nilai Islam .

Al-Quran menyebutkan dua kewajiban intelektual muslim: memenuhi janji Allah SWT. Dan menyambungkan apa yang Allah SWT. perintahkan untuk menyambungkannya. Perjanjian Allah ini disebut Mistaq. Dr. Muhammad Mahmud Hijazi mendefinisikannya sebagai apa yang mengikat dari mereka dalam hubungan antara mereka dengan Tuhan mereka, antara mereka dengan mereka, dan antara mereka dengan manusia . Seorang intelektual muslim harus menjaga komitmen nya dengan menjalankan dan membela nilai-nilai islam, karena keberadaan mereka di masyarakat sebagai konsultan problematika yang menyangkut banyak aspek kehidupan. Termasuk menghubungkan iman dan amal cinta kepada Allah dengan cinta kepada manusia. Menghubungkan dengan kelompok-kelompok islam yang bertentangan, sehingga tumbuh ukhuwah islamiyah, menghubungkan umat dengan imam mereka, menghubungkan ulama diniah dengan ulama ukhrawiyah, menghubungkan ilmu dengan agama, menghubungkan ibadah dengan muamalah. Sehingga kedudukan intelektual islam mempunyai tugas mempersatukan umat apabila terjadi perbedaan baik yang disebabkan masalah fiqih, atau muamalah atau perbedaan mazhab. Disamping itu juga mempersatukan aliran pemikiran yang terjadi pada tingkat antar intelektual, terutama di Pendidikan Tingginya, agar antara ilmu dan akal, sains dan syari’ah, atau ibadah dengan muamalah selalu kesemua itu terkondisikan dengan baik.

Segala apa yang menjadi daerah operasionalnya diatas hanya didasari oleh satu sikap yaitu cuma takut kepada Allah SWT. Sikap ini menunjukkan disamping tanggungjawabnya sebagai intelektual muslim, apa yang dilakukan jangan sampai keluar dari ketentuan Allah SWT; jika itu yang terjadi. Maka bukan saja di dunia kerugian itu ditemui tetapi diakhirat tanggaungjawab itu lebih besar resikonya.

Untuk mencapai semua tujuan yang menjadi tanggungjawabnya seorang intelektual muslim yang pertama diperhatikan adalah salat. Karena dari sinilah akan terlihat apakah ia seorang muslim yang taat atau tidak. Sebab banyak mengaku sebagai intelektual muslim namun cuma fasih berbicara diatas mimbar atau forum diskusi saja, jarang ke masjid atau musholla. Sementara itu kita tahu masjid sebagai sentral dan sumber kegiatan umat islam yang utama. Coba perhatikan ketika Rasul hijrah dari Mekkah ke Madinah yang paling pertama beliau bangun adalah masjid bersama para sehabat.Dari sinilah berangkat nilai-nilai keislaman dan konsep perjuangan umat islam dibicarakan dan dijadikannya sebagai jantung pusat islamisasi kampus. Masjid kampus juga bisa dijadikan sebagai gerakan mobilisasi dan menggalakan infaq. Sikap ini harus terlihat sehingga sehingga gerakan keislaman tidak lagi mengandalkan keuangan dari anggaran lembaga kampus yang minim dan jauh dari kebutuhan. Cara Islam mengumpulkan dana dari umatnya banyak sekali ragamnya, tinggal bagaimana membangun kesadaran umatnya sendiri. Dalam Al-Quran banyak ditemuai ayat yang memerintahkan kita mencari dana atau menggalakan infaq dan sudah tersedia konsep itu, bahkan boleh dan bisa dilakukan secara tersembunyi (antar perorangan) atau bisa juga dilakukan dengan cara terbuka (semacam fund raising campaign). Banyak kegiatan dan program umat islam tersendat karena masalah biaya (financial). Sikap lain yang harus ditunjukkan sebagai intelektual muslim adalah berani berkata dan beriskap baik dalam hal yang baik dan buruk. Dengan kata lain berani menolak yang jelek dengan yang baik. Tentu saja bisa dijabarkan secara lebih jauh lagi. Sekian method tersebut haruslah menjadi acuan bagi inteklektual muslim baik di kampus, atau di tempat lain, terlebih di masyarakat yang persoalannya jauh lebih kompleks dibandingkan persoalan yang timbul di kampus.

