Senin, 11 Oktober 2010

PARA TOKOH PENDIDIKAN INTEGRATIF


Membicarakan orang yang telah berbuat baik dan berjasa bagi agama merupakan keharusan bagi setiap muslim, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan dan perkembangan pendidikan Islam.  Hal ini telah ditandaskan oleh Nabi Muhammad SAW.
      اذكروا محاسن موتاكم  وكفوا عن مساويهم   (  رواه الترمذي عن ابن عمر )
Artinya  : Ingat-ingatlah kebaikan orang-orang yang telah mendahului kamu dan simpanlah dari hal yang buruk[1].

Ditarik benang merahnya, disini memberi pemahaman bahwa jasa itu bukan saja berguna bagi pelopornya ketika masih hidup ,tetapi ketika sudah mati pun masih membawa manfaat,dan ini temasuk amal jariah yang pahalanya terus mengalir. Dalam Islam terdapat banyak sekali tokoh-tokoh pendidikan yang berjasa sekali bagi peradaban Islam, baik dari Negara kita sendiri atau dari manca Negara.  Khususnya mereka yang mempunyai kompentensi tinggi dan kelengkapan ilmu pengetahuan yang lengkap, yaitu mengusai ilmu agama (syari’ah), dan sekaligus mengusai ilmu umum (sains), banyak penemuan yang bersipat ilmiyah dan menjadi referensi dan rujukan utama dalam mengembangkan ilmu dan teknologi masa sekarang baik dari timur atau barat.  Diantaranya adalah Ibnu Shina, Ibnu Khaldun keduanya dari luar Indonesia, dan seorang lagi dari Indoenesia yakni Muhammad Nasir, yang menjadi bahasan utama dan tokoh lainnya sebagai ilustrasi dan pelengkap dalam membahas ketiga pokok utama tersebut.

1.      IBNU SINA
A.    RIWAYAT HIDUP IBNU SINA
Nama lengkap Ibnu Shina adalah Abu ‘Ali al- Husayn Ibn Abdullah. Nama ini banyak perbedaan dan menimbulkan banyak pendapat di kalangan ahli sejarah.  Sebagian dari mereka mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari bahasa Latin, Aven Sina, dan sebagian lain mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari kata al-shin yang dalam bahasa arab berarti Cina.  Selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa nama tersebut di hubungkan dengan nama tempat kelahirannya, yaitu Afshana[2].
Dalam sejarah pemikiran Islam, Ibn Sina dikenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar.  Ia lahir pada tahun 370 H, bertepatan dengan tahun 980 M, di Afshana, suatu daerah yang terletak dekat Bukhara, di kawasan Asia tengah.  Ayahnya Abdulah dari Balkh, suatu kota yang termasyhur di kalangan orang-orang yunani, dengan nama Bakhtra yang mengandung arti cemerlang.  Hal ini sesuai dengan peranan yang dimainkan kota tersebut, yaitu selain sebagai pusat kegiatan politik, juga sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan[3].
Tampilnya Ibnu Sina selain sebagai ilmuan yang terkenal di dukung oleh tempat kelahirannya sebagai ibu kota kebudayaan. Ibnu Sina memulai pendidikannya pada usia lima tahun dengan berbekal kecerdasan yang sangat luar biasa.  Pelajaran yang pertama dipelajarinya adalah Al-Quran, kemudian di susul dengan ilmu keislaman lain seperti tafsir, fiqih, ushuluddin, tasawuf.  Dengan kemampuan diatas rata-rata Ibnu Sina sudah hafal Al-Quran dan  cabang ilmu Islam lainnya memasuki usia sepuluh tahun. Sementara ilmu umum (sains) matematika dipelajarinya melalui seorang guru yang bernama Mahmud al- Massah dari India. Kajian ilmu lainnya adalah loghika dan filsafat di pelajarinya melalui Abi Abdillah an- Natili[4].
Kesungguhan beliau belajar baik melaui guru-guru formalnya atau secara otodidak tidaklah diragukan,sejarah mencatat beliau menghabiskan waktunya di sebuah perpustakaan milik Nuh bin Mansyur seorang sultan di Bukhara,karena berhasil mengobatinya. Ilmu kedokteran yang menjadi cikal bakal dan sebagai sumber utama serta referensi para ilmuan barat dan timur yang menekuni kedokteran, adalah hasil buah karyanya yang sangat monumental.
Dalam menekuni ilmu kedokteran beliau bukan saja mempelajari teori-teori kedokteran, tetapi sering kali mengadakan penelitian dan praktek pengobatan. Banyak buku beliau yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, berkenaan dengan itu banyak yang menduga bahwa Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran dari Ali Abi Sahl al-Masity dan Abi Mansur al-Hasan ibn Nuh al-Qamary. Selanjutnya Ibnu Sina dikenal bukan saja tajam dalam pengamatan ilmu agama dan pengamalannya, tetapi beliau juga mendalami ilmu eksakta dan ilmu terapan lainnya.  Hal ini menandakan Ibnu Sina tidak membedakan antara ilmu syari’ah dengan sains, sebab beliau melihat untuk membangun peradaban manusia tidak mungkin mengistimewakan disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya.  Keduanya saling membuthkan, pendidikan Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi. Sedangkan pendidikan non-Islam, orientasinya duniawi saja. Di dalam  ajaran Islam antara dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan tujuan.  Karenanya kualitas hidup di akhirat ditentukan oleh kualitas hidup di dunia.
Fungsi pendidikan tidak akan tercapai bila pendidikan yang ditawarkan hanya mampu menciptakan manusia pada satu kebahagiaan, seorang muslim dilarang untuk hidup pada satu orientasi saja, tetapi harus diraih secara keseluruhan, yaitu dunia-akhirat. Firman Allah SWT. Dalam Al-Quran telah memberikan peringatan dengan santun:
         وابتغ فيما اتاك الله الدارالاخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا  ( القصص      )
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari kenikmatan dunia ( QS. 28 : 77 )

Bisa dipahami kenapa Ibnu Sina begitu gigih menekuni berbagai macam ilmu pengetahuan, karena begitulah Islam memerintahkan kepada umatnya. Terbukti dengan karyanya yang berjumlah tidak kurang dari empat ratus lima puluh buah,meliputi bidang ilmu kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika, politik sampai sastra arab.  Para sejarawan ada perbedaan pendapat, ada yang berkata karyanya berjumlah 276 menurut versi Father dari Dominican, sementara menurut peneliti lain Philip K. Hitti sebanyak 99 buah. Perbedaan ini memang sangat memungkinkan sebab banyak sedikitnya data yang digunakan[5].
Karya beliau yang paling monumental dan dikenang oleh dunia barat dan timur adalah tentang kedokteran. Dia dianggap sebagai Bapak kedokteran modern, George Sarton seorang ilmuan barat berkata Ibnu Sina Ilmuan paling terkenal dari Islam lewat karya kedokteran. Satu hal yang menjadi kebiasaan beliau adalah ketika sudah mengalami kebuntuan berpikir dalam penelitian atau sedang mengkaji ilmu, maka meninggalkan buku-bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid dan melakukan sholat sunah sampai datang hidayah yang dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Kemudian bersedekah kepada pakir miskin sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada Allah SWT. Menjelang akhir hayatnya karena sakit yang tidak mungkin lagi sembuh, kemudian beliau mandi, lalu bertaubat kepada Allah Swt. Menyedekahkan seluruh hartanya kepada fakir-miskin, memaafkan orang yang pernah menyakitinya, membebaskan para budaknya, membaca Al-Quran sampai tamat (khatam) setiap tiga hari sekali. Ia wafat pada hari jum’at pada bulan ramadhan tahun 428 H- 1037 M di makamkan di Hamadan.

B.     KONSEP PENDIDIKAN IBNU SINA
Pemikiran Ibnu Sina dalam pendidikan antara lain berkenaan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru, dan pelaksaan hukuman. Penulis tidak membahas semua, tetapi cuma dua yaitu tujuan pendidikan dan kurikulum,karena dua aspek iniah yang ada korelasinya dengan pendidikan integratif .
Menurut Ibnu Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan kepada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ka arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti.  Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat,kesiapan,kecendrungan, dan potensi yang dimiliki[6]. Khusus mengenai pendidikan yang bersipat jasmani, Ibnu Sina mengatakan hendaknya tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti olah raga, makan, minum, tidur, dan menjaga kebersihan[7].
Konsep pendidikan yang ditawarkan Ibnu sina mencakup tiga unsur, semuanya berkaitan dengan pembangunan karakter manusia, menurut beliau potensi spritual yang terdapat dalam diri manusia harus dikembangkan, kemampuan akal juga harus dikembangkan, serta kekuatan raga harus di pelihara. Rumusan ini di tawarkan bertolak dari pengalaman pribadinya, bukan karena hasil renungan atau daya imajinasi kosong. Dengan begitu rumusan yang dirancang Ibnu Sina merupakan strategi belajar yang mengandung pengembangan potensi dan bakat manusia secara optimal, menyeluruh dan komprehensif, agar manusia bisa eksis dan mampu menjalankan tugasnya sebagai pengelola bumi (khalifah) bukan saja memakmurkan, tetapi juga mengelola bumi  ini dengan baik sesuai dengan keinginan penciptanya.
Karena manusia sebagai khalifah juga sekaligus menjadi penghamba (‘abd) Tanpa pengetahuan yang multi kompleks yakni pembekalan ilmu yang sempurna bagi manusia, baik ilmu syari’ah atau sains teknologi nihil manusia dapat mengoptimalkan bumi dan melaksanakan penghambaan melalui pelaksanaan ibadah. Ada dua fungsi yang melekat pada diri manusia. Mengabaikan salah satu sisi fungsi tersebut dengan sendirinya menghilangkan separuh dari jati diri manusia itu sendiri, ini menuntut penegasan guna menekankan bahwa ketika kita mengatakan humanism dalam artian Islami, maka itu berbeda dengan pemakmanaan humanism barat yang mengandung pengertian penolakan terhadap dimensi keilahian. Sementara dalam Islam pengembangan manusia mengandung dimensi- dimensi kebertuhanan[8].
Tujuan pendidkan diarahkan pada penggalian potensi pada anak didik dan sekaligus pengembangan sesuai dengan perkembngan zaman dan teknologi, sebab pendidikan yang modern adalah pendidikan yang mampu mengantisifasi lingkungan secara optimal dan menyeluruh. Hal ini ditunjukkan oleh Ibnu Sina dengan memberikan pendidikan keahlian, lulusan yang mampu bekerja di tengah masyarakat, disamping mencegah adanya pengangguran, juga jangan sampai terjadi gejolak sosial yang sudah pasti akan menghambat semua tugas manusia sebagai pengelola bumi.
Ide cemerlang pendidikan yang dicetuskan Ibnu Sina ratusan tahun lalu masih bisa diterapkan pada masa sekarang walaupun dunia pendidikan sudah maju pesat, terutama bagi bangsa yang menghendaki kemajuan.  Disamping itu, konsep yang dibangun oleh Ibnu Sina, bukan sekedar teori di atas kertas,tetapi beliau sudah tunjukkan kepada dunia khususnya Islam sebagai seorang pemikir, pekerja dan sekaligus praktisi. Kesemua itu berangkat dari keinginannya yang kuat dalam pengamalan perintah Allah SWT. dan Rasulullah SAW. yang tercover dalam Al-Quran dan Hadis, seperti yang penulis paparkan diatas begitu hebat rasa penghambaannya kepada Al Khalik baik dalam waktu susah atau waktu senang. Melalui tujuan pendidikan yang dirumuskannya, diharapkan manusia bisa menerapkannya terutama generasi muda Islam lewat pendidikan Integratif yang telah dirintisnya.