Pendidkan Integratif khususnya yang berada pada Pendidikan Tinggi Islam, haruslah mampu memproduksi dan mengkader Intelektual Muslim secara sistematis berdasarkan kerangka akademis dan nilai-nilai keilmiyahan kampus yang ada disetiap pendidikan tinggi islam. Sikap seperti ini mestinya mengkristal pada setiap pribadi muslim terpelajar. Sebab pertanggungjawaban intelektual muslim sangat berat, apalagi dimasa mendatang, dimana persaingan global tidak bisa dihindari. Mana mungkin kita mampu bersaing dengan orang lain (non muslim) jika tidak didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mampu berkompetitif. Jangan sampai masyarakat islam mempunyai sikap apatis, skeptis, pasif, dan netral terhadap perkembangan dan permasalahan yang dihadapi oleh dunia islam secara mikro, atau dunia kampus secara makro.

Keberhasilan umat islam dan mengusai peradaban dunia di masa lampau, karena para intelekualnya mampu menunjukkan tanggungjawabnya terhadap agama dengan cara melakukan banyak penelitian dan kejian keilmuan serta praktek-praktek ilmiyah lainnya. Disamping ketekunan mereka mengkaji sains, namun tidak mengurangi ketekunan mereka dalam mengkaji ilmu syari’ah, bahkan mereka menjadi pemikir yang cukup sufistis, baik dalam konsep pendidikannya atau dalam aplikasi kehidupannya di masyarakat. Janganlah kita menolak perubahan selagi perubahan itu mendatangkan nilai-nilai kehidupan yang lebih baik. Menimbulkan dampak yang positif, tidak sebaliknya memunculkan dampak negatif. Apabila kemajuan teknologi yang berangkat dari ilmu pengetahuan umum dihadapi dengan perpaduan kekuatan ilmu agama dan umum (Syari’ah-Sains) semakin terbuka umat islam mengusai peradaban dunia kembali. Karena kehidupan dan cara mereka membangun umat dengan cara yang sudah benar yaitu melalui pendekatan yang berngkat dari Al-Quran dan Al-Hadis, di mana keduanya merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim dan Rasulullah SAW. menjamin umatnya tidak akan tersesat jalan hidupnya selama berpegang teguh pada kedua ajaran pokok islam tersebut.


PRO – KONTRA TOKOH PENDIDIKAN INTEGRATIF


Dalam kehidupan dunia ini memang diciptakan saling berpasangan. Laki dengan wanita, siang dengan malam, hidup dengan mati dan seterusnya. Demikian juga dalam dunia pendidikan hal itu tejadi. Seperti berubahnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negri (UIN) telah terjadi ragam pendapat dan tanggapan di antara para tokoh dan cendikian muslim, ada yang mendukung dan tidak kecil juga yang menolak. Keduanya mempunyai alasan dan argumentasi yang bisa dipertimbangkan. Sehingga mendapat perhatian luas dari masyarakat Islam dari berbagai profesi. Terutama dari para tokoh Islam. Salah satu solusi yang diambil untuk mencari penyelesaian adalah dengan mendengarkan para tokoh pendidikan dan cendikiawan muslim serta menyertakan juga para praktisi hukum dan poitik, sebab suaranya juga dibutuhkan dari aspek legalitas penyelenggaraan pendidikan. Diskusi pertama diadakan yang diprakarsai Yayasan Swarna Bumi, Harian Republika serta pihak IAIN sendiri, berlangsung pada tanggal 23 Desember 1995, di pusat kajian Islam dan Masyarakat.
Diantara tokoh yang melontarkan ide tersebut adalah Rektor IAIN Prof. Dr. Harun Nasuition, barang kali ini bisa dipahami, mengingat pengalamannya selama sebelas tahun (1973-1984) menjadi pejabat rektor Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidatullah Jakarta. Telah banyak melihat berbagai kelemahan IAIN bila tetap berupa Institut. Kerananya beliau mengusulkan agara terjadi perubahan status dari Institut menjadi Universitas. Jalan atau ide ini tidak mulus kerena terbentur masalah kukum yaitu dengan pihak Depdikbud yang membawahi Universitas. Persoalan teknis dan yang menyangkut birokrasi ini kemudian diserahkan kepada menteri agama yang dijabat pada saat itu oleh Tarmizi Taher. Katanya sudah tidak saatnya lagi bagi IAIN tetap dalam bentuknya selama ini, jadi perlu diubah menjadi Universitas. Setelah mengalami jalan panjang ide dan gagasan ini menjadi kenyataan. Namun demikian terjadinya perubahan iAIN menjadi Universitas mengalami tantangan dan pro-kontra yang cukup hangat dikalangan para tokoh pendidikan, Ormas Islam, Cendikiawan Islam serta dari berbagai tokoh lainnya diantaranya ialah Rektor IAIN Prof. Dr. Harun Nasution termasuk orang yang sangat setuju dan pro terjadinya perubahan tersebut, masa sekarang ini kita diperlukan bukan hanya sarjana-sarjana yang mengetahui ilmu agama, tetapi juga ilmu umum.
Harus diakui memang hal seperti ini tidak mudah, tidak banyak orang yang mengusai keduanya secara mumpuni. Hanya mereka yang jenius saja yang bisa melakukannya. Tetapi prinsipnya kita berupaya untuk mencetak Sarjana-sarjana Agama yang tidak asing dengan ilmu umum. Karenanya pada UIN nanti akan terdapat fakultas-fakultas umum selain fakultas-fakultas agama yang sudah ada selama ini. Ini bukanlah sesuatu yang mustahil kita lakukan.
Sejarah membuktikan, sarjana-sarjana muslim dimasa lampau mengusai ilmu-ilmu agama dan sekaligus ilmu-ilmu umum, bahkan mengusai filsafat, contoh yang jelas itu adalah Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd dan lain-lain, mereka mengusai ilmu syari’ah tetapi sekaligus dokter, ekonom, filosof, dan ahli ilmu-ilmu eksakta. Kalau mereka masa lampau mampu menghasilkan tokoh-tokoh seperti itu, kenapa kita tidak mampu  menghasilkannya.
Masih menurut Prof. Dr. Harun Nasution Walaupun UIN memuka fakultas umum, sudah pasti berbeda dengan Pendidikan Tinggi Umum lainnya yang mengajarkan ilmu pengetahuan barat yang sekuler, tidak dikaitkan dengan Agama, terutama tidak dikaitkan dengan Tuhan. Universitas Islam Negri semua ilmu-ilmu sains dikaikan dengan Tuhan, jadi yang dipakai adalah  berangkat dari konsep Al-Quran dan Sunnah Rasul. Contohnya kenapa hujan turun, bukan hukum alam mengatur begitu, tetapi kita katakan karena sunatullah demikian, semua atas iradah dan kehendak-Nya. Allah sudah mengatur dan menetapkan sebelum sesuatu terjadi.
Kemudian kacamata sains yang berangkat dari ilmu eksakta melihatnya seperti apa, keduanya bertemu dengan tanpa pertentangan. Ini baru bisa dipahmami secara utuh ketika pada diri seorang ilmuan perpaduan yang baik antara ilmu agama dan sains. Kita akan merekrut tenaga-tenaga pengajar (dosen) yang tidak lagi menggunakan istilah –istilah barat yang sekuler, tetapi kita ganti dengan istilah-istilah Islam. Dengan demikian, ini cocok dengan akidah keimanan. Kita akan merubah filsafat sains barat yang sekuler menjadi filsafat sains yang bersumber dari Islam. Inilah yang dikembangkan oleh ulama-ulama yang mendalami sains. Kemudian berkembanglah Islam hingga Andalusia, Spanyol, dan oleh orang barat diambil dan dibawa ke eropah, lalu berkembanglah di eropa pemikiran rasional dan sains. Mereka tidak mampu memadukan agama dengan sains, sehingga sains  berjalan dengan sekuler.