·      KURIKULUM
Secara sederhana istilah kurikulum digunkanan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran bisa dalam bentuk ijazah atau gelar. Suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan –tujuan pendidikan tertentu[9].
Konsep Ibnu Sina tentang kurikulum didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik.  Untuk anak didik usia 3 tahun sampai 5 tahun misalnya, menurut Ibnu Sina perlu diberikan pada mata  pelajaran olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suaran dan kesenian[10].
Pelajaran olah raga bagi anak-anak sangatlah diperlukan, sebab dengan banyak bergerak tulang, sendi otot, peredaran darah akan berjalan normal, hal ini akan membawa kesempurnaan pertumbuhan fisik secara optimal. Sementara pendidikan budi pekerti mengajarkan anak supaya mempunyai ahlak dan sopan santun dalam bergaul, peka terhadap lingkungan dan mempunyai rasa sosial yang tinggi.
Setelah itu untuk hidup selalu bersih indah dan sehat, maka diperlukan pengenalan kebersihan sejak dini, terutama kebersihan dirinya. Kemudian kenapa seni perlu dipejari tujuannya adalah untuk menghaluskan perasaan, tidak kasar sikap hidupnya dan tinggi tingkat imajinasinya. Khusus olah raga Ibnu Sina memberikan batasan sesuai dengan kemampuan fisik dan usia, berat dan ringan.  Kesemuanya pelajaran tersebut akan menghantarkan manusia menjadi sehat mental dan spritual.
Selanjutnya kurikulum untuk anak usia 6 tahun sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal Al-Quran, pelajaran agama, pelajaran syair, dan pelajaran olah raga[11] .
Pada konsep pedidikannya memasuki usia 6 sampai 14 tahun di haruskan anak didik sudah mulai membaca dan sekaligus menghafal Al-Quran. Hal ini sangatlah baik pada usia muda seperti seseorang belum disibukkan oleh urusan dunia, jiwa dan hatinya  masih bersih, ingatannya kuat, dan yang lebih penting anak sudah dibekali dengan nilai keagamaan dalam ibadah. Disamping itu Al-Quran merupakan dasar untuk memahami literature ilmu keislaman seperti fiqih, tauhid, tasawuf, ahlak, disamping dalam penguasaan bahasa arab banyak kosa kata yang dihafal. Langkah ini sangatlah strategis dan cukup mendasar dalam pembinaan ilmuan muslim yang kuat iman dan imtaqnya seperti  yang telah dibuktikannya sendiri.
Selanjutnya kurikulum untuk usia 14 tahun ke atas. Pandangan Ibnu Sina terhadap mata pelajaran yang diberikan pada usia ini sama seperti diatas amat banyak jumlahnya, namun pelajaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat. anak. Ini perlu adanya pertimbangan dengan kesiapan anak didik.  Dengan cara demikian, anak akan memiliki kesiapan untuk menerima pelajaran tersebut dengan baik. Ibnu Sina menganjurkan kepada para pendidik agar memilihkan jenis pelajaran yang berkaitan dengan keahlian tertentu yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya[12].
Di antara mata pelajaran tersbut dapat dibagi kedalam mata pelajaran yang bersipat teoritis dan praktis. Mata pelajaran yang bersipat toritis anatara lain ilmu tentang materi dan bentuk, gerak, dan perubahan, wujud dan kehancuran, tumbuh-tumbuhan, hewan, kedokteran, astrologi, kimia, yang secara keseluruhan tergolong ilmu-ilmu fisika. Selanjutnya ilmu tentang ruang, baying dan gerak, meukul beban, timbangan, pandangan dan cermin, dan ilmu memindahkan air, yang secara keseluruhan tergolong ilmu matematika. Selanjutnya terdapat juga ilmu tentang cara-cara turunnya wahyu, hakikat jiwa pembawa wahyu, mu’jizat, berita gaib, ilham dan ilmu tentang kekekalan ruh setelah berpisah dengan badan yang secara keseluruhan termasuk ilmu ketuhanan[13].
Selanjutnya mata pelajaran yang bersipat praktis adalah ilmu akhlaq yang mengkaji tentang cara-cara pengurusan tingkah laku seseorang, ilmu pengurusan rumah tangga,yaitu ilmu yang mengkaji hubungan antara suami dan isteri, anak-anak, pengaturan keuangan, dalam kehidupan rumah tangga, serta ilmu politik yang mengkaji tentang bagaimana hubungan antara rakyat dan pemerintah, kota dengan kota bangsa dengan bangsa[14]. Ibnu Sina juga memasukkan pula ilmu tentang cara menjual dagangan, membatik, dan menenun, masuk pada ilmu yang praktis.
Apabila kita perhatikan kurikulum yang dibentuk oleh Ibnu Sina sangat komprehensif dan sudah sangat modern, bukan saja masa itu dimana dunia pendidikan belum di dukung oleh media pengajaran elektronik. Tetapi masa sekarang inipun kurikulum itu masih cocok diterapkan di sekolah, baik pada sekolah menengah umum atau sekolah kejuruan, baik kosentrasi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diwakili oleh ilmu biologi, kimia, asrologi, matematika.  Sementara jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang diwakili oleh llmu berdagang, politik, manajemen.
Untuk jurusan sekolah kejuruan (keterampilan) tergambar mata pelajaran membatik, menenun. Ibnu Sina dengan kurikulumnya mempersiapkan generasi mendatang dengan bekal ilmu yang cukup, sebab bukan saja membentuk manusia menjadi trampil dengan keahlian yang dimiliki sebagai usaha berkarya di masyarakat dalam mencari rezki.  Kemudian dipersiapkan juga mereka yang akan menyibukkan pada dunia alam dan lingkungan sampai anatomi manusia melalui penelitian dan laboratorium.
Kehidupan rumah tanggapun diatur sedemikian rupa sehingga terciptanya rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah. Bisa jadi ini menjadi penekanan utama dalam kurikulum, karena rumah tangga adalah bagian terkecil dari masyarakat, tetapi mempunyai pengeruh besar dan menentukan nasib suatu bangsa.
Dengan begitu, uraian tentang kurikulum yang dibuat Ibnu Sina mempunyai tiga ciri pertama yaitu kurikulum tersebut bukan sekedar konsep tetapi disertai juga dengan petunjuk pelaksanaannya (Juklak) seperti masa pemberian usia berapa diberikan kepada anak didik, tujuan, pertimbnagan aspek psikologis berkaitan dengan bakat dan minat. Sehingga anak didik benar-benar senang-suka mempelajarinya. Kedua bahwa kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina bersipat pada pemikiran pembentukan lulusan yang benar-benar mempunyai keahlian dan ketrampilan pada bidangnya, sehingga dapat membangun masyarakat (Market oriented) dengan kata lain mempunyai tingkat kompetensi yang baik.  Ketiga penawaran kurikulum tersebut bukannya hasil turunan dari karya orang lain (plagiat) tetapi benar- benar berangkat dari pengalaman pribadinya yang cukup lama digeluti. Tentu saja kurikulum model seperti ini akan membawa hasil maksimal. Disamping itu ada usaha agar pengalaman beliau dalam menggeluti berbagai disiplin ilmu pengetahuan dapat diteruskan dan terwarisi dan masuk pada katagori ilmu yang bermanfaat yang pahalanya terus mengalir kepada orang yang telah mengajarkannya.  Seperti Hadis Nabi Muhammad SAW.  bersabda:   
      اذا ما ت الانسا ن انقطع عمله إلا من ثلا ث صد قة جا ريه او علم ينتفع به او ولد صلح  يد عو له      (رواه مسلم  )                      
Artinya : Apabila mati seorang manusia maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga hal  yaitu shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh yang mendoakan kepada  kedua orang tuanya (HR. Muslim)[15].

Dengan melihat ciri-ciri dan karaktersitik kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina pada dunia penidikan Islam khususnya sangat tepat.  Bukan saja pada masa lalau, tetapi pada masa sekarang pun konsep ini masih bersifat kekinian, tidak ketinggalan zaman mulai dari taman kanak-kanak sampai pendidikan tinggi.  Sebab konsep dasar pendidikannya sudah dimulai dengan pendidikan integratif yang sangat komprehensif. Semoga dunia pendidikan Islam mulai menerapkan kembali pendidikan Integratif yang sudah dimulai ratusan tahun lalu, dan berhasil membawa umat Islam pada peradaban puncak ilmu pengetahuan. 

2.      IBNU KHALDUN
A.    RIWAYAT HIDUP IBNU KHALDUN
Nama lengkapnya adalah Abdullah Abd al-Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun. Beliau dilahirkan di Tunisia pada bulan Ramadhan tahun 732 H/1332 M, dari keluarga ilmuan dan terhormat yang telah berhasil menghimpun antara jabatan ilmiyah dan pemerintahan. Suatu jabatan yang jarang dijumpai dan mampu diraih orang pada masa itu. Sebelum menyebrang ke Afrika, keluarganya adalah para pemimpin politik di Moorish (Spanyol) selama beberapa abad. Dengan latar belakang keluarganya yang demikian, Ibnu Khaldun memperoleh dua orientasi yang kuat, pertama cinta belajar dan ilmu pengetahuan, kedua cinta jabatan dan pangkat. Kedua faktor tersebut sangat menentukan dalam perkembangan pemikirannya[16].
Ibnu Khaldun telah ditinggalkan ayahnya pada usia 18 tahun, ayahnya yang bernama Abu Abdullah Muhammad pada menjelang akhir hayat meninggalkan dunia politik dengan menekuni ilmu pengetahuan dan dunia kesufian. Ibnu Khaldun pernah belerja pada raja Granada, menjadi seorang politikus karena berhasil menyelesaikan berunding dengan Raja Pedro (raja Granada) dan raja Castila di Selvia.
Karena keberhasilannya ditawarkan bekerja oleh penguasa, dan sebagai imbalannya tanah-tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepadanya. Akan tetapi, dari tawaran yang ada, beliau akhirnya memilih tawaran untuk bekerja sama dengan raja Granada[17]. Tinggal bersama keluarganya, tetapi tidak lama. Kembali ke Afrika dan diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Sultan al-Jazair.
Pada tahun 1382, beliau melaksanakan ibadah haji, setelah selesai berangkat ke Iskandariyah dan dilanjutkan ke Mesir dan diangkat menjadi Ketua Mahkamah Agung pada masa dinasti Mamluk. Selain dikenal sebagai filosof, dikenal juga sebagai sosiolog yang memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Hal ini antara lain terlihat dari pengalamannya sebagai pendidik yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah banyak menekuni berbagai macam aktivitas di Mesir, pada tahun 1406, Ibnu Khaldun meninggal dunia pada usia 74 tahun di Mesir[18].
Melihat perjalanan Ibnu Khaldun sarat sekali dengan dunia pendidikan, hal  ini dapat terlihat aktivitasnya dalam membina dan membimbing masyarakat. Seperti menjadi pendidik (guru) dan qadhi (semacam hakim) diplomat, penasihat penguasa. Semua itu dijalankan penuh dengan nilai-nilai ke Islaman tinggi, bukan ambisi pribadi. Tetapi dunia tersebut tidak lama ditekuni, beliau lebih banyak menekuni dunia ilmu pengetahuan dengan banyak menulis dan penelitian.
Karyanya yang sangat monumental adalah Mukaddimah dan al-‘Ibar, karya sejarahnya. Dunia mengakui Ibnu Khaldun sebagai sejarawan muslim terbesar. Tidak itu saja, dunia barat mengakui beliau sebagai penemu sosiolog modern, lewat karyanya dalam ‘Ilm al-‘Umran (Ilmu Peradaban). Mari kita kembangkan ilmu pengetahuan denngan rasa optimisme yang kuat untuk kemajuan umat Islam yang telah dirintis oleh ilmuan muslim terutama Ibnu Khaldun. Jika orang luar sangat para sarjana non-muslim begitu menghargai karya-karyanya, mengapa kita sebagai umat Islam terkesan kurang simpati, kalau tidak melupakan. Mari kita kembangkan terus cara dan model Ibnu Khaldun menekuni ilmu pengetahuan dengan tanpa membedakan mana ilmu agama (syari’ah)  dan ilmu umum (Sains- Teknologi).
B.     KONSEP PENDIDIKAN IBNU KHALDUN
Banyak pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidkan yang dapat diaplikasikan pada sekarang, walaupun konsep ini dilontarkan beliau ratusan tahun yang lalu kususnya bagi umat Islam.

·         TUJUAN PENDIDIKAN
Menurut Ibnu Khaldun Tujuan Pendidikan beraneka ragam dan bersipat Universal. Di antara tujuan pendidikan menurut Ibnu  Khaldun adalah sebagai berikut:
1.        Tujuan Peningkatan Pemikiran
Ibnu Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan akal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan ketrampilan.Dengan menuntut ilmu dan ketrampilan seseorang dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. disamping itu, melalui potensinya, akal akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi- informasi yang diperoleh oleh pendahulunya.
Manusia mengumpulkan fakta-fakta dan menginventarisasikan keterampilan-keterampilan yang dikuasainya untuk memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan yang semakin meningkat sepanjang masa sebagai hasil dari aktivitas akal manusia[19]. Atas dasar itu kita melihat bahwa pemikiran Ibnu Khaldun meninginkan adanya peningkatan kecerdasan dan pemikiran manusia selalu berkembang dan penuh dengan inovasi-inovasi baru. Sebab dengan inilah manusia selalu dinamis dalam mengembangkan potensi dirinya. Mereka bisa mengatur, mengembangkan dan mengolah bumi dengan teknologi dan ketrampilan. Semua ini bisa didapat dengan pewarisan ilmu pengetahuan melalui belajar.

2.        Tujuan Peningkatan Kemasyarakatan
Dari segi peningkatan kemasyarakatn, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ilmu dan pengajaran adalah lumrah bagi peradaban manusia[20].  Ilmu pengetahuan dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ke arah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, maka akan semakin bermutu dan dinamis pula ketrampilan di masyarakat  tersebut. Untuk itu manusia seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan ketrampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup lebih baik di masyarakat yang dinamis dan berbudaya. Jadi eksistensi pendidikan menurutnya merupakan satu sarana yang dapat membantu, individu dan masyarakat menuju kemajuan dan kecermelangan. Di samping bertujuan meningkatkan mendorong terciptanya tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik[21].
Tujuan pendidikan dari segi kerohanian adalah dengan meningkatkan kerohanian manusia dengan menjalankan praktek ibadah, zikir, khalwat (menyendiri) dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagai mana yang dilakukan para sufi[22].