Dengan Pendidikan tingkat tinggi Integratif, UIN bersama universitas Islam lainnya akan berjuang  mengembalikan tujuan pendidikan Islam sebenarnya menuju manusia yang utuh lahir dan bathin. Sekarang sudah saatnya meluruskan pungsi ilmu, tidak lagi ada dikotomi dalam umat Islam jika kita menginginkan kembalinya kejayaan peradaban Islam masa lalu[1].
Selain Prof. Dr. Harun Nasution atau Dr. Tarmizi Taher mantan Menag yang mendukug berubahnya IAIN menjadi UIN ialah salah seorang Tokoh wanita Indonesia yang bergerak di bidang da’wah dan pendidikan yakni Dr. Hj. Tuty Alawiyah. Menurut beliau sudah sepantasnya IAIN berubah menjadi UIN. Selama ini di IAIN yang ada hanya fakultas-fakultas ilmu agama yang mengatur persoalan-persoalan ibadah, syari’ah, ushuluddin, dan sebagainya. Dalam kondisi dunia penuh tantangan di masa depan, menurut saya, perubahan tersebut sudah sepantasnya dilakukan. Hanya saja dalam teknisnya, perlu ada proses pengalihan yang memadai. Itu melalui kesiapan perangkat SDM, kurikulum, perpustakaan, dosen, dan sebagainya sehingga menjadi Universitas Islam Negri yang berwibawa. Selama ini minat masyarakat terhadap IAIN masih cukup tinggi walaupun fakultas yang dimiliki masih terbatas pada fakulas agama. Dengan adanya perubahan tersebut, yang berarti menambah fakultas umum, maka minat masyarakat untuk berkuliah di UIN semakin tinggi dan luas.
Contoh yang nyata dalam masalah ini tampak dari Universitas Islam Antar-Bangsa di Kuala Lumpur yang tidak hanya memiliki Fakultas Agama saja, namun juga fakultas umum yang terintegrasi. Dahulu orang Malaysia jika hendak belajar datang ke Indonesia, namun dengan kehadiran Universitas Islam Antar-Bangsa, maka mereka tidak perlu datang belajar ke Indonesia, bahkan banyak orang kita yang datang untuk belajar kesana. Saya percaya jika UIN akan menjadi Universitas terkemuka karena sejajar dengan Universitas Islam di luar negri, yang sebelumnya masih berada di bawah standar. Sehingga para alumninya yang akan lebih berkualitas dan lebih mampu untuk bersaing di masyarakat dengan Universiats Negeri lainnya[2].
Menurut Prof. Dr. H. Din Syamsuddin saya kira gagasan merubah IAIN menjadi UIN merupakan pemikiran sangat baik, sesuai dengan tuntutan zaman, yaitu adanya intergrasi antara ilmu umum dan ilmu agama. Dalam Islam sebenarnya tidak ada dikotomi antara  ilmu pengetahuan agama Islam dengan ilmu umum. Oleh karena itu, adanya lembaga yang mengintegrasikan ilmu agama dan umum itu merupakan suatu kebutuhan dewasa ini. Selama ini, sebenarnya sudah dilakukan integrasi ilmu pengetahuan umum dengan ilmu agama cuma dalam skala kecil dan terbatas., yaitu dengan diajarkannya ilmu sekuler. Gagasan pendirian UIN ini saya pikir merupakan pengembangan lanjut dari apa yang telah dilaksanakan selama ini. Gagasan pendirian UIN tidak bebrati sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Uiversitas Islam swasta lainnya. Karena apa yang dilakukan oleh UIN  merupakan integrasi nilai nilai Islam atau etika Islam ke dalam ilmu pengetahuan. Tidak hanya semata melakukan pembagian definisi fakultas tanpa ada perubahan. Pendirian UIN merupakan respon dan antisipasi terhadap modrenisasi, sehingga lembaga pendidikan agama mampu menampilkan peran profetik dan akademik sekaligus[3].   
Pendapat para tokoh pendidikan dan cendikian muslim tersebut di atas tentu saja tidak asal mereka ucapkan, namun mempunyai argumentasi yang kuat. Pendidikan yang terjadi pada bangsa ini, terutama di tingkat pendidikan tinggi termasuk pendidikan tinggi Islam masih tinggi ilmu pengetahuan sekuler masuk dan diserap oleh para mahasiswa muslim. Tentu saja hal ini sangat berbahaya, kerena karakter yang dibangun pada seorang mahasiswa akan mempengaruhi pola pikir dan sikap hidupnya kelak di masyarakat. Coba kita lihat para pejabat, konglomerat, politisi, ekonom, dokter serta status sosial lainnya mereka hidup sudah jauh dari nilai-nilai keislaman, padahal mereka sebagai seorang muslim.
Kebijakan dan pola hidup yang ditampilkan bukan membela dan menghidupkan kebutuhan umat Islam, tetapi sebaliknya merugikan bahkan menjatuhkan. Jika kita kembali kepada konsep dan ajaran Islam hampir seluruh masalah dapat teratasi. Pada saat ini dunia Islam dilanda berbagai macam krisis yang sudah mencapai stadium tinggi. Seperti masalah kemiskinan, pendidikan, perekonomian, hukum, Ham, politik, kesehatan, semua itu penyebab yang utama adalah sudah lunturnya rasa ghirah dan kepedulian kita terhadap agama. Kenapa, karena dunia pendidikan kita terutama pada tingkat pendidikan tinggi yang mengorbitkan para teknokrat dan pemikirnya tertinggal jauh. Dari sisi akademis, dari sisi pembentukan karakter keislaman sudah melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya. Salah satunya adalah masuknya ilmu pengetahuan yang sekuler dalam proses pendidikan. Menurut Faruqi, berbagai konsep ilmu yang ada di barat dan diajarkan di dunia islam sangat bertentangan dengan ajaran Islam, terutama akidah tauhid. Beliau menunjuk ilmu pengetahuan yang ada di barat menafikan keberadaan Allah SWT. dalam peranannya sebagai sang pencipta utama. Karenanya menurut Faruqi, dunia pendidikan di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam harus melakukan dekonstruksi bangunan ilmu yang diajarkan. Konsep-konsep ilmu pun harus mengalami peneyesuaian dengan nilai-nilai Islam, sehingga keracunan hubungan antara ilmu pengetahuan umum (Sains)  dan agama (Syari’ah)  tidak terjadi.
Ilmu pengetahuan sebenarnya berispat netral, demikian juga teknologi. Jadi tergantung siapa penggunanya. Dalam konteks pendidikan Islam agar ilmu itu menjadi mitra dalam membangun agama dan umatnya maka diperlukan pendidikan yang mampu mengantisipasi dan mengakomidasi kebutuhan keduanya. Demikian apa yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh besar ilmu pengetahuan dalam Islam, Para sarjana muslim tersebut mampu mengubah ilmu pengetahuan sekuler menjadi ilmu pengetahuan islami, ilmu pengetahuan yang sarat dengan nilai ketuhanan yang tidak menyimpang dari nilai-nilai ketauhidan. Sehingga disini yang menjadi ukuran dan pembentukan ilmu adalah faktor manusianya.
Semakin jelas bahwa pendidikan yang salah membentuk para alumninya akan mengkibatkan dampak yang besar.