·         KURIKULUM PENDIDIKAN DAN KLASIFIKASI ILMU
Ibnu Khaldun membuat klasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi peserta didik. Beliau menyususn kurikulum yang sesuai sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena krikulum dan sistem pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan menjadian mereka enggan dan malas belajar. Berkenaan dengan hal tersebut, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam, yaitu  sebagai berikut:
a.        Kelompok ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika sastra dan bahasa yang tersusun secara puitis (syair)
b.        Kelompok ilmu Naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
c.         Kelompok ilmu Aqli yaitu Ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan berpikir. Proses perolehan tersebut dilakukan melalui panca indra dan akal.

Ibun Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingannya bagi peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu:
1.         Al-Quran dan Hadis
2.         Ulmu Al-Quran
3.         Ulum Al Hadis
4.         Usul al- Fiqih
5.         F i q i h
6.         Ilmu al- Kalam
7.         Ilmu  al- Tasawuf
8.         Ilm Ta’bir al- Ru’ya

Menurutnya, Al-Quran adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak. Al-Quran mengajarkan kepada anak tentang syari’at Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat Islam[23].
Disini kita melihat bahwa Ibnu Khaldun memulai pendidikan dengan ketat sekali, yaitu membentengi dan membina jiwa anak pertama dengan mengenal Al-Quran. Karena anak dalam usia pertumbuhan memerlukan pembinaan yang benar, karena jiwanya masih bersih belum terkena polusi. Jika anak sudah dibentuk dengan karakter yang kuat jiwa agamanya, dalam kondisi apapun tidak akan tergoda.Baik dalam Al-Quran dan hadis merupakan pedoman hidup muslim yang tidak ada intervensi, dia terjaga, ini yang perlu dipertahankan umat Islam.
Ilmu-ilmu naqli hanya ditujukan untuk dipelajari pemeluk Islam. Walaupun dalam memahaminya terkadang ada perbedaan, ini Cuma masalah interpretasi. Tetapi perbedaan itu tidak keluar dari substansi Syari’ah, dalam Islam eksistensi ilmu berfungsi meluruskan susuatu yang dianggap menyimpang, baik dalam kepentingan alam atau manusia, siapapun orang dan latar belakang, sosial, agama, pendidikan atau jabatannya. Sehingga terbentuknya kehidupan yang dinamis.
Secara khusus, ilmu aqli dibagiinya kepada empat kelompok, yaitu:
1.         Ilmu Logika ( Mantiq )
2.         Ilmu Fisika : termasuk didalamnya ilmu kedokteran dan ilmu Pertanian.
3.         Ilmu Metafisika ( ‘Ilm al- Ilahiyat )
4.         Ilmu Matematika termasuk didalamnya, ilmu Geografi, Aritmatika, dan Al-Jabar, Ilmu Musik, Ilmu Astronomi, dan Ilmu Nujum. Mengenai ilmu nujum, Ibnu Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid.

Pandangannya ini didasarkan asumsi bahwa ilmu tersebut dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan.Hal ini merupakan sesuatu yang bathil dan berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan dan menentukan kecuali atas kehendak dan Iradah Allah Swt. itu sendiri. 
Menurut Ibnu Khaldun, mempelajari ilmu-ilmu aqli (rasio) dipandang sebagai sesuatu yang lumrah bagi manusia dan tidak hanya milik suatu agama. Ilmu-ilmu aqli dipelajari oleh senua penganut agama. Mereka sama-sama memenuhi syarat untuk mempelajari dan melakukan penelitian terhadap ilmu-ilmu aqli. Ilmu-ilmu ini telah dikenal manusia sejak peradaban dikenal oleh manusia di dunia ini. Ia menyebut bahwa ilmu-ilmu aqli merupakan ilmu-ilmu filsafat dan kearifan[24].
Untuk dapat dipahami bahwa  manusia melalui proses berpikir dan meneliti, akan mengalami perubahan dan kemajuan budayanya. Menuju ke arah sana tentu saja diperlukan ilmu aqli (rasio) sebagai medianya. Demikian besar manfaatnya untuk kehidupan manusia baik secara individu atau bermasyarakat.
Ibnu Khaldun berupaya menyusun ilmu-ilmu tersebut di atas berdasarkan urgensi dan faedahnya bagi peserta didik, yaitu:
1.         Ilmu Syari’ah dengan semua jenisnya
2.         Ilmu Filsafat (rasio); ilmu alam (fisika) dan ilmu ketuhanan (metafisika)
3.         Ilmu alat yang membantu ilmu agama ilmu bahasa Gramatika, dan sebagainya.
4.         Ilmu alat yang membantu ilmu Falsafah (rasio); ilmu mantiq, dan ushul Fiqih[25]

Secara umum (global), keempat ilmu tersebut di atas kemudian dibagi oleh Ibnu Khaldun menjadi dua golongan yaitu (1) Ilmu-ilmu pokok (2) Ilmu-ilmu alat. Ilmu-ilmu syari’at dan filsafat berada dalam satu klasifikasi. Ibnu Khaldun menamakannya dengan ilmu-ilmu pokok (al- ulum al- maqsudah bi zatiha). Namun demikian, beliau lebih mengutamakan ilmu-ilmu syari’ah dari ilmu-ilmu filsafat karena merupakan asas dari ilmu-ilmu. Menurutnya, syari’ah dari dari Allah SWT. dengan perantaraan para Nabi. Manusia hendaknya menerima apa yang dibawa oleh para Nabi, melaksanakan dan mengikutinya untuk tercapainya kebahagiaan[26].
Adapun golongan ketiga dan keempat, Ibnu Khaldun meletakkan pada klasifikasi alat. Dari ilmu tersebut beliau mengutamakan mengamalkan ilmu syari’ah melalui ilmu alat. Dari sini pula kita bisa memahami Al-Quran dan Hadis dengan seperangkat bahasa arab dan cabangnya khusus nahwu, shorof, balaghoh, mantiq. Beliau menempatkan ilmu filsafat pada bagian posisi terakhir sebagai penunjang, dan alat pelengkap, tetapi bahasa arab dengan jenisnya pada setiap anak didik, menjadi keharusan untuk dipelajari.
Dari uraian singkat tentang Ibnu Khaldun tersebut di atas menampakkan kepada kita bahwa konsep- konsep pendidikan yang di kemukakan begitu elegen dan komprehensif  dan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena semua berangkat dari tuntunan wahyu, akal sekedar mengiringi untuk memahami. Tetapi keduanya saling membutuhkan. Sebab dalam Al-Quran banyak sekali diperintahkan agar kita mempergunakan akal, pikiran, logika, jika tidak, susah bagi manusia mengembangkan dan menggali bumi dengan segala potensinya. Jadi kurikulum yang dicanangkan Ibnu Khaldun pada pendidikan bermodel Integratif. Sebab antara ilmu umum (sains), dan agama (syari’ah) dipadukan tanpa membedakan keduanya berjalan dengan serasi. Hendaknya umat Islam menerapkan konsep ini,  karena tidak mungkin peradaban ilmu pengetahuan dapat dibangun kembali jika kita lari dari konsep pendidikan oleh Tokoh-tokoh Islam, ini semuanya sudah terbukti.
 
3.        MUHAMMAD NASIR
A.        RIWAYAT HIDUP MUHAMMAD NATSIR
Muhammad Nasir dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di Alahan panjang, sebuah desa yang berhawa dingin terletak dalam daerah kabupaten Solok Provinsi Sumatera barat, anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Idris Sutan Saripado, seorang juru tulis kontrolir di masa pemerintahan Belanda. Ibunya bernama Khodijah yang dikenal taat memegang nilai-nilai ajaran Islam[27].

Pendidikan yang ditempuh Muhammad Natsir di awali dengan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat di Maninjau berbahasa melayu, lalu melanjutkan pendidikan formalnya di HIS (Hollandsch Inlandschs School) Adabiah, sekolah yang dikelola Haji Abdullah Ahmad yang mengacu pada sistem pendidikan belanda,tetapi dilengkapi dengan pelajaran agama Islam. Untuk meningkatkan pengetahuan keislaman beliau belajar agama di madrasah diniyah dan malamya belajar mengaji Al-Quran. Setelah selasai sekolah di HIS, lalu dilanjutkannya bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dengan beasiswa, karena prestasinya yang istimewa. Beliau belajar bersama murid keturunan Belanda.
Ketika Beliau pada masa sekolah kecerdasannya melihat kondisi perkembangan pendidikan umat Islam sangat mengkhawatirkan, yaitu pola pendidikan barat sangat bertentangan dengan pribadinya sebagai seorang Muslim. Sebab bukan saja akan menimbulkan tidak simpatinya terhadap Islam, tetapi akan mendangkalkan kesadaran beragama siswa. Lebih dari itu akan menimbulkan antipati  terhadap ajaran agama yang dianutnya. Ketajamannya dalam memahami persoalan agama terutama yang menyangkut urusan pendidikan dan da’wah Islam dipengaruhi oleh A. Hasan, seorang ulama dan cedikiawan yang luas ilmunya namun agak radikal, artinya tegas dalam berhadapan dengan hukum.
Tokoh lain yang dapat membentuk  keintelektual  Muhammad Natsir ialah Haji Agus Salim. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Syafi’i Maarif bahwa tokoh Haji Agus Salim telah mewariskan banyak ilmu dan pemikiran kepada Muhammad Natsir. Seperti kejujuran, intelektualisme Islam, sikap percaya diri, kecakapan mengurus Negara, kesetiaan pada prinsip-prinsip perjuangan, kesederhanaan hidup dan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Perpaduan pemikiran beliau antara pemahaman tekstual normatif dan bercorak kontesktual dan beorientasi ke masa depan.
Keterlibatan Natsir dalam dunia pendidikan dimulai sekitar tahun 1930 dengan mengadakan kursus, ternyata kegiatan ini berkembang dan berubah menjadi lembaga pendidikan Islam. Selama sepuluh tahun (1932-1942) jenjang pendidikan yang dirintis lengkap mulai dari taman kanak-kanak, HIS, MULO, Kweekschool. Beliau sempat terlibat pembangunan pendidikan Sekolah Tinggi Islam bersama Bung Hatta, A. Kahar Muzakir, inilah cikal bakal berdirinya UII sekarang. Dari sekian banyak kegiatan, pendidikan adalah menjadi tujuan dan cita-cita utamanya. Teruatama dalam pembaharuan pendidikan Islam. Tujuannya adalah mengangkat dan memberikan layanan pendidikan yang layak dan bermutu bagi umat Islam. Sehingga masa kejayaan Islam yang pernah diraih, lalu hilang dapat diraih kembali. Terutama umat Islam yang berada di republik ini.

A.      PEMIKIRAN PENDIDIKAN MUHAMMAD NATSIR
Dalam menelusuri pemahaman Muhammad Natsir dalam pendidikan  terdapat tiga persoalan penting yang ingin dicermati yakni pertama, bagaimana hakekat manusia sebagai pelaku pendidikan. Kedua bagaimana hakekat pendidikan menurut Islam. Ketiga konsep nilai yang ingin direalisasikan dalam sistem pendidikan.