Jika diatas kita sudah memaparkan mereka yang pro dan sependapat dengan perubahan status IAIN menjadi UIN dengan berbagai dalih dan alasan yang cukup argumentatif. Bagaimana pendapat dan alasan mereka yang tidak sependapat dengan perubahan tersebut, diantaranya KH. Ma’ruf Amin sebagai Rois Syuriah PBNU yang mempunyai pengaruh besar karena konsep dan pandangan beliau tentang dunia Islam termasuk pendidikan. Saya kurang sependapat bila IAIN menjadi Universitas Islam Negeri. Menurut saya, sebaiknya IAIN tetap konsisten kepada pendidikan khusus masalah agama. IAIN lebih baik memfokuskan pada masalah-masalah agama dan tetap menghasilkan orang-orang khusus mengkaji masalah pendidikan, syari’ah, dan dak’wah. Ini penting, karena produk-produknya selama ini masih belum memadai. Kalau ada angapan IAIN diubah untuk menghilangkan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, saya kira tidak tepat. Lulusan ITB banyak yang saya lihat Islami dalam berpikirnya. Demikian juga lulusan kedokteran atau teknik.
Sesungguhnya, arti ilmu-ilmu agama itu jelas berbeda dengan ilmu-ilmu yang bermakna teknologi. Kalau memang hendak diarahkan seluruh ilmu-ilmu yang diajarkan pada perguruan tinggi umum kepada ilmu yang islami, kenapa tidak diminta seluruh perguruan untuk mengarahkannya ke sana. Atau kalau tidak, dosen-dosennya dibekali dengan perangkat-perangkat yang menjadikan ilmu itu islami. Toh, nantinya para mahasiswa akan bisa memahami ilmu-ilmu yang sudah diarahkan tersebut. Pernyataan saya tidak bermaksud menentang rencana perubahan. Saya juga tidak mempermasalahkan IAIN diperlebar ruang lingkupnya sehingga memiliki fakultas-fakultas umum. Tetapi, ada satu pertanyaan yang belum terjawab menyangkut IAIN selama ini. Apakah tugas IAIN yang dibebankannya sudah tercapai. Tugas utama itu adalah untuk mencetak sarjana-sarjana agama yang berkualitas, yang handal bagi peningkatan kualitas kehidupan beragama umat ini.
Dalam pengamatan saya, kiprah IAIN dalam dunia pendidikan tinggi islam masih harus ditingkatkan. Umat ini memiliki tuntutan lebih kepada tamatan IAIN  dari apa yang sudah dihasilkan selama ini. Ada kesan, tamatan IAIN belum memenuhi tuntutan yang diharapkan. Contoh nyata saja, masih tamatan IAIN yang tidak bisa berbahasa arab atau mengusai kitab-kitab kuning. Memang, banyak alumni pesantren yang masuk dan belajar di IAIN, tetapi tetap saja yang tidak berbahasa arab lebih banyak jumlahnya. IAIN sekarang ini belum menata diri secara baik. Karenanya, pembenahan yang harus dilakukan adalah menata seluruh perangkat pendidikannya mulai perbaikan kualitas dosen hingga peninjauan ulang kurikulum yang dipakai. Dengan demikian misi utama IAIN sebagai penghasil sarjana agama tetap terjaga dan semakin meningkat kualitasnya. Ini penting, karena di masa depan kebutuhan tentang sarjana agama akan semakin meningkat[4].
Mantan menteri Agama Prof. Dr. Munawir Sazali pernah mengatakan tentang wacana perubahan ini. Bagi saya tujuan utama pendirian IAIN adalah menciptakan sarjana agama. Untuk itu, fakultas yang ada semuanya menyangkut agama mulai dari ushuluddin, syari’ah, dak’wah, tarbiyah dan adab. Karena itu, ketika saya mendengar adanya rencana perubahan IAIN, maka saya tidak tahu arah perubahan tersebut kalau mau dijadikan universitas seperti umumnya universitas islam yang ada, maka kenyataanya  menunjukkan tidak ada bedanya dengan kondisi perguruan tinggi tersebut. Sebut misalnya, Universitas Muhamadiyah. Dari sekian banyak fakultas yang dimiliki, tetap saja fakultas agama cuma satu, lainnya adalah fakultas umum. Bila alasan itu adalah islamisasi ilmu, maka saya termasuk orang yang beranggapan ilmu itu bersipat netral.