1.         Manusia Sebagai Subyek Pendidikan
Mencermati hakekat manusia merupakan obyek pembahasan yang menarik dan tidak penah selesai dibicarakan dari priode klasik hingga kini. Manusia sebagai mahluk Allah Swt. yang penuh misteri dan unik. Sebab dalam dirinya menyatu dua aspek yaitu struktur fisik biologis dan aspek psikis ruhaniyah. Ini yang berkembang secara dinamis dan kreatif, seingga mampu merespon segala problematika hidup dan tuntutan perubahan yang terjadi[28].
Jika kita mencoba memahami dua unsur tadi, nampaknya unsur fisik lebih dominan dalam kemampuannya mempungsikan panca indra, sehingga bisa berinteraksi dengan lingkungan. Ketika kondisi demikian manusia mampu merekayasa alam sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.ke arah yang lebih baik. Sedangkan aspek psikis ruhani manusia memiliki ruh, akal, hati, dhomir (hati nurani)  dan nafsu. Akal yang diberi oleh Allah SWT. diperuntukan agar manusia dapat mengembangkan, berkreasi, berinovasi dan memaksimalkan bakat yang terdapat dalam diri manusia, sehingga dapat menggali dan memanpaatkan potensi alam dengan baik. Disinilah manusia perlu belajar, tanpa ilmu pengetahuan tidak mungkin mereka sukses. Jadi subyek pendidikan dipegang dan sekaligus manusia yang mengendalikan, mengatur, merencanakan, sistem, atau method, kerena semua itu menyangkut kebutuhan dan bersifat dinamis.
Disamping itu pada diri manusia terdapat ruh sebagai sumber kehidupan manusia, ruh tersebut Allah tiupkan ketika manusia sudah memulai kehidupan di alam rahim.Ruh dengan izin Al Khalik tidak mati, dia terus hidup. Dengan rohani inilah manusia mempunyai potensi apakah berbuat baik (taqwa) atau sebaliknya berbuat yang tidak baik (fujur). Sementara hati (al-qalb) berfungsi dapat merasakan keindahan, kebaikan.
Jadi sebagai sumber dan central tingkah dan sepak terjang manusia, dari hatilah bisa terukur.
Adapun dhomir merupakan daya murni dalam qalbu manusia yang dapat menentukan pilihan melakukan yang baik dan menjauhkan yang buruk, sebagai komponen hati. Karenanya ketika manusia melakukan perbaikan dan perubahan menuju hidup yang lebih bermakna menandakan bahwa komponen hati merupakan bagaian yang esensial dan integral untuk mencapai tujuan hidupnya. Apabila komponen- komponen tersebut diatas tidak terdapat dalam diri manusia, maka tidak mungkin manusia bisa menempatkan dirinya sebagai Khalifah fil ardh, dengan misi memakmurkan bumi.
Terkait dengan manusia sebagai pelaku pendidikan, menurut Muhammad Natsir keistimewaannya terletak pada potensi fitrah yang dianugrahkan Allah SWT. Oleh karena adanya interaksi dengan lingkungan manusia dihadapkan oleh dua alternative, yakni menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Disinilah peranan Wahyu, manusia di bimbing dan diarahkan  agar tidak menyimpang. Pertautan antara berbagai potensi manusia dengan wahyu yang dinamakan Fitrah. Sebagai pelaku pendidikan, manusia mestinya mampu menumbuh kembangkan fitrahnya ke arah tujuan hidupnya yang hakiki sehingga menjadi hamba Allah yang ahsan baik secara jasmaniah maupun rohaniyahnya. Keduanya tidak mungkin bisa dicapai manusia jika tidak melalui proses pendidikan[29]. Disini terlihat bahwa  manusia benar-benar sebagai pelaku langsung pendidikan, artinya maju dan mundurnya peradaban mereka, taqwa dan buruknya, bahagia dan tidaknya, mulia dan hinanya, tergantung sejauh mana pendidikan yang dijalani oleh manusia. Semakin bagus pendidikan umat Islam, harapan menjadi umat yang berkualitas semakin dekat .

2.      Hakekat Pendidikan Dalam Islam
Pendidikan dalam Islam tidak mungkin memisahkan hahekat keberadaan manusia, sebab manusia itu sendiri sebagai aktivis pendidikan. Dalam memahami pemaknaan pendidikan, dalam Islam ada beberapa istilah yang lazim digunakan diantaranya adalah ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Namun demikian dalam implementasinya ketiga istilah itu memiliki spesifikasi berbeda sesuai dengan konteksnya masing-masing.
Kata ta’lim merupakan masdar dari kata ‘allama lebih banyak diartikan dengan pengajaran, jadi lebih mengarah pada trasformasi ilmu dan ketrampilan. Hal ini bila dilihat dari keberadaan manusia yang lahir tidak membawa ilmu dan tidak mengeri apa-apa, lalu Allah Swt. member potensi yang mampu pengaruh dari luar, diantaranya melalui pendidikan. Dengan begitu kata ta’lim dalam Islam pada konteks pendidikan bekonotasi pada pengembangan intelektual melalui proses bimbingan tarhadap ranah kognitif peserta didik[30].
Sementara itu kata tarbiyah merupakan masdar dari rabba, yang berarti mengasuh, mendidik atau memelihara. Menurut Munir Mursy bisa bermakna mengasuh, bertanggungjawab, membesarkan, menumbuhkan, memproduksi, dan menjinakkan baik rohani atau jasmani. Sayid Kutub menambahkan makna tarbiyah dengan melakukan  bimbingan terhadap pertumbuhan sikap  mental peserta didik melalu pancaran nilai-nilai akhlak al-karimah[31].
Pemaknaan tersebut diatas, jika diperhatikan adalah menggambarkan kepada kita bahwa Islam melakukan proses pendidikan dalam aspek yang luas. Sebab potensi yang ada dalam setiap anak berbeda, sehingga dipelukan aktualisasi yang benar, agar potensi beragama, intelektual, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya tidak salah dalam mengembangkannya. Sebab segala apa yang dimiliki oleh manusia baik berupa hak atau kewajiban harus berkonotasi pada ibadah, jika tidak maka pendidikan yang dirintis manusia kurang bermakna dan itulah bagian  arti hakekat pendidikan dalam islam.
Salain itu kata ta’dib merupakan masdar dari kata addaba yang dapat diartikan sebagai proses mendidik dengan penekanannya lebih difokuskan pada pembinaan prilaku peserta didik, yakni pembentukan pribadi muslim berahlak mulia. Dengan demikian kata ta’dib lebih berorientasi pada proses tranformasi nilai-nilai sebagian inti dari pembentukan ranah afektif[32]
Dari kata ta’lim, tarbiyah atau ta’dib  memamg terdapat perbedaan, tetapi sebatas pada tinjauan bahasa. Namun secara substansif dan komprehensif tidak ada perbedaan yaitu perlunya tranformasi ilmu pengetahuan antar manusia sebagai salah satu tujuan penting dari pendidikan.Itulah yang selalu didengungkan oleh Islam secara normatif untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.Karena begitu penting dan urgensinya pendidikan, islam melalui Al-Quran dan Hadis banyak sekali mengutarakan dan mensosialisasikan pencarian ilmu kepada manusia. Islam sangat memperhatikan hidup kesimbangan, tidak bisa kita mengejar dunia saja, lalu melupakan akhirat. Atau sebaliknya cuma mencari akhirat tetapi melupakan dunia.
Demikian juga dalam dunia pendidikan, tidak boleh berkembang pemikiran dikotomi ilmu, karena disamping memang untuk membangun kehidupan seimbang dibutuhkan perpaduan ilmu agama dan umum (syari’ah-sains) disamping itu potensi yang ada dalam manusia berbeda, semua itu perlu dioptimalkan. Karena tujuan inti dari pendidikan adalah terletak pada upaya menumbuh kembangkan potensi.Sedangkan hasil yang ingin dicapai adalah terbentuknya manusia yang memiliki integritas pribadi utuh dan dapat memberikan kehidupan yang bermakna.
Kewajiban mencari ilmu dalam Islam tidak terbatas pada ilmu agama, atau ilmu keislaman saja, tetapi mencakup semua ilmu yang dapat mendatangkan manfaat, termasuk ilmu umum baik secara akademis atau keahlian professional. Kemajuan umat baru bisa dicapai ketika kita mengusai ilmu secara komprehensif (kaffah). Karena antara ilmu umum dan agama saling melengkapi, keduanya diperlukan. Kita tidak mungkin meraih kemenangan dan meraih peradaban dunia jika masih berpola pikir tidak seimbang.
Menurut Muhammad Natsir, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara sistimatis dan komprehensif, diperlukan corak lembaga pendidikan yang lebih variatif, bisa berbentuk lembaga pendidikan keagamaan dan dapat pula berbentuk lembaga pendidikan umum. Bagi lembaga keagamaan idealnya beorientasi pada pembinaan liyatafaqqahu fi al-addin (Ulama) yakni orang yang benar-benar memahami persoalan seluk beluk keagamaan dan dilengkapi pula kemampuan dasar pengetahuan umum sebatas kebutuhan individual. Sedangkan bagi lembaga pendidikan umum mestinya dapat menghasilkan ulul albab (intelektual) yang mampu membuktikan bahwa ciptaan Allah SWT. tidak ada yang sia-sia bagi manusia. Namun harus pula melengkapinya dengan ilmu keagamaan, sehingga dapat menerapkan nilai-nilai akhlaq al-karimah dalam sikap dan tindakannya[33].
Konsep pendidikan menurut Muhammad Natsir tersebut membuktikan bahwa untuk melahirkan ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama diperlukan lembaga pendidikan yang mampu mengakomodir kebutuhan itu. Dengan kata lain pendidikan Integratif merupakan pilihan pinal bagi umat Islam Indonesia. Apalagi kemajuan teknologi begitu pesat berkembang, jika ini tidak dibarengi dengan kemampuan ilmu peengetahuan yang komprehensif sudah hampir pasti kita menjadi obyek orang lain,.baik dalam ekonomi, politik, hukum, budaya dan tidak menutup kemungkinan akidah kita terancam, sebab kita dalam kendali orang lain yang keyakinannya berbeda.
Sekarang apa yang menjadi kekhawatiran kita tersebut diatas sebenarnya sudah menggejala, coba lihat kemajuan teknologi didang komonikasi, model pakaian, pola hidup, pergaulan, hidup beragama, pola makan, minum, bahkan cara-cara berpolitik pun sudah banyak mengikuti pola-pola barat yang cuma mengedepankan kepuasan jasmani,  mengesampingkan kebutuhan rohani. Hal ini tidak lain karena kita sudah tertinggal dengan orang non-muslim. Dalam ilmu pengetahuan kita beranggapan apa yang datang dari dunia barat baik dan modern, padahal belum tentu benar, ini akibatnya karena kita di bawah bayang-bayang mereka.

3.      Sistem Nilai Dalam Pendidikan Islam.
Dalam bahasa Inggris nilai disebut dengan value yang berarti harga yang bersifat abstrak. Sedangkan pemaknaan secara terminologis nilai mengandung banyak arti sesuai dengan fokus permasalahan yang ingin dibahas. Berkait dengan pendidikan, menurut Sidi Gazalba, setiap aktivitas idealnya mengandung niai. Nilai bukanlah sesuatu yang statis, melainkan berkembang seiring dengan tuntutan kebutuhan sebuah komonitas, malahan nilai sesuatu akan berbeda dengan tingkat peradaban suatu bangsa. Dengan kata lain nilai sesuatu akan dibatasi oleh ruang dan waktu. Seiring dengan perkembangan peradaban suatu masyarakat, maka sudah tentu nilai-nilai juga ikut berkembang.
Untuk dapat menumbuh kembangkan nilai-nilai dimaksud, diperlukan bimbingan secara sistimatis dan komprehensif melalui proses pendidikan. Demikian pula sebaliknya, suatu proses pedidikan yang tidak mengandung nilai, maka pendidikan tersebut akan melahirkan orang-orang pinter yang didak memiliki kedisiplinan diri sehingga mudah terjerumus pada perbuatan tercela[34].
Aktivitas yang dilakukan oleh manusia jika tidak disertakan dengan nilai sudah pasti menghasilkan sesuatu yang tidak maksimal. Demikian juga jika  tanpa nilai bisa jadi hasilnya jauh dari harapan. Sebab antara akhlaq, etika, dan moral merupakan aspek nilai yang memiliki unsur persamaan, yakni sama-sama berorientasi pada sikap dan tingkah laku manusia, sedangkan perebedaannya terletak pada konteks dan ukuran kebenaran yang dipergunkan. Akhlaq sebagai sikap rohani dalam Islam, menjadikan norma wahyu sebagai parameter dalam mengukur kebenarannya, etika lebih berorientasi pada ilmu yang berkait dengan tingkah laku manusia  dan ukuran kebenarannya bersandrakan pada logika, sedangkan moral merupakan prilaku praktis yang berdasarkan pada aturan-aturan dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
Dapatlah bisa dipahami penidikan yang bersipat dinamis sudah pasti harus memperhatikan aspek-aspek tersebut. Sebab manusia sebagai pelaku langsung pendidik atau selaku yang menerima pendidikan akan menghadapi masalah yang serius, paling tidak keberadaannya tidak mendapat respon, dukungan dan simpati dari masyarakat. Jika ini yang dihadapi, konsep apapun yang ditawarkan akan mengalami kegagalan total.
Dari manalagi kita akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang akan membangun peradaban keilmuan Islam, negara ini sampai sekarang masalah SDM masih menjadi masalah serius, artinya ini menjadi persoalan umat Islam di republik tercinta, karena kita memang mayoritas salah satu problem serius yang dihadapi oleh masyarakat atau negara ini adalah masalah sumber daya manusia. Problem ini bukan hanya  menimpa dunia politik, budaya, agama, tetapi juga pendidikan. Banyak masalah di dunia pendidikan yang berhubungan dengan masalah kondisi sumber daya manusia.
Ketika masyarakat di negara-negara maju memperbincangkan masalah peningkatan peradabannya, masyarakat atau Negara ini masih sibuk mengurus upaya membenahi sektor sumber daya manusia[35]. Seperti yang diugkapkan Muhammad Natsir, Ibnu Sina, dan Ibnu Khaldun konsep pendidikan yang mereka tawarkan adalah model pendidikan Integratif, yaitu mambangun peradaban keilmuan manusia khususnya umat Islam yang matang Iman dan imtaqnya, ilmu syari’ah dan sains. Jadi menuju pembentukan sumber daya manusia yang komprehansif jasmani dan rohani.
Masa kedepan diperlukan manusia yang integral, sebab majunya teknologi tidak melihat keberadaan manuisa sebagai pelaku kehidupan dan pemakai teknologi. Umat manusia sekarang menghadapi tragedi kultur, yang mengancam kehancuran masa depannya, dan di antara penyebab utamanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, yang tanpa dibungkus oleh oleh kekuatan moral dan agama. Kemajuan Iptek lebih didayagunakan untuk tujuan-tujuan militer, dan kemajuan-kemajuan yang tidak bertanggungjawab, yang mengancam masa depan bumi dan seluruh macam kehidupannya, wajah bumi menjadi berubah gara-gara kemajuan Iptek yang tidak terkendali, dan lingkungan hidup sangat menyedihkan akibat perbuatan manusia yang merusaknya. Sekarang terasa pentingnya diadakan hubungan kerjasama antara akal dan iman menghadapi kekonyolan dan kegilaan bunuh diri yang akan menenggelamkan kemanusiaan[36].
Banyak manusia sukses dengan teknologi canggihny hampir mengusai dunia, namun tidak dibarengi dengan kedekatan ibadah yang maksimal, tidak ada keseimbangan dalam diri. Sehingga kemajuan tersebut membawa dampak negatif, bukan kemakmuran sebagaimana yang diinginkan Islam. Pemikiran terhadap masalah pendidikan sumber daya manusia tersebut sejalan dengan pemikiran pemikir muslim kenamaan al-Ghazali. Beliau merupakan salah satu ulama yang serius memikirkan masalah-masalah pendidikan. Al-Ghazali merupakan figur yang dapat dijadikan acuan keteladanan dalam dunia pendidikan, kerena Beliau mempunyai perhatian khusus terhadap masalah pengembangan sumber daya manusia yang berpangkal pada masalah pendidikan moral. Artinya dalam menjalankan tugas kekhalifaan di muka bumi, manusia harus terdidik secara moral supaya peran yang dilakukan benar-benar sejalan dengan ajaran Ilahi, dan bukan mengikuti segala kemauan yang mengarah pada perusakan dan kehancuran[37].
Keadaan dan kondisi umat Islam sekarang ini, hampir diserang oleh berbagai kemunduran banyak persoalan, mulai ekonomi, hukum, sosial, politik, kepemimpinan tidak terkecuali Pendidikan. Semua itu terjadi  bersumber pada penyelenggaraan pendidikan yang belum benar, baik manajemen, metode, sistem khususnya pada kurikulum. Dengan demikian jika umat Islam kembali kepada Pendidikan multi kompleks, komprehensif, atau Pendidikan Integrarif yang pernah dirintis oleh para pemikir pendidikan Islam kita baik local atau manca negara, keberhasilan itu dapat terulang lagi seperti sekian abad yang lalu.
Nampaknya hal ini mulai sudah disadari oleh para cendikiawan muslim terutama yang berada di dunia Pendidikan Tinggi, contohnya berubahnya IAIN menjadi UIN atau banyaknya bermunculan Universitas Islam menandakan kebangkitan Pendidikan Integratif.




[1] As Sayid Ahmad Al Hasyimi, Muchtar al- Hadis an Nabawiyah, Semarang, Usaha keluarga,hal.17
[2] Dr.  H.  Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta, Grafindo, hal. 59
[3] Dr. H.  Abuddin Nata, op cit.  hal.  60
[4] Dr. H. Abuddin Nata.  Op cit, hal 62
[5] Dr. H.  Abuddin Nata, MA, Op cit, hal 66
[6] Dr. H.  Abuddin Nata, MA, Op cit, hal.  66
[7] Dr. H. Abuddin Nata, MA, Ibid hal.  66
[8] Dr. Hasan Asari, MA, Humanisme dan Pendidikan Islam,Refleksi Historis,Jakarta,Gaya Media Pratama, hal.  19
[9] Dr. H.  Hafni Ladjid, Pengembangan Kurikulum menuju KBK, Jakarta, Ciputat press,hal 2.
[10] Dr. H. Abuddin Nata,MA, op cit.  hal.  70
[11] Dr. H. Abuddin Nata, MA, Op cit, hal 71
[12] Dr. Abuddin Nata, MA, Op cit.  hal 72
[13] Ibnu Sina, Tis’u Rasa’il, Mesir, Dar al- Ma”rif , hal.  231
[14] Ibnu Sina, Op cit.  hal.  342
[15]  Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Op cit, hal  12
[16] Prof. Dr.  H. Ramayulis, Filsafat Pendidkan Islam, Jakarta, Kalam mulia, hal.  281
[17] Prof. Dr.  H. Ramayulis, Ibid, hal.  281
[18] Prof.  Dr.  H.  Ramayulis, Op cit.  hal 282
[19] Abd. al- rahman ibn Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Tahqiq Ali Abd al Wahid Wafi, Cairo,Dar-al Nandahah t.t. jilid I hal. 10-11  lihat juga Prof.Dr.H.Rumayulis op cit. hal 283
[20]  Prof. Dr.H.Rumayulis Op cit. Hal. 284
[21]  Prof. Dr. H. Rumayulis, Ibid, hal 284
[22] Prof.Dr.H.Ramayulis, Ibid, hal. 284
[23] Ahmad Fu’ad al- Ahwani, al – Tarbiyah fi al- Islam, Mesir,Dar al – Ma’arif hal.218,lihat juga Dr.Samsul Nizar Filsafat Pendidikan Islam ……. Hal. 285
[24] Prof. Dr. H. Ramayulis, Op cit, hal 286
[25] Dr. Samsul Nizar , MA, Op cit, hal. 286
[26] Dr.Samsul Nizar, MA, Ibid, hal.286
[27]  Dr.Samsul Nizar, MA, Op cit, hal.361
[28]  Prof.Dr.H. Ramayulis, Op cit, hal 364
[29] Prof. Dr. H. Ramayulis, Op cit, hal. 368
[30] Dr. Samsul Nizar, MA, Op cit,hal.370
[31] Dr.Samsul Nizar, MA, Ibid 370
[32] Dr. Samsul Nizar, MA, Op cit, hal 372
[33] Dr. Samsul Nizar, MA, Op cit, hal 377
[34] Dr.Samsul Nizar, MA, Op cit, hal. 387
[35] Dr. Mahfud, Pribadi yang pintar dan benar, materi kultum bagi kaum terdidik,Surabaya, Prima mustka, hal. 13
[36] Dr. Muhammad Tholhah Hasan, Diskursus Islam Kontemporer, Listafariska Putra, Jakarta, hal. 55
[37] Dr.H.Bashori Muchsin , M.Si,ctc, Pendidikan Islam Kontemporer, Bandung, Refika Aditama,hal.54

MERAJUT PENDIDIKAN INTEGRATIF


Manusia adalah makhluk Allah yang telah diciptakan dalam bentuk paling sempurna, sebuah kenyataan yang sepatutnya disyukuri dan dinikmati. Ayat Al-Quran menegaskan bahwa kesempurnaan manusia tersbut karena dilatarbelakangi oleh berbagai macam karakter yang tidak dimiliki makhluk lain. Sedikitnya ada empat karakter yang melekat erat daam diri manusia, yaitu fitrah, nafs, qalb, dan aql. Menurut Quraisy Shihab, sebagaimana disinyalir dari pendapat Muhammad ibn Asyur dikemukakan bahwa fitrah adalah bentuk dan system yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada diri setiap manusia yang berkaitan dengan aspek jasmani dan akal (ruh) nya. Manusia berjalan dengan kaki, melihat dengan mata, dan lain sebagainya menrupakan fitrah jasadiyahnya, senang menerima nikmat dan sedih jika ditimpa musibah juga sebagai fitrah ruhaniyah yang melekat erat pada diri manusia[1].
Oleh karena itu manusia dijadikan Allah SWT. sebagai khalifah, yaitu sebagai subjek dan pelaku langsung dalam mengisi kehidupan dan sekaligus menggali semua potensi alam ini dengan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan mereka. Tugas ini sangat berat, karenanya makhluk lain menolak bahkan malaikat pun meragukan kemampuan manusia dalam mengemban tugas sebagai khalifah di atas dunia. Sebab dengan berbekal nafsu, mereka akan sukar mengontrol emosinya untuk berbuat curang dan tindakan kriminal. Statement malaikat tersebut langsung direspon oleh Allah dalam Al-Quran:

و واذ قال ربك للملا ئكة إ ني جا عل في الارض خليفه قا لوا أ تجعل فيها من يفسد
   فيها و يسفك الد ما ء ونحن نسبح بحمد ك ونقد س لك قال إ ني أعلم ما لا تعلمون ( البقرة    )

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau  Tuhan berfirman ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak ketahui[2]’.

Islam sebagai agama samawi yang telah diciptakan langsung oleh Allah SWT. tentu saja mengetahui dengan pasti tentang kebutuhan hidup pemeluknya baik yang berkaitan dengan urusan dunia terlebih urusan akhirat. Guna mencapai dan memperoleh kehidupan keduanya dibutuhkan sarana dan prasarana hidup yang lengkap dan memadai bagi manusia dan itu bisa didapati jika ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang bisa diandalakan kemampuannya. Karena kebutuhan keduanya dipersiapkan secara garis besar sehingga memerlukan pengkajian dan pemahaman yang mendalam (syariat) sementara itu yang  berhubungan dengan kebutuhan hidup dunia harus mengikuti perkembangan Teknologi (science). Disinilah faktor ilmu Pengetahuan berperan penting dalam peradaban manusia, baik ilmu Syariat atau ilmu Umum (modern sciences). Korelasi kedua Ilmu tersebut seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, artinya tidak  adanya perbedaan dan yang lebih penting, baik Al-Qur’an atau Hadist tidak memilih antara ilmu yang wajib dipelajari dan yang tidak.Seperti Allah SWT. sudah mengisyaratkannya dalam Al Qur’an, bahwa jika manusia ingin mengetahui kekayaan alam ini baik yang dibumi, laut, udara, tidak akan berhasil kecuali dengan ilmu pengetahuan. Jika kita memahami secara dalam  dapat dipahami bahwa ilmu itu mempunyai netralitas, tidak melihat bangsa, ras, keturuuan bahkan status sosial. Oleh karna itu Islam menghukum wajib kepada para umatnya mendalami ilmu pengetahuan tanpa melihat dan membedakan apakah ilmu umum atau agama, keduanya dibutuhkan.  
  ي يا معشر الجن والانس ان استطعتم ان تنفذوا من اقطا ر السموات والارض فا نفذوا لا تنفذون الا با السلطا ن   ( الرحمن     )
      
Artinya: Hai golongan jin dan manusia, jika kamu mampu untuk mangarungi sempadan-sempadan langit dan bumi silahkan harungi, tetapi kamu tidak akan mampu mengarunginya, kecuali dengan kekuatan ( QS. 55:33)[3].

Dalam Hadist Nabi Muhammad SAW. telah memotivasi umatnya bahkan menjadi kewajiban pribadi dalam mempelajari ilmu pengetahuan diantaranya adalah  beliau bersabda:
           ا طلبوا العلم ولو با ا لصين فا ن طلب العلم فريضه على كل مسلم  (  رواه الديلمي عن ام سلمة )    
Artinya : Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negri cina, sesungguhnya mencari ilmu pengetahuan adalah wajib bagi setiap muslim[4].