Karenanya tidak perlu islamisasi, ilmu itu bergantung kepada siapa penggunanya. Karenanya saya tidak yakin dengan adanya perubahan IAIN, kualitas outputnya juga semakin baik. Kemudian apakah mampu  mempertahankan ilmuan-ilmuan agama secara baik, demikian pula bagaimana dengan dosen-dosen agama yang ada, dikemanakan mereka dengan perubahan tersebut. Terus terang kualitas mahasiswa IAIN masih belum memadai dan alumninya belum mencukupi untuk mengusai ilmu yang dipeljarinya.. Jadi yang diperlukan adalah pembenahan pengajarannya[5].    
Demikian juga Dr. H. M. Atho Mudzhar Pjs Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merasa keberatan jika terjadi perubahan tersebut terjadi. Jika ide dasarnya adalah untuk mengaitkan ilmu-ilmu agama dengan iptek atau sebaliknya, maka tidak harus dilakukan dengan cara perubahan menjadi universitas. Yang diharapkan masyarakat adalah isinya bukan kulitnya. Untuk perubahan itu, selain diperlukan berbagai persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan sumber daya manusia, juga perlu pemilihan bidang study yang sesuai. Jika untuk mengkaitkan agama dengan iptek, atau sebaliknya bisa dengan cara memasukkan kurikulum iptek pada kurikulum IAIN, baik dalam muatan lokal, nasional, maupun kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Kedua dengan meningkatkan penelitian-penelitian agama tetapi terus lebih jauh  dikembangkan kepada penelian yang ada kaitannya dengan iptek (Interdisipliner) ketiga mengembangkan pusat-pusat studi yang bertujuan meningkatkan mutu belajar mengajar, sehingga dosen tidak hanya megenal dunianya saja, tetapi juga mengenal dunia yang lain. Jelasnya tidak perlu mengubah IAIN menjadi Universitas. Masih ada cara lain yang bisa ditempuh, kalaupun terpaksa dilakukan, harus melalui kajian mendalam dengan melibatkan banyak pakar pendidikan, baik umum atau agama[6] 
Kekhawatiran mereka yang tidak sependapat dengan perubahan itu, juga dapat dipahami tujuannya adalah mempertahankan eksistensi iAIN di masyarakat dari sisi akademis ataupun dari keterwakilan umat  islam dalam mempersiapkan kader-kader Intektual islam di masa mendatang murni dengan menguasi ilmu keagamaan. Kekhawatiran juga akan terjadinya upaya meminggirkan fakultas agama, menghilangkan peran IAIN sebagai pencetak intelektual muslim yang handal. Jika yang pro mengatakan akan tetap meperthankan nilai-nilai keislaman terhadap mahasiswanya dengan mendalami dan mengintegrasikan dalam kurikulum, tetap saja hasilnya berbeda dengan yang memang kurikulumnya di buat untuk sarjana agama.
Apalagi sifatnya sebatas usaha, sehingga keterkaitan itu putus di tengah jalan sangatlah memungkinkan. Jika dilihat kisaran persentasenya antara yang pro dan yang kontra terjadinya perubahan IAIN menjadi UIN, memang lebih banyak pro dan setuju serta mendukung. Ini menandakan adanya keinginan kuat dari para cerdik-pandai kita untuk mengembalikan kejayaan umat islam dalam peradaban ilmu pengetahuan.
Waktu yang kita butuhkan cukup lama, tetapi harapan itu sudah ada karena kita sudah mulai melangkah. Apalagi langkah ini diikuti oleh IAIN lainnya. Langkah ini tentu mendapat tantangan, namun lambat laun akan terjadi kesamaan persepsi dan hilangnya perbedaan pendapat dan cara pandang dalam mempersiapkan sarjana yang ilmuwan, atau ilmuwan yang agamis. Kemajuan teknologi tumbuh seperti air, alirannya  segitu deras, siapa yang tidak mampu mengantisipasi dengan mempersiapkan SDM yang komprehensif dengan tingkat kompetensi tinggi, bukan saja tertinggal dan terus menjadi umat yang tidak diperhitungkan, namun yang paling menghawatirkan generasi muda islam tidak lagi memiliki ghirah dan kecintaan terhadap agama.