Dalam satu kesempatan Syaidina Ali  beliau memperingatkan kita bahwa untuk mencapai kesuksesan hidup yang prima (dunia-akhirat) diperlukan pribadi yang berkualitas dan sarat dengan ilmu pengetahuan (SDM).
من اراد الدنيا فعليه با العلم ومن اراد الاخرة فعليه  با العلم  ومن اراد هما فعليه با العلم  (  قا ل علي كرم الله وجه )                 
Artinya: Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia maka haruslah dengan ilmu,barang siapa yang menghendaki kebahagiaan akhirat maka haruslah dengan ilmu dan barang siapa menghendaki keduanya haruslah juga dengan ilmu[5]

Dengan begitu dalam Islam tidak ada pemisahan ilmu agama dan ilmu umum (dikotomi) jadi tidak ada perbedaan orang yang menuntut ilmu agama ditinggikan derajatnya dan mereka yang menuntut ilmu umum tidak diberi derajat oleh Allah SWT. Tentu saja yang dimaksud derajat disini ulama juga memberikan batasan, namun pada prinsipnya yang dimaksud derajat adalah nilai lebih yang tidak dirasakan dan dimiliki oleh mereka yang tidak memperoleh ilmu pengetahuan. Diakui atau tidak umat Islam sekarang mengalami kemunduran dan tertinggal dari dunia barat, khususnya di Indonesia. Hal ini terjadi karena dalam Pendidikan Islam sendiri masih menghadapi pola pikir dikotomik, yakni dikotomisme antara urusan duniawi-ukhrawi, akal-wahyu, iman-ilmu, Allah, manuisa-alam, dan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Seharusnya umat Islam lebih sensitif membaca penomena alam yang sangat cepat bergerak dan berubah meniggalkan manusia jika tidak dinamis. Coba kita lihat alam dengan sejuta dinamikanya tidak pernah berhenti. Dengan kata lain Allah SWT. tidak pernah berhenti bekerja dan berkarya dengan kesempurnaan ilmunya,sehingga tidak pernah mengalami distorsi dan ketinggalan sesuai perkembangan dan kebutuhan mahluk.Secara Institusi isyarat ini mestinya dicermati oleh umat Islam khususnya dalam dunia penidikan. Ali Asyraf menyebutkan pendidikan yang dikotomik tadi, menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran multi kompleks mulai dari kemunduran ekonomi, politik, hukum, budaya, teknologi dengan disiplin keilmuannya.
Pendidikan dan seterusnya sebagai krisis yang dialami pendidikan Islam, disebabkan pemisahan keilmuan yang cukup lebar, seolah-olah ilmu pengetahuan dan teknologi dipandang tidak menyebabkan ketakwaan dan kesalehan seseorang[6].
Jika diamati secara seksama pernyataan tersebut menimbulkan akibat umat Islam terjebak dalam pemaknaan yang tidak utuh terhadap struktur ilmu, sehingga timbul anggapan bahwa yang wajib dipelajari hanyalah ilmu agama, sementara ilmu umum dianggap sekuler dan tidak wajib dipelajari. Dalam sejarah Universitas Islam tertua Al Azhar, Al-Mushthanshiriyah di Bagdad, bahkan IAIN di Indonesia pun terkena pola pikir, dalam masyarakat juga secara individu kesan orang sudah terkavling oleh dikotomi ilmu, sehingga Pesantren dan Madrasah yang mewakili Pendidikan umat Islam secara kelembagaan mendapat sorotan sebelah mata karna dianggap lembaga pendidikan nomor dua (inferior) yang tidak menjanjikan masa depan dan kurang mampu membaca kebutuhhan dan tidak marketable. Masyarakat Islam banyak yang memilih Lembaga Pendidikan Umum karena menjanjikan, membanggakan, superior dan marketable. Kerugian ini bukan saja dari sisi regenerasi tetapi juga dari Pembinaan dan Penyebaran dakwah. Dikotomi ilmu menyebabkan ketertinggalan umat Islam amat jauh di bidang Sains, Ilmu terapan dan Teknologi (IPTEK). Ketertinggalan ini hampir melanda seluruh Negara yang mayoritas berpenduduk Islam. Sehingga dalam persaingan ekonomi, budaya, politik kita tidak mampu mengalahkan mereka  bahkan selalu menjadi obyek sikap terjangnya. Eropa Utara, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru yang protestan, Eropa Selatan dan Amerika Selatan yang katolik, Eropa Timur yang katolik ortodoks, Israel yang Yahudi, India yang Hindu, Singapura, Cina, Korea, Taiwan, Hongkong yang Bhuddis konfusialis, juga Jepang dan Thailand yang Bhuddis terus melaju meninggalkan kita, terutama Umat Islam Indonesia. Padahal Nabi pernah memberikan isyarat ketika terjadi dialog dengan petani kurma, Beliau bertanya kenapa korma ini bagus dan besar tidak seperti biasanya, petani tersebut menjawab bahwa aku kawinkan antara satu jenis dengan jenis lainnya (asimilasi). Mendengar jawaban ini bersabda:
               انتم اعلم با امور دنيا كم   ( راوه  مسلم  )
            Artinya:  Anda lebih tahu dengan urusan dunia anda sendiri

Kalimat singkat ini menggambarkan kepada umat Islam bahwa untuk membangun dan mengelola bumi ini membutuhkan Teknologi yang bersumber dari Ilmu Pengetahuan dan itu bagian dari kesalehan seorang muslim. Dengan demikian  Pendidikan Integratif dalam dunia Pendidikan Islam yaitu menyatukan dan memadukan Ilmu Agama dan Ilmu Umum (Syariah-Sains) terus dibangun jangan dipisahkan, dikotomi ilmu dalam pendidikan Islam harus segera dihentikan, sehingga umat ini tidak terus menerus berkubang dalam keterpurukan yang tidak berujung.Jadi segala yang mengarah kepada integrasi ilmu dalam pendidikan Islam harus disambut baik dan terus dikembangkan dan berkelanjutan mulai dari pendidikan dasar sampai tingkat Pendidikan Tinggi. Hal ini sebenarnya bukan dikarenakan perkembangan peradaban,tetapi didorong oleh semangat Islam yang berangkat dari semangat Al Qur’an dan Hadist dan praktek para Tokoh dan ilmuan Islam terdahulu. Umat Islam perlu meninjau ulang format pendidikan Islam nondikotomik melalui upaya pengembangan struktur keilmuan yang Integratif. Salah satu bentuknya adalah berubahnya Institut Agama Islam Negri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negri (UIN) yang dimotori oleh Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taher pada awal tahun 1996. Pertimbangan dengan langkah cerdas dan cepat tsb.dengan alasan agar dalam Pendidikan Tinggi Islam bukan saja ilmu agama yang dipelajari tetapi juga ilmu umum. Seperti yang Penulis sampaikan diatas bahwa kemajuan teknologi  tidak dapat dibendung karma terus mengalir, tetapi harus dihadapi dengan sumber daya manusia yang handal dan berpikir progresif. Inilah tugas para cendikiawan muslim dengan melakukan Ijtihad pemikiran  melalui Pendidikan Tinggi Islam yang Integratif.
Jika ditarik benang merahnya maka nampak semakin jelas bahwa Pendidikan Integratif sejalan dengan apa yang diamanahkan oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, karena keduanya bertujuan membangun peserta didik khususnya pada jenjang Pendidikan Tinggi yaitu membentuk Insan Akademika yang prima baik kemampuan Agama (Syariat) atau Teknologi (Kauniyat). Perpaduan Intelegensia Question (IQ) dan Spritual Question (SQ) tidak bisa dipisahkan, inilah tujuan akhir dari  penyelenggaraan Pendidikan.
Bangsa kita yang dikenal religi. Jika generasi mendatang tidak dipersiapkan secara cermat terutama produk Pendidikan Tinggi maka sulit bagi bangsa ini bisa menyejajarkan dengan Negara lain, kuncinya adalah semakin dirapatkan antara kelompok ilmu profan yaitu ilmu-ilmu keduniaan yang kemudian melahirkan perkembangan Teknologi dan Sains di hadapkan dengan Ilmu–ilmu Agama pada sisi lain.
Jabatan khalifah yang dibebankan kepada manusia sangatlah tepat karena pada diri manusia terdapat potensi berpikir  sebagai modal mengembangkan dan mengolah dunia. Tentu saja semuanya baru berhasil jika didukung oleh teknologi.
Ada satu hal yang tidak dimiliki oleh makhluk lain yaitu kemampuan akal. Dari sinilah manusia mampu berkreasi, berkarya dan berinovasi sehingga memunculkan peradaban dan kebudayaan yang terus berkembang. Kata aql dalam literature Al-Quran tidak dikemukakan secara langsung, yang ada hanyalah bentuk kata kerja masa kini dan lampau. Namun dari konteks ayat-ayat yang menggunakan kata aql dipahami antara lain daya untuk memahami dan menggunakan sesuatu pekerjaan yang dapat merubah suasana yang direncanakan[7]. Terkadang seringkali akal juga digunakan pada hal yang negatif.
Jalaluddin Rahmat, dalam salah satu tulisannya mengemukakakn,bahwa terdapat dua komponen pokok yang membedakan hakikat manusia dengan hewan lainnya yaitu, potensi untuk mengembangkan iman dan potensi untu mengembangkan ilmu. Dari sini dapat disimpulkan, manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, makhluk biologis dan psikologis (spiritual)[8]. Oleh karenanya dalam konteks kehidupan, manusia mempunyai tingkat kebutuhan dan peranan yang berbeda dari makhluk Allah yang lain senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan keadaan dan tingkat kebutuhan, kesemuanya itu diatur secara detail dalam nash (Al-Quran dan Hadits). Ataupun kebijakan yang dibuat manusia.
Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan di Republik ini adalah dalam rangka membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani sebagaimana yang disebut dalam pasal 3 USPN.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi mansuia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berbudi luhur, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab[9].
            Bila dicermati secara seksama, banyak sekali tindakan kriminal atau asusila di negeri ini yang dilakukan  justru oleh orang yang berpendidikan seperti korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), penyalahgunaan jabatan, pengembangan anggaran (mark up) baik pada lembaga Negara, DPR, pengadilan, kejaksaan, kepolisian bahkan sudah merambah kepada dunia pendidikan. Pemandangan ini sangat ironis, satu sisi tujuan pendidikan kita sangat bagus dan idealis, namun pada kenyataannya, atau aplikasi lulusannya jauh panggang dari api. Bila dibiarkan ini terus berlangsung, bisa jadi kita akan mengalami kemunduran dan tertinggal dengan Negara berkembang lainnya, bahkan akan jatuh terpuruk karena Negara ini diisi oleh birokrat dan pemimpin yang tidak mempunyai nurani yang bersih, pekerja yang salah, dan birokrat yang tidak amanah. Dalam hal ini tidak mungkin Pemerintah lewat Undang-undang Pendidikan Nasionalnya mampu mengatasi secara baik secara sendirian, sebab sangat terbatas kemampuan pemerintah, baik dari segi sumber daya manusia (SDM), konseptor pendidikan, finansial, atau metode pendidikan yang memang terus berkembang.
            Penulis dapat melihat permasalahan ini, dengan melibatkan organisasi keagamaan yang sudah mapan terutama Muhammadiyah. Karena organisasi yang satu ini sudah banyak berbuat dan memebrikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Persoalannya adalah sambutan dan sikap serta apresiasi pemerintah belum maksimal, sehingga kebijakan dan konsep yang ditawarkan tidak berjalan dengan mulus, bahkan terhambat penyelenggaraannya baik pada tingkat perekrutan (recruitment) atau konsep yang ditawarkan, belum lagi adanya persaingan tidak positif antar lembaga pendidikan swasta bahkan antar lembaga pendidikan Islam. Jelas semua itu akan menghambat terjadinya perekrutan tenaga pendidik yang mempunyai akar pengetahuan yang brilian dan dasar agama yang dapat diandalkan. Dalam bahasa akademis diistilahkan dengan ‘Ulama yang intelektual, dan Intelektual yang ulama’. Inilah yang Penulis maksudkan dengan pendidikan Integratif (Kaffah).
Sebenarnya gagasan menjadikan pendidikan Islam dapat menghasilkan lulusan yang komplit tersebut sudah digagas pada masa Menteri Agama pada masa Orde Baru, yaitu banyak lulusan Strata Satu atau Dua yang belajar ke luar negeri untuk memajukan daya analisa dan kritis terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia, khussnya pada pelayanan birokrasi dan konsep penyelenggaraan Negara termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Bahkan pada tingkat sekolah menengah adanya Madrasah Aliyah Plus, dimana para siswanya diberikan pendidikan umum lebih besar dari pendidikan agamanya, jadi hampir mirip dengan pendidikan Sekolah Menengah Umum. Kebijakan ini mendapat reaksi keras dari masyarakat sebab dianggap akan meghilangkan tujuan pendidikan Madrasah Aliyah, yaitu tetap pada pendalaman ilmu keagamaan tetapi tidak tertingal dalam pendidikan umum.
Pertanyaan kita adalah dapatkah para ormas Islam khususnya Muhammadiyah membangun kembali pendidikan Integratif  yang pernah dibangun. Jika dapat seperti apa konsep yang ditawarkan dan bagaimana system pembelajarannya, serta dari mana model pendidikan tersebut dilaksanakan. Apakah mulai dari Taman kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi atau dari Sekolah Menengah dan berakhir pada Perguruan Tinggi, atau cukup pada waktu menjalani pendidikan tingkat Kesarjanaannya. Semua itu memerlukan pemikiran yang baik dan sangat komprehensif, sebab satu dan lainnya saling terkait, apalagi berhubungan dnegan pembentukan karakter (character building), nampaknya tidak bisa ada unsur yang dilompati apalagi hilang. Sebab mengakibatkan hasilnya tidak maksimal berupa tidak mendatangkan pengaruh terhadap perkembangan jiwa seseorang, sehingga terjadilah generasi yang tidak memiliki kompetensi yang baik bahkan akan menjadikan persoalan baru dalam membangun bangsa ini.
Islam sebagai ajaran yang sesuiai dengan fitrah manusia bukan saja mengatur ubudiyah tetapi juga mengatur kepada umatnya dalam hal yang berhubungan dengan mualamah. Bahkan dalam menempatkan seseorang dalam bekerja atau ditugasi dalam posisi jabatan diharuskan mereka yang memang ahli dan professional di bidangnya. Ini sangat modern, manajemen apapun setuju denagn konsep tersebut sebab tidak mengundang kepada kolusi dan perekrutan tenaga berdasarkan kolega (kerabat, teman, saudara dst). Tetapi sekali lagi mengedepankan kemampuan semata sebab nabi Muhammad SAW. dalam haditsnya bersabda:
إذا وسد الأمر في غير محله فانتظر الساعة.   ( رواه  البخا ري )
“Apabila suatu urusan di tempatkan pada seorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancuran”[10].