Mereka lebih senang dan  konsen dengan umat lain. Gejala ini sudah terlihat pada banyaknya generasi muda islam yang kuliah dan menjadi sarjana bukan dari pendidikan tinggi islam. Mestinya kejadian ini bisa diantisipasi dan terdeteksi sejak dini yaitu dengan membuat pendidikan tinggi yang integratif. Inilah mungkin jawaban yang diberikan para tokoh intelektual muslim dengan merubah stutus Institut menjadi Universitas. Dengan fakultas yang lebih banyak dan pariatif diharapkan genersi muda islam lebih tertarik dan terpanggil untuk berkuliah di sisini. Apalagi sekarang masyarakat kita sudah mulai bergeser cara berpikirnya tentang Islam. Ada kemaun besar untuk memperjuangkannya.
Persoalan yang mendasar adalah sejauh mana atau  bagaimana kita mampu mengakomodir kemaun mereka. Dalam membangun pendidikan yang baik, pemerintah tidak bisa tinggal diam, tetapi  harus ikut dan berpatsipasi aktif. Alasannya adalah dasar Negara kita sudah mengamanahakan begitu. Baik lewat Sisdiknas, Undang-undang dasar, atau pancasila sebagai ideologi bernegara, yaitu menghendaki warganya menjadi manusia sehat jasmani dan rohaninya. Bukan saja matang nilai keagamaannya, tetapi nilai sainsnya juga tidak kalah. Untuk menjaga terjelmanya keinginan diatas maka munculah Surat Keputusan Tiga Mentri (SKB) yang tujuannya adalah memberi kesempatan kepada lulusan umum untuk memperdalam agama, atau sebaliknya lulusan agama untuk memperdalam ilmu umum. Tentang nilai ijazahnya pun secara intrinsik tidak berbeda, baik dalam pekerjaan atau melanjutkan ke Pendidikan tinggi.
Pro dan kontra dalam masalah pendidikan tinggi integratif, sebaiknya jangan dijadkan alasan kita ragu mengambil sikap. Seharusnya menjadi cambuk untuk membuktikan kebenaran argumentasi kita, apalagi kita mampu menempatkan pendapat yang kontra, tentunya ini sangat elegen sebagai cendikiawan muslim, bahwa apa yang menjadi pilihan dalam pendidikan integratif didasari oleh keinginan kuat membela islam dalam banyak aspek keilmuan. Dalam konteks sejarah kita pernah mengalami masa kesuksesan yang luar biasa dalam peradaban ilmu pengetahuan. Inilah yang hendak kita munculkan kembali, dan itu baru bisa ditempuh lewat jalur Pendidkan Tinggi Integratif. yang telah dimotori oleh UIN dan Universitas Islam Swasta lainnya khususnya Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Islam Asy-Syafiiyah.



[1]   Prof.Dr.Harun Nasution, Sudah Saatnya IAIN dirubah Menjadi Universitas, Hasil wawancara Harian Republika, pada tanggal, 5 Januari 1998, lihat juga Rekaman meida massa IAIN menjadi UIN, Jakarta,UIN Press.
[2] Dr.Hj.Tuty Alawiyah As, Perubahan IAIN menjadi UIN , Jakarta, UIN Press, hal. 24
[3] Prof.Dr.H. Din Syamsuddin, Op cit, hal 26
[4]  Kusuma Yudhi Munadi ( Editor ), Proses Perubahan IAIN menjadi UIIN, Jakarta,UIN Press,, hal.21,lihat juga Pendapat mereka  tentang perubahan IAIN  Republika, rubric dialog jum’at 5 januari 1996
[5] Kusmana Yudhi Munadi, Op cit, hal . 24
[6] Prof.Dr.Quraish Shihab, Perlu Perjuangan Berat Ubah IAIN menjadi UIN, Jakarta, UIN Press, lihat juga Kusuma Yudhi Munadhi, Op cit, hal. 30