            Degradasi moral bangsa kita terutama para birokratnya dewasa ini mengalami masalah besar, hampir melanda di setiap lini pemerintahan dan lembaga sosial maka timbul lah ketimpangan sosial pada sektor riil. Problema lain para pengelola Negara mempunyai tugas ganda yaitu satu sisi sebagai tokoh partai dan di sisi lain sebagai seorang birokrat. Sementara para pelakunya dominan mereka yang haus jabatan dan mencari keuntungan pribadi dan kelompok saja, maka manipulasi jabatan dan kebijakan selalu mengarah kepada keuntungan dan kelanggengan jabatan. Seolah Negara ini milik mereka akibat yang timbul, tidak sedikit masyarakat dari kalangan tertentu terus tertinggal baik pendidikan, atau status sosialnya mereka terpaksa tidak dapat menikmati kekayaan Negara seperti hasil bumi, mineral, laut, hutan, gas, dan seterusnya. Mengapa terjadi? Karena yang mengurus Negara ini baik eksekutif, yudikatif, dan legislatif masih jauh pengamalannya dari nilai-nilai keagamaan karena kering naluri kerohaniannya.
            Secara sosial, Negara adalah kumpulan antara pemimpin dan rakyat yang mengajarkan mereka untuk bersikap toleran dan harus tolong menolong dalam setiap tindakan, karena hakikatnya mereka mempunyai fungsi yang saling menguatkan. Jadi untuk melihat bagus dan buruk suatu Negara dilihat dari kerjasama antara ulama dan umara. Jika keduanya baik maka Negara tersebut bisa kondusif dan system pemerintahan bisa berlangsung sehat. Adanya penyimpangan material dan kebijakan dikarenakan diantaranya sudah tidak ada lagi kepercayaan. Terutama dari umara ynag merasa lebih penting, pintar dan memegang kekuasaan. Dalam Islam pengaturan sebuah komunitas baik local atau Negara dibangun atas kerjasama yang baik antara ulama dan umara. Penguasaan di tangan satu orang tidak mungkin menghasilkan hasil yang maksimal dan membawa kesejahteraan umat. Dalam hadits nabi dikatakan:
صنفان من الناس إذا صلحا صلح كله و إذا فسدا فسد كله العلماء و الأمراء. (  رواه ابو نعيم وديلمي ) 
“Ada dua golongan dari manusia apabila keduanya baik maka baiklah manusia tersebut, dan apabila keduanya jahat maka rusaklah manusia tersebut, yaiut ulama dan umara”[11]

            Walaupun syariat mendorong individu untuk berkarya secara menerus, namun Al-Quran dan hadits juga mengakui bahwa sebagai makhluk sosial mempunyai kekurangan, semua itu dapat disempurnakan melalui pendidikan. Dengan pendidikanlah manusia mampu meningkatkan imajinasi, inovasi,dan kreatifitas dalam mengelola bumi ini, termasuk membentuk tatanan masyarakat yang sesuai dengan hukum dan kehendak Allah SWT.  jauh dari intrik negatif yang dapat merugikan dirinya, orang lain, bahkan bangsa dan negaranya.
Dari uraian penjelasan tersebut di atas, kiranya sangat tepat jika kesejahteraan masyarakat dengan berbagai macam aspek kehidupannya yang menjadi tujuan utama system masyarakat Islam salah satu syaratnya adalah dilayani oleh masyarakat yang mempunyai kemampuan lengkap, cerdas, pandai dan professional di bidangnya namun dikuatkan pada pribadi yang kuat dengan jiwa agama, keshalehan, dan amanah. Coba kita lihat ketika Rasulullah SAW. mampu membentuk masyarakat yang berubah total dari masyarakat kasar, bodoh, temperamental, garang, hukum rimba dan tidak bertauhid menjadi masyarakat yang lemah lembut, santun, kasih sayang, penyabar, taat hukum dan bertauhid. Demikian pula ketika para sahabaat melanjutkan kepemimpinan tersebut, kuncinya adalah adanya kecakapan mental dan spiritual yang tinggi dalam pribadinya. Kesemuanya itu didapat melalui pendidikan kaffah dan tempaan Rasulullah SAW. secara komprehensif, sehingga mereka mempunyai kepribadian yang menguntukngkan bagi masyarakat.









[1] M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’I atas pelbagai Persoalan Umat, Bandung, Mizan , hal. 285
[2] Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama, Jakarta, yayasan Penerjemah Al-Quran, 1993, hal. 13
[3] Departemen Agama, Op cit, 885
[4] Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Muhtarul Ahadis, Semarang, Usaha keluarga, hal. 23
[5] Universitas Muhammadiyah Jakarta,,Buku Panduan,, Ciputat,UMJ Press, 32,
[6] Abd. Rahman Assegaf, Pendidikan Islam Integratif, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, th. 2005, hal. 9
[7] Op. Cit., hal. 290
[8] Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarak, Metodologi Study Islam, Bandung, PT Remaja Rosda Karya, hal.209, 2007
[9] Departemen Pendidikan Republik Indonesia, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Jembatan, hal. 15, 2003
[10] Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Loc. Cit., hal. 17
[11] Ja’far Amir, Dua Ratus Hadits Pilihan, Semarang, Toga Putra, hal. 6, 1975
[12] Dep.Pendidikan Nasional,UU Sistim pendidikan nasional,Jakarta,biro hokum diknas,h.15 2006
[13] Dr.Z. Abidin Ahmad, Memperkembang & Mempertahankan Pend.Islam, Bln Bintang,hal.25
[14] Dr.Z.Abidin Ahmad, of cit, 65
[15] Dr.Z. Abdidn Ahmad, ibid, 65
[16] Prof.Dr.A.Malik Fajar, Mencari Laboratorium Ulama, Jakarta, UMJ Press, Hal. 75
[17] Prof.Dr.A.Malik Fajar, ibid. 75
[18] Prof.Dr.A.Malik Fajar, of cit, 78
[19] Prof.Dr.HAR.Tilaar.Manajmen Pendidikan Nasional,Bandung, Rosda Karya,hal. 94
[20] Prof.Dr.HAR Tilaar, of cit. 97
[21] Dr.Samsul Nizar, MA, Rekonstruksi Pendidikan Islam....... jakarta,Gaya Media, hal 56.
[22] Dr.Samsul Nizar, of cit. 60

EKSISTENSI PENDIDIKAN INTEGRATIF

Secara normatif-konseptual, dalam Islam tidak terdapat dikotomi ilmu pengetahuan. Baik dalam Al-Quran atau Al Hadist tidak memilih dan membedakan mana ilmu yang wajib dipelajari dan tidak. Orang yang mempeljari ilmu akan mendapat derajat yang tinggi Allah Swt. berfirman 
يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجت  ( المجا دله       )
 
               Artinya : Allah akan meninggikan Orang-orang yang beriman diantaramu dan Orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat  (Q.S . 58:11).

 Disamping itu pula Nabi besar Muhammad SAW. bersabda:
 
      طل طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمةا   (   رواه ابن عبد البر عن أ نس  )                                               
Artinya: Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap Muslim baik laki atau perempuan.

Dengan demikian kita dapat memahami bahwa tidak berarti ilmu agama (Syari’ah) wajib dipelajari, sementara ilmu umum (Modern Sciences) tidak wajib, atau mereka yang Cuma menuntut ilmu agama saja yang diangkat derajatnya oleh Allah SWT., sementara yang bergelut dalam ilmu umum tidak. Dalam hal ini yang  menjadi ukuran pasti adalah ketauhidan seorang ilmuan,  jika beriman tentu berbeda dengan yang tidak beriman.
 
Dari aspek keutuhan ilmu para tokoh Muslim, Ulama terdahulu juga telah membuktikan tidak adanya pemisahan dalam ilmu untuk dipelajari, semuanya diperlukan.  Sebagai contoh Al Kindi adalah seorang Filosuf dan sekaligus agamawan, demikian pula Al Farabi, Ibnu shina, selain ahli dibidang kedokteran, filsafat, psikologi, musik, beliau juga ulama, Ibnu Khaldun selain seorang ahli dalam bidang ilmu ekonomi, sosiologi, matematika, juga seorang yang sangat luas pandangan ilmu agamanya.  Indonesia juga memiliki Tokoh- tokoh seperti itu diantaranya Muhammad Nasir, KH. Ahmad Dachlan, KH. Hasim Asy’ari, yang akan penulis uraikan lebih jauh pada para tokoh pendidikan integratif.
 
Dalam dataran konsep ideal, Islam diyakini sebagai agama yang memiliki ajaran sempura, artinya seluruh aspek kehidupan diatur secara komprehensip dan menyeluruh, memang Al-Quran dan Hadis membuatnya secara global (ijmali) Islam memuat semua system ilmu pengetahuan, tidak ada dikotomi dalam aturan keilmuan Islam, disinilah diperlukan ketajaman berpikir dari cendikiawan muslim. Dalam hal ini pengembangan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intrinsik dan inheren dalam ajaran Islam.  Tumbuh dan berkembangnya akal pikiran yang menghasilkan kebudayaan Islam yang tinggi pada abad pertengahan seperti yang dikatakan Sayyed Hossein Nasr tidak lain disebabkan adanya pandangan kesatuan dalam keseluruhan ajaran Islam.  Dalam konteks pendidikan pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa untuk membuat peradaban ilmu pengetahuan yang tinggi dimana dunia Islam pernah mengalaminya terutama pada masa daulah Abbasyiah dan Umayah diperlukan para cendikiawan yang bukan saja dalam ilmu agamanya, tetapi juga luas ilmu umumnya. Adanya perpaduan ke dua ilmu, baik ilmu ukhrawi yang mengatur ibadah, ada juga ilmu duniawi yang mengatur urusan hubungan anatar manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
 
Namun yang terjadi sebaliknya, muncul pemisahan antara kelompok ilmu profan yaitu Ilmu-ilmu keduniaan yang kemudian yang melahirkan perkembangan sains dan teknologi dihadapkan pada Ilmu-ilmu agama pada sisi lain. Maka timbulah istilah dan peneglompokan, ilmu agama kemudian disebut sebagai ilmu Islam, sementara ilmu sains dan teknologi disebut ilmu umum.
Akibatnya, dalam waktu yang cukup panjang bahkan beberapa dekade persoalan dikotomi ilmu yang dihadapi oleh dunia islam terus dan tidak berhenti dan selalu dihadapi oleh perbedaan antara ilmu Islam dan non Islam, ilmu barat dan ilmu timur. Terutama dalam pendidikan lebih jauh dikotomi ini merambah kedalam sistim pendidikan Islam, munculnya dikotomi sekolah umum pada satu sisi dan sekolah madrasah yang merupakan perwakilan sekolah agama .
 
Agar dapat dicapai konsep keutuhan ilmu, sesuai dengan semangat dalam Al-Quran dan Hadis, serta praktik para ulama terdahulu, umat Islam perlu meninjau ulang format pendidikan Islam nondikotomik melalui upaya pengembangan struktur keilmuan yang integratif. Yang dimaksud integratif disini adalah keterpaduan kebenaran wahyu (burhan qauli) dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta (burhan kauni). Dikatakan struktur keilmuan integratif di sini bukanlah berarti antara berbagai ilmu tersebut dilebur menjadi satu bentuk ilmu yang identik, melainkan karakter, corak, dan hakikat antara ilmu tersebut terpadu dalam kesatuan dimensi material-spritual, akal–wahyu, ilmu umum-ilmu agama, jasmani-rohani, dan dunia- akhirat. Sehingga terjadilah hubungan yang saling terkait antara satu ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan lain. Dalam memahami wahyu baru bisa menghasilkan yang optimal ketika didukung oleh akal dan segala perangkat, atau hasil kerja akal. Sementara itu akal sendiri tidak mungkin selamat cara kerjanya bila tidak didukung oleh wahyu.
 
Coba kita lihat kenapa para ilmuan barat menjadi sekuler ketika berhadapan dengan ilmu pengetahuan, dan beranggapan bahwa itu hasil karya murni yang dilakukannya. Sebab yang berperan disini adalah dominasi akal belaka, tidak didasari oleh wahyu, sehingga semakin maju teknologi yang diperolehnya,maka semakin sombong dan congkak mereka. Integratif juga berarti harus ada kesatuan antara ilmu kauniyah dengan syari’ah. Umat Islam  Indonesi yang majemuk sangat rentan pola pikirnya jika saja tidak di barengi dengan pendidikan yang integratif  yaitu pendidikan umum yang diberikan harus dibarengi dengan ilmu agama, karena pada hakekatnya penemuan dan karakteristik pengetahuan bersumber dari yang satu yakni ilmu Allah SWT.  Sehingga tidak mungkin ada pertentangan di dalamnya.
 
Penemuan-penemuan Sains semakin dalam akan menjadi nilai lebih spritual, orang semakin dekat dan yakin tentang kekuasaan Allah SWT. dan juga sebaliknya, mereka yang tidak dilandasi oleh nilai keimanan. Masa lalu orang mengatakan IQ (intelegensi Quistion) paling unggul dalam meraih prestasi akademis, namun kini tidak demikian lagi. Ia dianggap cuma menyumbang sepuluh prosen dalam kecerdasan,  di mana sisanya didominasi oleh SQ (Spritual Quistion) dan EQ (Emotional Quistion).
 
Persoalan kita dalam pendidikan memang akut, jika kita diam saja terhadap dikotomi keilmuan yang kita alami, maka keadaan tidak akan banyak membantu bagi kemajuan. Disadari atau tidak umat Islam dunia manapun mayoritas tengah berada dalam kondisi tertinggal dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi, hal ini disebabkan system, metode, sumber daya manusia (SDM), kurikulum yang labil, sarana-prasarana, belum lagi kebijakan pemerintah yang gonta ganti ditambah kepentingan politik kualitas pendidikan kita masih rendah dibanding system pendidikan barat.
 
Pendidikan tinggi Islam sebagai motor penggerak dan tempat memproduksi para intelektual yang handal dan mampu bersaing, sudah selayaknya maju pada garis terdepan mengatasi ketertinggalan ini.  Penulis mencermati perubahan IAIN (Institut Agama Islam Negri) berubah menjadi UIN (Universitas Islam Negri) sebagai bagian dari implikasi gagasan tentang konsep integrasi ilmu dalam pendidikan Islam. Harun Nasution sangat mendukung pengembangan IAIN menjadi UIN. Intinya dikatakan, sangat mendukung pembentukan UIN.
 
Sehingga dalam lembaga pendidikan Islam tidak terjadi dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum, atau penyelenggaraan pendidikan yang dualistik. Di zaman yunani kuno, para saintis dan filosofnya mengembangkan pemikiran rasional tanpa terikat dengan agama apapun. sehingga, timbulah sains dan filsafat yang sekularistik,  kemudian di zaman klasik Islam (650–1250 M) dilakukan upaya Islamisasi terhadap tradisi keilmuan yunani tersebut, sekaligus perumusan pendidikan yang integratif antara pengetahuan umum dan agama oleh para tokoh muslim. Baik barat atau Islam keduanya pernah mengalami masa-masa sulit karena terjadinya dikotomi ilmu, khususnya dalam peradaban Islam pada abad pertengahan (1250-1800 M) dimana para fuqoha memegang peranan penting dan sangat berpengaruh pada dunia pendidikan Islam.
 
Sementara di barat terjadi sekularisme. Dunia Islam mengalami kemunduran karena belum mampu mengatasi dikotomi ilmu dan dunialistik, padahal bahaya dikotomi belum tentu tidak lebih berbahaya dibanding paham yang berkembang di dunia barat yang semua diukur dengan otak dan kebendaan.
 
Gelombang Islamisasi ilmu yang mulai ditelaah ulang sejak Konferensi Pendidikan Islam se-dunia di Makkah pada tahun 1977, lalu di Islamabad pada tahun 1980 dan 1981, serta di Indonesia pada 1983, dimana hasilnya merekomendasikan dikembangkannya pendidikan Islam yang non dikotomik,  dengan mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum dalam sebuah ilmu Universitas Islam. Lebih lanjut, Islamisasi ilmu pengetahuan, menurut Faruqi, menghendaki adanya hubungan timbal balik antara realitas dan aspek kewahyuan. Dalam konteks ini, untuk memahami nilai-nilai kewahyuan, umat Islam harus memanfaatkan ilmu pengetahuan. Tanpa memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memahami wahyu, umat Islam akan tertinggal oleh umat lainnya. Karena realitasnya, saat ini, ilmu pengetahuanlah yang amat berperan dalam menentukan tingkat kemajuan umat manusia. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, sarat dengan ilmu pengetahuan,memerlukan pemikir-pemikir Islam yang brilian, yakni yang mampu menerjemahkan pesan wahyu kepada kehidupan manusia dengan berbagai aspeknya, seperti nilai-nilai keimanan, kemanusiaan, peradaban dan ilmu pengetahuan.
 
Dengan demikian, dikotomi ilmu dalam pendidikan Islam harus segera diberhentikan, sehingga umat Islam tidak terus menerus terperosok dalam keterpurukan, ketertinggalan baik kalam ekonomi, politik, teknologi, pendidikan, serta hukum. Segala usaha dan upaya yang mengarah pada pendidikan integratif , menghilangkan dikotomi ilmu, harus didukung dan disambut baik, agar dapat tercapai konsep kesatuan ilmu sesuai dengan garis-garis dan kehendak Al-Quran dan Hadis.  Nabi Muhammad SAW. bersabda
        تركت فيكم امرين لن تضيلوا ابدا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نب  (  رواه الحا كم )

Artinya : Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan mengalami kesesatan selamanya selama berpegang teguh kepada keduanya yaitu Al-Quran dan Hadis.
Jaminan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. sudah pasti kebenarannya, sebab Beliau  dalam bertutur kata bukan kehendak pribadinya, atau ada motivasi kepentingan, namun semata berdasarkan wahyu Allah SWT. 
 
Seharusnya umat Islam tidak boleh tertinggal dengan umat lain, sebab segala sesuatunya sudah tertata rapi, tinggal bagaimana kita mampu menyikapinya.  Jika kita berpandangan bahwa Islam telah mengatur semua kehidupan secara komprehensif, mestinya di barengi oleh sikap yang mampu mengembangkan ajaran Islam seperti yang telah dirintis oleh pendahulu kita, dimana mereka mampu mengembangkan pesan-pesan wahyu dengan bahasa ilmu pengetahuan sehingga terciptalah perkembangan ilmu yang begitu pesat.
 
Dunia Islam kini sama saja yakni dalam kondisi kemunduran semua keseluruhan secara keseluruhan, sementara itu para ilmuan  dunia barat masih merujuk pada karya Ibnu Khaldun, kita mengatakan itu hal yang biasa, ketika barat mengambilnya dianggap sebagai hal yang baru. Sebaiknya kita tidak boleh apologi menganggap kita hebat namun sebatas bicara, kita harus siap dalam berbagai aspek kalau mau maju, inilah kata kuncinya. Kita memiliki masalah tersendiri karena mempunyai masalah tersendiri, disebabkan sekian lama kita dihadapkan pada pemisahan dalam hal keilmuan. Jika ada kemaun keras dan berusaha secara menerus tanpa adanya dikotomi keilmuan maka akan dapat teratasi persoalan tersebut, memang butuh waktu lama dengan terus mengembangkan pendidikan integratif terutama pada dunia Pendidikan Tinggi Islam.
 
Inilah salah satu alasan para tokoh ilmuan dan pendidikan kita mempertahankan pendapatnya untuk merubah IAIN menjadi UIN, sebab dari sinilah akan timbul ilmuan muslim yang bukan saja mengusai ilmu keagamaan yang bisa dijamin kualitasnya, tetapi kemampuan sains dan teknologinya tidak kalah dengan tehnokrat barat. Semuanya baru bisa terbukti dan terleasisasi melalui pendidikan integratif di mana pengkajian syari’at dan sains dalam satu atap.
 
Salah satu kelemahan umat Islam dalam mengembangkan dan membangun tradisi keilmuan yang integratif sehingga mampu menimbulkan peradaban baru adalah bertumpu pada kerenggangan antara pemerintah dengan para ilmuan. Tidak disadari bahwa konflik keduanya menimbulkan tersendatnya pembentukan sumber daya manusia yang terampil dalam pembangunan sebuah Negara. Ini artinya yang paling dirugikan adalah umat Islam, karena mayoritas di republik ini tercinta Kelemahan lain kita belum mempunyai system yang baik. Banyak orang pintar kita tidak bisa berbuat apa-apa di negeri sendiri, namun dapat menyumbangkan sains dan teknologinya di barat. Kenapa, karena belum adanya acuan, aturan dan cara terbaik yang bisa menampung dalam bentuk sarana-prasarana. Perubahan baru bisa setelah adanya perubahan pemikiran. Kenapa barat bisa bergerak cepat dan meninggalkan kita, padahal mereka banyak belajar dari para ilmuan Islam, bahkan sampai sekarang. Kerena mereka mempunyai system yang lebih baik dari kita. Jika retorika saja yang dikedepankan tanpa system,maka kita akan terus kalah.
 
Pendidikan Islam Integratif berupaya memadukan dua hal yang sampai saat ini masih diperlakukan secara dikotomik, yaitu mengharmoniskan kembali relasi wahyu-akal, dimana perlakuan secara dikotomik terhadap keduanya telah mengakibatkan keterpisahan pengetahuan agama dengan pengetahuan umum.  Dari sini lalu muncul anggapan bahwa ilmu yang wajib ’ain dipelajari adalah ilmu agama, sementara bidang ilmu umum hanya wajib kifayah, artinya cukup perwakilan saja yang mengerjakan. Bila ini yang menjadi ukuran tidak mungkin kita bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan yang tidak bertepi dengan dunia barat.
 
Sebagai contoh dalam satu komonitas daerah dimana penduduknya jutaan orang, dari sisi kesehatan umpanya cuma seorang yang belajar kedokteran.  Dalam hukum pardu kifayah sudah gugur yang lain kewajibannya. karena sudah terwakili, tetapi dari segi manfaat dan kebutuhan sudah pasti tidak berimbang, sehingga kesehatan, gizi, pola makan, rumah tinggal, sanitasi dan lain-lain tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Umat Islam seharusnya mencermati dengan bijak, sebab yang dimaksud dengan pardu kifayah disini bukanlah pada pengertian kualitatif, tetapi lebih mengarah pada penekanan obyek hukum. Oleh karena itu bukan berarti jika lebih dari seorang yang mengerjakan menjadi kesalahan, justru disinilah kreatifitas umat Islam di tuntut berpikir kritis dan antisipatif.
 
Bidang ilmu yang berkarakteristik integratif sudah barang tentu memiliki interkoneksitas antar bagian keilmuannya. Walaupun begitu, masing-masing disiplin ilmu tetap memiliki karakter dan posisi tersendiri yang dapat dibedakan dengan yang lain. Sebab antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya mempunyai perbedaan dan karakter-identitas sendiri-sendiri, tetapi dalam tataran implementasi masing-masing ilmu tersebut saling berkaitan.
 
Terlepas dari persoalan tersebut,tahap pertama penyusunan konsep kesatuan ilmu dalam pemikiran Islam adalah mengkaji secara menyeluruh asal-usul ilmu khususnya akar ilmu itu sendiri.  Akar ilmu pendidikan dapat ditelusuri dari manusia yang bertindak sebagai subyek, atau ada hal yang diketahui di luar subyek. Pada tahap berikutnya untuk menyusun kembali struktur ilmu pendidikan Islam, maka konsep pendidikan Islam harus dibedakan melalui dua pendekatan. Pertama, pendidikan Islam yang dipandang sebagai suatu benda (obyek eksistensial) dan kedua pendidikan Islam dipandang sebagai suatu proses.
 
Pengertian pendidikan Islam sebagai suatu benda itu sendiri dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu benda dalam arti lembaga pendidikan dan benda dalam arti ilmu pendidikan. Semua pendekatan tersebut harus diamati dengan cermat sehingga terjadinya acuan dalam upaya pengembangan struktur keilmuan pendidikan Islam. Melihat masalah-masalah pendidikan Islam yang cukup kompleks, maka sebenarnya masalah-masalah itu tidak mungkin dapat dipecahkan sekedar melalui perluasan (ekspansi) linear dari sistem pendidikan yang ada, juga tidak bisa dipecahkan dengan jalan penyesuaian teknis administratif di sana-sini. Bahkan, tidak bisa diselesaikan pula dengan pengalihan konsep pendidikan dari teknologi pendidikan yang berkembang dengan pesat. Yang diperlukan sekarang adalah meminjam kembali konsep dan asumsi yang mendasari seluruh sistim pendidikan Islam, baik secara makro maupun mikro.
 
Dengan begitu pendekatan yang dilakukan bertujuan pendekatan yang bersipat situasional. Sebab pendidikan Islam berusaha mempersiapkan generasi Islam agar dapat menjawab segala tantangan, tuntutan kehidupan, serta perkembangan zaman dengan teknologinya secara manusiawi. Inilah pendekatan principal yang tidak dapat lagi di tawar. Karena itu, diperlukan pendekatan inovasi yang obyektif dan kreatif agar dengan demikian tercipta usaha-usaha pendidikan berdasarkan kepentingan anak didik, masyarakat Islam, dan umat manusia secara keseluruhan.
 
Singkatnya, seperti yang dikatakan Winarno Surakhmad  yaitu diperlukan pendekatan yang lebih intelegen terhadap masalah kependidikan masa depan. Dengan segala uraian yang penulis paparkan, semakin menampakkan bagi kita masyarakat Islam bahwa pendidikan Islam Integratif bukan sekedar model, tetapi kebutuhan. Terutama dari Pendidikan Tinggi Islam, sebagai motor penggerak dan memproduk ilmuan dan inteletual yang matang syari’ah dan sainsnya. Semoga!